:Rimba Raya:

Thursday || SEKILAS TENTANG HUTAN TANGKAHAN

Nama Tangkahan mungkin masih cukup asing bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Jangankan di Indonesia, di Sumatera Utara sendiri Tangkahan masih merupakan tempat yang jarang didengar orang, kecuali untuk orang-orang yang bergerak dalam bidang konservasi.

Hutan Tangkahan masih merupakan bagian dari Kawasan Ekosistem Leuser. Kawasan hutan ini merupakan salah satu habitat asli dari Orangutan Sumatera. Sebagai habitat Orangutan, data-data yang menjelaskan mengenai keberadaan Orangutan di lokasi ini masih sangat kurang.

Hutan Tangkahan terletak di Desa Namo Sialang, Kecamatan Sei Serdang, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Daerah ini memiliki hamparan hutan hujan tropis dataran rendah yang sangat luas dan kaya akan keanekaragaman hayati.

Untuk mencapai lokasi Tangkahan dari Ibukota Propinsi Sumatera Utara yaitu Medan, diperlukan waktu sekitar 7-8 jam dengan menggunakan angkutan Bus umum.


PERWIRA RIMBA |12:22 AM
========================================================

Monday || PENYELAMATAN HUTAN

Program penyelamatan hutan bertujuan untuk melestarikan fungsi dan kemampuan sumber daya alam hayati dan lingkungan hidup. Rehabilitasi hutan dan lahan kritis sangat mendesak untuk direalisasikan.

Untuk mengembalikan kawasan hutan yang rusak menjadi normal merupakan pekerjaan yang sulit dan butuh waktu panjang. Sangat sulit melakukan reboisasi terhadap hutan yang gundul dan rusak tersebut. Namun demikian berbagai upaya pelestarian dan pengamanan sumber daya hutan melalui rehabilitasi lahan dan reboisasi hutan, penyuluhan, patroli rutin, dan operasi gabungan terus dilakukan, meski diakui belum mampu mencegah tindak perusakan.

Hasil analisis menunjukkan telah terjadi ancaman serius tehadap keberadaan keanekaragaman hayati dan lingkungan antara lain : kebakaran hutan, kekeringan dan punahnya aneka flora dan fauna yang ada. Kendala yang ada selama ini, kurangnya kepedulian terhadap lingkungan sekitar yang menyebabkan sering terjadi kerusakan lingkungan.

Semua komponen masyarakat ikut bertanggung jawab. Sebab kerugian akan ditanggung semua pihak. Jika terjadi kerusakan di kawasan hutan maka akan berdampak terhadap kehidupan seluruh aspek. Mungkin 10 atau 20 tahun mendatang Indonesia akan menjadi gersang dan kekeringan tanpa adanya hutan yang dahulu sering kita banggakan sebagai pari-paru dunia. Saat ini setiap menit hutan kita telah digunduli seluas 6 x lapangan bola. Kalau bukan kita siapa lagi yang akan peduli dengan keadaan hutan dan lingkungan hidup kita.


PERWIRA RIMBA |12:22 AM
========================================================

Tuesday || CAGAR ALAM DOLOK TINGGI RAJA

CA Dolok Tinggi Raja terletak di Desa Dolok Merawan Kecamatan Tapian Dolok Kabupaten Simalungun Propinsi Sumatera Utara. Kawasan ini telah dilindungi sejak tahun 1924 melalui keputusan bersama raja-raja Simalungun. Luas keseluruhan CA ini adalah 167 Hektar.

Untuk mencapai lokasi kawasan konservasi ini, ada dua alternatif perjalanan darat yang bisa ditempuh, yaitu :
- Medan – Lubuk Pakam – Tebing Tinggi – Dolok Tinggi Raja, dengan jarak 110 km atau waktu tempuh 3 jam perjalanan.
- Medan – Lubuk Pakam – Galang – Dolok Masihul – Dolok Tinggi Raja, dengan jarak 97 km atau waktu tempuh yang hampir sama dengan alternatif di atas.

Kawasan ini merupakan hutan hujan tropis dataran rendah yang subur dan hijau dengan komposisi tegakan pohon yang beraneka ragam. Potensi flora yang tumbuh di kawasan ini didominasi oleh Meranti Bunga (Shorea parfivolia), Kenari (Cannarium sp.), Malu Tua (Tristia sp.) untuk jenis pohon dan jenis perdu terdiri dari Rotan (Calamus sp.), Anggrek (Bulbophylum sp.), Kantung Semar (Nephentes sp.), serta Pandan (Pandanus, sp.).

Potensi faunanya berdasarkan penelitian terakhir tahun 1999 tercatat lebih dari 45 jenis satwa liar, diantaranya sudah dilindungi, yaitu Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), Babi hutan, Kancil, Kijang, Rusa, Kambing Hutan, Siamang, bermacam jenis monyet dan reptil, dan juga Beruang Madu. Namun jenis fauna yang paling sering dan paling mudah dijumpai adalah Burung Rangkong.

Keunikan yang khas dari kawasan CA ini adalah potensi sumber air panas yang berasal dari endapan-endapan kapur yang terbentuk dari proses panas bumi yang mengandung belerang sehingga membentuk teras-teras tanah kapur berbukti, dengan luas mencapai 35 hektar. Aliran air panas yang menyatu dengan air sungai sering dimanfaatkan untuk mandi-mandi karena airnya terasa hangat-hangat kuku.
Fenomena alam yang cukup unik akibat adanya panas bumi yang aktif ini, dapat berpindah-pindah tempat. Bukit-bukit hasil endapan kapur yang terlihat sudah tidak aktif lagi, sewaktu-waktu dapat kembali aktif. Hal ini menunjukkan kondisi panas bumi dan bukit-bukti kapur tersebut tidak stabil. Ketidakstabilan inilah yang menjadikan perlindungan kawasan menjadi sangat penting untuk tetap dijaga kelestariannya, demi kestabilan ekosistem hutan dan kawasan sekitarnya.


PERWIRA RIMBA |8:07 PM
========================================================

Sunday || CAGAR ALAM MARTELU PURBA

Kawasan ini sebelumnya merupakan hutan lindung yang telah ditetapkan sejak zaman kolonialisme pada tahun 1916 dalam Zeelfbestuur Tanggal 8 Juli 1916. Kemudian dengan Keputusan Menteri Kehutanan No. 471/Kpts-II/1993 Tanggal 2 September 1993, status kawasan beralih fungsi menjadi Cagar Alam dengan luas 195 hektar.

Letak CA Martelu Purba secara administratif pemerintahan terbentang pada 2 desa, yaitu desa Tiga Runggu dan desa Purba Tongah Kecamatan Purba Kabupaten Simalungun Propinsi Sumatera Utara.

Untuk menuju lokasi dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan umum dengan rute perjalanan dari Medan menuju Pematang Siantar dan kemudian menuju desa Tiga Runggu dengan jarak tempuh sekitar 140 km atau 3-4 jam perjalanan.

CA Martelu Purba merupakan CA yang unik, karena sebenarnya istilah alam disini kurang cocok. Hutan yang ada disini bukanlah hutan alam tetapi merupakan hutan buatan hasil tanaman reboisasi. Pada tahun 1980, ketika kawasan masih berstatus sebagai hutan lindung, oleh seorang tokoh kehutanan Sumatera Utara, kawasan ini dipilihnya sebagai lokasi untuk kegiatan reboisasi dengan penanaman dari jenis Meranti (Shorea sp.)

Keberhasilan dari upaya reboisasi tersebut telah membentuk hutan dengan komposisi dari jenis yang sama, yaitu meranti dan menghasilkan hutan hujan tropis dipterokarpus yang seumur dengan strata tajuk hutan yang sama dan menjulang tinggi. Tegakan meranti tersebut saat ini telah mencapai tinggi 28-30 meter dengan diameter batang mencapai 60-80 cm.

Ciri pada hutan ini adalah lapisan tanahnya yang tipis dan akar pohon tak mampu menembus jauh ke dalam tanah, sehingga banyak diantara pohon itu mengembangkan akar penunjang yang menopang batang pohon yang tinggi dan lurus itu.

Kawasan hutan ini berada di tepi jalan raya, bahkan dibelah jalan, sehingga bila kita menggunakan kendaraan pribadi dari dalam mobil sudah dapat diamati pepohonan yang tumbuh. Karena hutan ini sejenis dan seumur, maka dari jauh nampak pemandangan yang indah dengan tajuk merata.

Namun begitu, diantara tegakan pohon meranti juga terdapat jenis pohon aren dan jenis jambu. Potensi flora yang ada pada kawasan ini merupakan asset deposito seumur hidup bagi kelangsungan hidup masyarakat sekitar. Kawasan ini juga berpotensi dalam pengembangan penelitian bidang kehutanan, ekologi, serta untuk mempelajari pepohonan (arboretum).

Peran yang dimainkan oleh kawasan ini sangat penting sekali karena batas antara kawasan dan lahan pertanian masyarakat sangat kontras, karena tidak adanya lagi perantara berupa zona penyangga. Apabila ekosistem kawasan rusak, maka secara langsung akan merusak juga produktifitas tanah dan aktifitas pertanian.

Keberadaan kawasan CA Martelu Purba ini juga merupakan perlindungan bagi kelangsungan habitat berbagai jenis fauna. Beberapa jenis fauna yang menghuni kawasan ini adalah beruang, babi hutan dan juga berbagai jenis burung, diantaranya murai, pergam, perkutut, dsb.


PERWIRA RIMBA |9:37 PM
========================================================

Friday || CAGAR ALAM BATU GAJAH

Kawasan ini ditetapkan bersamaan dengan penetapan perlindungan Cagar Alam Dolok Tinggi Raja yang telah dilindungi sejak tahun 1924 melalui keputusan bersama raja-raja Simalungun, yaitu Zelfbestuur Belsuit 1924 No. 24 Tanggal 18 April 1924 dengan luas kawasan hanya 0,8 hektar. Secara administratif wilayah, kawasan ini terletak di Desa Pematang Kecamatan Dolok Panribuan Kabupaten Simalungun Propinsi Sumatera Utara.


Untuk mencapai CA ini dapat ditempuh rute perjalanan darat, yaitu :
- Medan – Tebing Tinggi – Pematang Siantar – Tiga Dolok (Dolok Panribuan) dengan jarak tempuh 153 km atau waktu tempuh lebih kurang 4 jam.
- Medan – Berastagi – Kabanjahe – Tiga Runggu – Tiga Dolok dengan jarak tempuh 202 km atau waktu tempuh sekitar 5 – 6 jam.
Dari Tiga Dolok, perjalanan masih harus dilanjutkan dengan berjalan kaki sejauh 4 km untuk dapat memasuki lokasi. Jalan setapak menuju lokasi sudah disemen dan dapat dilalui dengan mudah.

Posisi CA Batu Gajah terletak pada sudut pertemuan dua alur sungai, yaitu Sungai Kisat dan Sungai Sipinggan. Konon ceritanya kawasan ini dahulunya merupakan tempat ibadah bagi para penganut kepercayaan spiritual. Pertemuan dua alur sungai merupakan tempat berpusatnya kekuatan supranatural, sehingga lokasi ini dipilih sebagai tempat keramat untuk bertapa.

Perlindungan kawasan Batu Gajah ini dimaksudkan sebagai perlindungan terhadap monumen alam (nature monument). Potensi yang ada di lokasi ini, dalam perkembangannya sekarang merupakan potensi Cagar Budaya, dikarenakan yang lebih utama untuk dilindungi adalah pahatan prasasti peninggalan sejarah yang memiliki nilai historis religius yang sangat tinggi.

Benda-benda bersejarah dimaksud berupa batu-batuan yang berbentuk gajah, katak, ulok (bahasa tapanuli yang berarti ular), dan juga batuan yang berbentuk lesung dan batu berbentuk karang.

Kisah sejarah yang menghiasi peninggalan tersebut merupakan cerita turun-temurun semenjak zaman nenek moyang. Sepasang suami istri dari Marga Purba telah membangun tempat tersebut. Batu tebing besar yang terdapat di lokasi merupakan batu yang dipahat membentuk sebuah bangunan yang merupakan gambaran tempat perlindungan harta yang dijaga oleh seekor gajah dewasa dan seekor ular di bagian atas bangunan. Pada sekelilingnya dikawal oleh para pengawal yang siaga di relung-relung kecil sekeliling bangunan.

Di bagian depan jalan masuk menuju batu bangunan tersebut, terdapat juga sebuah batu gajah berukuran kecil dan pada bagian belakang bangunan, terdapat batu berbentuk katak raksasa serta batu berbentuk kerbau jantan dengan penggembalanya yang digambarkan sedang berjongkok di sebelah kanan kerbau.

Di dalam kawasan CA Batu Gajah juga terdapat berbagai jenis flora, diantaranya adalah Tusam/Pinus (Pinus merkusii), Pulai (Alstonia schollaris), Aren (Arenga sp.), Bambu (Bambusa sp.), Pakis-pakisan dan berbagai jenis tumbuhan bawah lainnya. Selain flora, jenis fauna yang dapat dilihat di kawasan ini adalah jenis mamalia kecil, yaitu musang, tupai, babi hutan, kera dan juga jenis burung tekukur, pergam dan kutilang.


PERWIRA RIMBA |9:34 PM
========================================================


:jeritan rimba raya:

Teringat puluhan tahun silam, Negeriku penuh dengan hutan rimba. Setiap jengkalnya ada rahmat Tuhan, ada kedamaian, ada kebahagiaan, untuk manusia dan untuk semua mahluk hidup yang ada di dalamnya.

Rimbaku adalah paru-paru dunia, berikan udara segar tanpa pernah minta dibayar. Berikan ribuan liter air bersih dengan rasa kasih. Berikan tanah subur, agar hidup kita jadi makmur. Berikan semua yang dia punya kepada kita manusia, tanpa pernah mengharap bintang balas jasa.

Namun beberapa waktu kemudian keadaan telah berubah. Disana-sini terjadi keserakahan. Ada orang-orang tidak bertanggung jawab ingin kuasai dunia dan menghalalkan segala macam cara. Hutan-hutan dibabat dan dibumihanguskan, hewan-hewan dibinasakan, diburu dan dipenjarakan.

Setiap detik, setiap menit, setiap detak jantung dan denyut nadiku, kudengar ribuan pohon dalam hutanku bertumbangan, menggelegar bagaikan suara petir, pecahkan gendang telingaku. Suara gergaji mesin nyanyikan nada-nada kepunahan, untuk bangsa-bangsa satwaku. Mereka berlari, mereka menjerit, mereka ketakutan. Namun kemana mereka akan pergi...?. Mungkinkah mereka bersembunyi dalam jurang kepunahan di sana...?

Lihat...! Coba kita lihat... Saksikan tanah-tanah tandus dan gersang itu. Itu dahulu adalah surga satwaku. Namun kini, surga itu terganti oleh kebun-kebun sawit yang kering kerontang. Tak ada sungai mengalir di sana. Pohon-pohon rindang di sana, telah lama jadi tunggul-tunggul arang yang hitam. Diam, dan tak akan pernah berbisik lagi.

:about me:


  • Name: Mulyadi Pasaribu
  • A.K.A.: Adi, Moel, MP3
  • Birth: Jakarta, Dec 3rd 1982
  • Religion: Christian
  • Hobbies: Attempting New Things
  • Personality: Friendly & Active
  • Affiliation: Youth Movement & Conservation
  • :contact:

  • Address 1: Jl. Karya Wisata Medan 20143, Sumatera Utara
  • Address 2: Jl. Medan Km. 6 No. 68 Pematang Siantar 21143, Sumatera Utara
  • Mobile: +62 81 533 737 533
  • Campus: Forestry Department - University of North Sumatra
  • e-mail: co_rimba@yahoo.com
  • mIRC: co-rimba
  • Friendster: Rimbawan Kecil
  • Milis: sylva_indonesia & id-inform
  • :latest activity:

    Volunteer for Sumatran Orangutan Society-Orangutan Information Centre (SOS-OIC) Medan, North Sumatra

    Ketua GMKI Komisariat Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara

    Koordinator Kelompok Kerja Informasi dan Komunikasi Tim Riset Partisipatif GMKI Cabang Medan

    Koordinator Sylva Indonesia Forum Regional I Aceh-Sumut

    :blooming:

    :past:

    :links 2 me:

    [X] Friendster Profile
    [X] Friendster Blogs
    [X] GuestBook
    [X] Forums

    :links:

    [X] Youth Christian
    [X] Environment
    [X] Orangutan
    [X] Sylva Indonesia

    Youth in Action

    Solidaritas untuk anak Indonesia

    Support Green Peace





    :tagboard:

    :credits:

    Powered by Blogger

    [X] Blogger
    [X] BlogSkins
    [X] Clone

    Listed on BlogShares

    :others:

     

    ASAH OTAK

     

    Topik :

     

    Nama

    Taman Nasional

    di Indonesia