:Rimba Raya:

Friday || MEMANDANG MASYARAKAT SEKITAR HUTAN SEBAGAI AHLI WARIS HUTAN


Manusia sudah mulai merubah kondisi lingkungan bumi sejak beratus-ratus tahun yang lalu. Pada permulaan zaman sejarah, manusia menggunakan alat-alat sederhana untuk berburu dan berkumpul, dan kemudian menggunakan alat yang lebih kompleks ketika sumber daya alam bisa dieksplotasi. Akhirnya terjadi kepunahan suatu tumbuhan, hewan dan bahan mineral yang terkandung di dalam bumi akibat tindakan eksploitasi yang berlebihan dan tidak memperhatikan kondisi perubahan alam yang akan terjadi setelah tindakan eksploitasi selesai dilakukan.

Perubahan sosial dalam peradaban manusia dari masyarakat primitif (tak berbudaya) menjadi masyarakat agraris dan kemudian saat ini mencoba untuk menjadi masyarakat industrialis, telah memaksa eksploitasi Sumber Daya Alam (SDA) secara besar-besaran diseluruh belahan bumi Indonesia. Eksploitasi tersebut telah mengorbankan jutaan hektar hutan tropis Indonesia yang memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi (mega biodiversity).

Hutan tropis Indonesia selama lebih dari setengah abad (pasca kemerdekaan), telah dikuras secara besar-besaran demi kelancaran proses pembangunan untuk kesejahteraan masyarakat. Namun pada kenyataannya kegiatan eksploitasi ini hanya mensejahterakan segelintir orang saja (cukong kayu, penyelundup, dan oknum aparat). Masyarakat, terutama masyarakat sekitar hutan hanya mendapatkan ekses negatif yang menimbulkan penderitaan. Hilangnya keanekaragaman hayati dan timbulnya bencana alam berupa banjir, tanah longsor dan kebakaran hutan merupakan konsekuensi yang harus diterima masyarakat akibat pengelolan alam dan lingkungan hidup yang tidak berasaskan kelestarian.
- - - - - - -

Tidak dilibatkannya masyarakat dalam pengambilan keputusan dan kegiatan pengelolaan hutan merupakan salah satu masalah yang dapat menghambat terciptanya pembangunan atas nama kesejahteraan yang telah mengorbankan berjuta-juta hektar hutan tropis Indonesia. Peran serta aktif masyarakat, terutama masyarakat sekitar hutan, mutlak diperlukan agar dapat menciptakan eksploitasi SDA yang terkontrol dan mampu menghasilkan nilai tambah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Tanpa dilibatkannya masyarakat secara aktif dalam kegiatan pengelolaan hutan, maka bullshit hutan Indonesia mampu memberikan kontribusi nyata untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Ketika peran masyarakat masih hanya sebagai penonton, dapat dipastikan kerusakan hutan Indonesia akan semakin menjadi-jadi dan penderitaan masyarakat pun juga akan semakin menjadi-jadi pula.

Jika bencana alam yang diakibatkan oleh eksploitasi secara besar-besaran terjadi, maka masyarakatlah yang pertama kali akan mendapatkan dampak bencana alam tersebut. Perkembangan terakhir yang bisa kita lihat di Pulau Sumatera yaitu, Provinsi Jambi dan Riau merupakan wilayah “kubangan” pada musim hujan dan juga merupakan wilayah “knalpot” pada musim panas. Selain dua Propinsi tadi, Sumatera Utara merupakan calon penerima gelar sebagai wilayah “kubangan dan knalpot”. Jika Dinas Kehutanan Propinsi dan Kabupaten serta segenap stake holder dan decisión maker tidak segera berbenah diri dengan melibatkan seluruh komponen masyarakat yang potensial diajak sebagai mitra dalam menekan semakin tingginya laju kerusakan hutan di Propinsi ini, maka dapat diprediksi bahwa 5 tahun ke depan, Sumatera Utara pasti akan memperoleh gelar sebagai wilayah “kubangan dan knalpot”.

Kemudian di Pulau Kalimantan berdasarkan perkembangan terbaru, Kabupaten Kutai Propinsi Kalimantan Timur ternyata 75 persen daratannya telah berubah menjadi wilayah “danau pasang surut” yang entah kapan surutnya. Sudah lebih dari 2 minggu, masyarakat di Kabupaten yang pernah menjadi salah satu Kerajaan yang disegani di Asia ini harus mengungsi ke tempat-tempat yang tinggi dan tidak terendam air. Bahkan tidak sedikit diantara mereka yang harus mengungsi ke luar Kabupaten.
- - - - - - -

Apa yang salah…??? Ternyata selama ini pola dan konsep kegiatan eksploitasi yang dilakukan di negara ini hanya memandang kebutuhan manusia Indonesia yang ada sekarang. Padahal seharusnya semua kegiatan pengelolaan yang dilakukan dalam pemanfaatan SDA dan lingkungan hidup adalah untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia saat ini dan menjamin terpenuhinya kebutuhan dan kelangsungan hidup generasi yang akan datang. Hal ini merupakan asas kelestarian yang lebih popular dengan istilah SFM (Sustainable Forest Management). Pengelolaan yang demikian juga sejalan dengan istilah konservasi.

Segala macam kegiatan yang dilakukan dalam hal pemanfaatan alam dan hasil-hasilnya harus selalu bertujuan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Untuk menciptakan kemakmuran tersebut, maka masyarakat sudah seharusnya dilibatkan agar memiliki senses of belonging terhadap lingkungan alamnya. Dalam Bab III dan IV Undang-Undang No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, posisi masyarakat sudah sangat jelas dengan pengaturan hak, kewajiban dan peran sertanya. Dalam Bab X UU No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan juga telah diatur bagaimana seharusnya peran serta masyarakat dalam bidang kehutanan.

Namun sayangnya sampai saat ini masyarakat belum bisa mengambil peranannya sesuai dengan kebijakan yang berlaku. Hal ini terjadi karena dalam prakteknya kebijakan lokal yang dikeluarkan oleh Pemerintah Daerah tidak memfasilitasi masyarakat untuk dapat berperan serta dalam semua aspek pengelolaan SDA dan lingkungan hidup. Sudah menjadi kenyataan bahwa masyarakat cenderung sebagai penonton dan bisa juga sebagai korban dari eksploitasi SDA yang berlangsung di lingkungannya.

Jika hal ini tidak segera dibenahi oleh Pemerintahan Kabinet Indonesia Bersatu yang bertugas selama periode 2004-2009 ini, maka dikhawatirkan bangsa Indonesia akan sangat serius menghadapi masalah perpecahan bangsa akibat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah yang sudah berada pada level paling bawah sehingga mengakibatkan tidak adanya sense of belonging terhadap bangsa dan negara Indonesia.
Melihat kenyataan yang bukan sekedar fenomena, namun merupakan realitas dari pemaparan di atas, maka sudah saatnya seluruh komponen bangsa Indonesia berprilaku arif dalam memandang kesinambungan kehidupan di bumi dan mampu memperbaiki kondisi alam khususnya hutan dan segala isinya, dengan semangat dan jiwa baru yaitu semangat dan jiwa konservasi. Konservasi mutlak diperlukan jika manusia masih ingin menghirup udara bersih, meminum air yang bersih dan menikmati pemandangan alam yang sangat luar biasa.
- - - - - - -

Sudah sangat banyak konsep pengelolaan SDA yang berasaskan kelestarian ditawarkan oleh para ahli yang kompeten di bidang ini. Tinggal bagaimana pemerintah sebagai aparatur negara mau untuk merubah kesalahan kebudayaan pemerintah yang bercirikan top-bottom menjadi bottom-top dalam pembuatan dan pelaksanaan suatu kebijakan pengelolaan SDA dan Lingkungan Hidup.

Satu petuah bijak dari para pendahulu kita mungkin bisa sedikit mengetuk hati nurani bangsa yang kondisi alamnya semakin hari semakin parah ini. “Manusia bisa menaklukkan kehendak siapa saja yang ada di bumi ini, namun manusia tidak bisa menaklukkan kehendak Tuhan dan menaklukkan kehendak alam”. Demikianlah kira-kira kata-kata bijak para pendahulu kita yang telah terlebih dahulu mengenal alam ini. Sedikit kalimat tersebut adalah kepedulian dari generasi sebelum kita untuk dapat meyakinkan kita bahwa bersahabat dengan alam itu sangat indah dan sangat mulia. Itu merupakan warisan berharga yang merupakan anugerah jika kita dapat memaknainya lebih mendalam. Pertanyaannya sekarang adalah : “Apa yang akan kita wariskan kepada generasi setelah kita…?”


PERWIRA RIMBA |2:19 PM
========================================================


:jeritan rimba raya:

Teringat puluhan tahun silam, Negeriku penuh dengan hutan rimba. Setiap jengkalnya ada rahmat Tuhan, ada kedamaian, ada kebahagiaan, untuk manusia dan untuk semua mahluk hidup yang ada di dalamnya.

Rimbaku adalah paru-paru dunia, berikan udara segar tanpa pernah minta dibayar. Berikan ribuan liter air bersih dengan rasa kasih. Berikan tanah subur, agar hidup kita jadi makmur. Berikan semua yang dia punya kepada kita manusia, tanpa pernah mengharap bintang balas jasa.

Namun beberapa waktu kemudian keadaan telah berubah. Disana-sini terjadi keserakahan. Ada orang-orang tidak bertanggung jawab ingin kuasai dunia dan menghalalkan segala macam cara. Hutan-hutan dibabat dan dibumihanguskan, hewan-hewan dibinasakan, diburu dan dipenjarakan.

Setiap detik, setiap menit, setiap detak jantung dan denyut nadiku, kudengar ribuan pohon dalam hutanku bertumbangan, menggelegar bagaikan suara petir, pecahkan gendang telingaku. Suara gergaji mesin nyanyikan nada-nada kepunahan, untuk bangsa-bangsa satwaku. Mereka berlari, mereka menjerit, mereka ketakutan. Namun kemana mereka akan pergi...?. Mungkinkah mereka bersembunyi dalam jurang kepunahan di sana...?

Lihat...! Coba kita lihat... Saksikan tanah-tanah tandus dan gersang itu. Itu dahulu adalah surga satwaku. Namun kini, surga itu terganti oleh kebun-kebun sawit yang kering kerontang. Tak ada sungai mengalir di sana. Pohon-pohon rindang di sana, telah lama jadi tunggul-tunggul arang yang hitam. Diam, dan tak akan pernah berbisik lagi.

:about me:


  • Name: Mulyadi Pasaribu
  • A.K.A.: Adi, Moel, MP3
  • Birth: Jakarta, Dec 3rd 1982
  • Religion: Christian
  • Hobbies: Attempting New Things
  • Personality: Friendly & Active
  • Affiliation: Youth Movement & Conservation
  • :contact:

  • Address 1: Jl. Karya Wisata Medan 20143, Sumatera Utara
  • Address 2: Jl. Medan Km. 6 No. 68 Pematang Siantar 21143, Sumatera Utara
  • Mobile: +62 81 533 737 533
  • Campus: Forestry Department - University of North Sumatra
  • e-mail: co_rimba@yahoo.com
  • mIRC: co-rimba
  • Friendster: Rimbawan Kecil
  • Milis: sylva_indonesia & id-inform
  • :latest activity:

    Volunteer for Sumatran Orangutan Society-Orangutan Information Centre (SOS-OIC) Medan, North Sumatra

    Ketua GMKI Komisariat Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara

    Koordinator Kelompok Kerja Informasi dan Komunikasi Tim Riset Partisipatif GMKI Cabang Medan

    Koordinator Sylva Indonesia Forum Regional I Aceh-Sumut

    :blooming:

    :past:

    :links 2 me:

    [X] Friendster Profile
    [X] Friendster Blogs
    [X] GuestBook
    [X] Forums

    :links:

    [X] Youth Christian
    [X] Environment
    [X] Orangutan
    [X] Sylva Indonesia

    Youth in Action

    Solidaritas untuk anak Indonesia

    Support Green Peace





    :tagboard:

    :credits:

    Powered by Blogger

    [X] Blogger
    [X] BlogSkins
    [X] Clone

    Listed on BlogShares

    :others:

     

    ASAH OTAK

     

    Topik :

     

    Nama

    Taman Nasional

    di Indonesia