:Rimba Raya:

Sunday || CAGAR ALAM MARTELU PURBA

Kawasan ini sebelumnya merupakan hutan lindung yang telah ditetapkan sejak zaman kolonialisme pada tahun 1916 dalam Zeelfbestuur Tanggal 8 Juli 1916. Kemudian dengan Keputusan Menteri Kehutanan No. 471/Kpts-II/1993 Tanggal 2 September 1993, status kawasan beralih fungsi menjadi Cagar Alam dengan luas 195 hektar.

Letak CA Martelu Purba secara administratif pemerintahan terbentang pada 2 desa, yaitu desa Tiga Runggu dan desa Purba Tongah Kecamatan Purba Kabupaten Simalungun Propinsi Sumatera Utara.

Untuk menuju lokasi dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan umum dengan rute perjalanan dari Medan menuju Pematang Siantar dan kemudian menuju desa Tiga Runggu dengan jarak tempuh sekitar 140 km atau 3-4 jam perjalanan.

CA Martelu Purba merupakan CA yang unik, karena sebenarnya istilah alam disini kurang cocok. Hutan yang ada disini bukanlah hutan alam tetapi merupakan hutan buatan hasil tanaman reboisasi. Pada tahun 1980, ketika kawasan masih berstatus sebagai hutan lindung, oleh seorang tokoh kehutanan Sumatera Utara, kawasan ini dipilihnya sebagai lokasi untuk kegiatan reboisasi dengan penanaman dari jenis Meranti (Shorea sp.)

Keberhasilan dari upaya reboisasi tersebut telah membentuk hutan dengan komposisi dari jenis yang sama, yaitu meranti dan menghasilkan hutan hujan tropis dipterokarpus yang seumur dengan strata tajuk hutan yang sama dan menjulang tinggi. Tegakan meranti tersebut saat ini telah mencapai tinggi 28-30 meter dengan diameter batang mencapai 60-80 cm.

Ciri pada hutan ini adalah lapisan tanahnya yang tipis dan akar pohon tak mampu menembus jauh ke dalam tanah, sehingga banyak diantara pohon itu mengembangkan akar penunjang yang menopang batang pohon yang tinggi dan lurus itu.

Kawasan hutan ini berada di tepi jalan raya, bahkan dibelah jalan, sehingga bila kita menggunakan kendaraan pribadi dari dalam mobil sudah dapat diamati pepohonan yang tumbuh. Karena hutan ini sejenis dan seumur, maka dari jauh nampak pemandangan yang indah dengan tajuk merata.

Namun begitu, diantara tegakan pohon meranti juga terdapat jenis pohon aren dan jenis jambu. Potensi flora yang ada pada kawasan ini merupakan asset deposito seumur hidup bagi kelangsungan hidup masyarakat sekitar. Kawasan ini juga berpotensi dalam pengembangan penelitian bidang kehutanan, ekologi, serta untuk mempelajari pepohonan (arboretum).

Peran yang dimainkan oleh kawasan ini sangat penting sekali karena batas antara kawasan dan lahan pertanian masyarakat sangat kontras, karena tidak adanya lagi perantara berupa zona penyangga. Apabila ekosistem kawasan rusak, maka secara langsung akan merusak juga produktifitas tanah dan aktifitas pertanian.

Keberadaan kawasan CA Martelu Purba ini juga merupakan perlindungan bagi kelangsungan habitat berbagai jenis fauna. Beberapa jenis fauna yang menghuni kawasan ini adalah beruang, babi hutan dan juga berbagai jenis burung, diantaranya murai, pergam, perkutut, dsb.


PERWIRA RIMBA |9:37 PM
========================================================


:jeritan rimba raya:

Teringat puluhan tahun silam, Negeriku penuh dengan hutan rimba. Setiap jengkalnya ada rahmat Tuhan, ada kedamaian, ada kebahagiaan, untuk manusia dan untuk semua mahluk hidup yang ada di dalamnya.

Rimbaku adalah paru-paru dunia, berikan udara segar tanpa pernah minta dibayar. Berikan ribuan liter air bersih dengan rasa kasih. Berikan tanah subur, agar hidup kita jadi makmur. Berikan semua yang dia punya kepada kita manusia, tanpa pernah mengharap bintang balas jasa.

Namun beberapa waktu kemudian keadaan telah berubah. Disana-sini terjadi keserakahan. Ada orang-orang tidak bertanggung jawab ingin kuasai dunia dan menghalalkan segala macam cara. Hutan-hutan dibabat dan dibumihanguskan, hewan-hewan dibinasakan, diburu dan dipenjarakan.

Setiap detik, setiap menit, setiap detak jantung dan denyut nadiku, kudengar ribuan pohon dalam hutanku bertumbangan, menggelegar bagaikan suara petir, pecahkan gendang telingaku. Suara gergaji mesin nyanyikan nada-nada kepunahan, untuk bangsa-bangsa satwaku. Mereka berlari, mereka menjerit, mereka ketakutan. Namun kemana mereka akan pergi...?. Mungkinkah mereka bersembunyi dalam jurang kepunahan di sana...?

Lihat...! Coba kita lihat... Saksikan tanah-tanah tandus dan gersang itu. Itu dahulu adalah surga satwaku. Namun kini, surga itu terganti oleh kebun-kebun sawit yang kering kerontang. Tak ada sungai mengalir di sana. Pohon-pohon rindang di sana, telah lama jadi tunggul-tunggul arang yang hitam. Diam, dan tak akan pernah berbisik lagi.

:about me:


  • Name: Mulyadi Pasaribu
  • A.K.A.: Adi, Moel, MP3
  • Birth: Jakarta, Dec 3rd 1982
  • Religion: Christian
  • Hobbies: Attempting New Things
  • Personality: Friendly & Active
  • Affiliation: Youth Movement & Conservation
  • :contact:

  • Address 1: Jl. Karya Wisata Medan 20143, Sumatera Utara
  • Address 2: Jl. Medan Km. 6 No. 68 Pematang Siantar 21143, Sumatera Utara
  • Mobile: +62 81 533 737 533
  • Campus: Forestry Department - University of North Sumatra
  • e-mail: co_rimba@yahoo.com
  • mIRC: co-rimba
  • Friendster: Rimbawan Kecil
  • Milis: sylva_indonesia & id-inform
  • :latest activity:

    Volunteer for Sumatran Orangutan Society-Orangutan Information Centre (SOS-OIC) Medan, North Sumatra

    Ketua GMKI Komisariat Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara

    Koordinator Kelompok Kerja Informasi dan Komunikasi Tim Riset Partisipatif GMKI Cabang Medan

    Koordinator Sylva Indonesia Forum Regional I Aceh-Sumut

    :blooming:

    :past:

    :links 2 me:

    [X] Friendster Profile
    [X] Friendster Blogs
    [X] GuestBook
    [X] Forums

    :links:

    [X] Youth Christian
    [X] Environment
    [X] Orangutan
    [X] Sylva Indonesia

    Youth in Action

    Solidaritas untuk anak Indonesia

    Support Green Peace





    :tagboard:

    :credits:

    Powered by Blogger

    [X] Blogger
    [X] BlogSkins
    [X] Clone

    Listed on BlogShares

    :others:

     

    ASAH OTAK

     

    Topik :

     

    Nama

    Taman Nasional

    di Indonesia