:Rimba Raya:

Saturday || PERKEMBANGAN KONSERVASI DI INDONESIA

Perubahan sosial dalam peradaban manusia dari masyarakat primitif menjadi masyarakat agraris dan kemudian menjadi masyarakat industrialis, telah memaksa eksploitasi Sumber Daya Alam (SDA) secara besar-besaran diseluruh belahan bumi. Eksploitasi SDA yang terjadi tersebut banyak mengorbankan hutan tropis dunia yang memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi.
"Sumber Daya Alam itu sendiri dapat dibedakan menjadi dua, yaitu: SDA yang dapat diperbaharui atau dapat diisi kembali dan tidak akan habis (renewable resources); dan SDA yang tidak dapat diperbaharui atau tidak dapat dipulihkan kembali sebagaimana keadaan semula (non-renewable resources)."
Indonesia merupakan salah satu negara tropis dengan penutupan kawasan hutan yang sangat luas dan menyimpan potensi SDA yang sangat berlimpah. Hutan Indonesia merupakan paru-paru dunia yang mampu menyerap berjuta-juta ton gas beracun (CO, CO2, H2, dll) dan menghasilkan oksigen yang sangat melimpah bagi kebutuhan semua mahluk hidup di bumi. Hal ini dapat terjadi karena Hutan Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang sangat besar (mega biodiversity). Menurut Anonymous (1997), selain Indonesia negara tropis lain yang juga memiliki keanekaragaman hayati yang sangat besar adalah Brazilia, Zaire dan Meksiko.

Hutan tropis Indonesia selama lebih dari setengah abad telah dikuras secara besar-besaran demi satu kata pembangunan untuk terciptanya kesejahteraan masyarakat. Namun sayangnya kegiatan eksploitasi SDA yang tujuan awalnya untuk mensejahterakan masyarakat ini, pada kenyataannya tidak menerapkan asas kelestarian dan manajemen yang ramah lingkungan, sehingga bukannya mensejahterakan malah menimbulkan bencana yang sangat merugikan kehidupan masyarakat, terutama masyarakat sekitar hutan. Hilangnya keanekaragaman hayati dan timbulnya bencana alam berupa banjir, tanah longsor dan gempa bumi merupakan konsekuensi yang harus diterima akibat pengelolan alam dan lingkungan hidup yang tidak berasaskan kelestarian.
Selain pengelolaan hutan dan kehutanan yang salah, tidak dilibatkannya masyarakat dalam hal pengambilan keputusan dan kegiatan pengelolaan hutan juga merupakan salah satu masalah yang dapat menghambat terciptanya pembangunan atas nama kesejahteraan yang telah mengorbankan berjuta-juta hektar hutan tropis Indonesia. Peran serta aktif masyarakat, terutama masyarakat sekitar hutan, sangat diperlukan agar dapat menciptakan eksploitasi SDA yang terkontrol dan mampu menghasilkan nilai tambah bagi masyarakat untuk kesejahteraan. Tanpa dilibatkannya masyarakat secara aktif dalam kegiatan pengelolaan hutan, maka kerusakan hutan Indonesia akan semakin menjadi-jadi dan suatu saat nanti bencana yang amat sangat dahsyat akan membuka mata kita, akan salah dan tamaknya cara yang kita lakukan untuk mengeksploitasi SDA.
Selama ini pola dan konsep kegiatan eksploitasi yang dilakukan di negara ini hanya memandang kebutuhan manusia Indonesia yang ada sekarang. Padahal seharusnya semua kegiatan pengelolaan yang dilakukan dalam pemanfaatan SDA dan lingkungan hidup adalah untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia saat ini dan menjamin terpenuhinya kebutuhan dan kelangsungan hidup generasi yang akan datang. Hal ini merupakan asas kelestarian yang lebih popular dengan istilah SFM (Sustainable Forest Management). Pengelolaan yang demikian juga sejalan dengan istilah konservasi.
Melihat kenyataan yang bukan sekedar fenomena, namun merupakan realitas dari pemaparan di atas, maka sudah saatnya seluruh komponen bangsa Indonesia berprilaku arif dalam memandang kesinambungan kehidupan di bumi dan mampu memperbaiki kondisi alam khususnya hutan dan segala isinya, dengan semangat dan jiwa baru yaitu semangat dan jiwa konservasi. Konservasi mutlak diperlukan jika manusia masih ingin menghirup udara bersih, meminum air dari sumber air yang bersih dan menikmati pemandangan alam yang sangat luar biasa.


Konservasi dan Ruang Lingkupnya

Berbagai dampak negatif yang harus ditanggung oleh manusia akibat tindakan eksploitatif yang berlebihan, akhirnya baru disadari ketika semuanya telah terjadi. Kesadaran akan dampak buruk dari tindakan eksploitatif ini akhirnya memunculkan gerakan perlawanan berupa perlindungan yang mengarah pada pengawetan (preservation) terhadap sisa-sisa hutan alam.
Di satu sisi, pemanfaatan SDA hayati dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan hidup (ekonomis) manusia, namun di sisi lain diperlukan eksistensi sumber daya tersebut demi keberlanjutan hidup (ekologis) dan pemanfaatannya, sehingga terjadi tarik-menarik antara kepentingan pengawetan dan pemanfaatan sumber daya alam. Hal inilah yang kemudian memunculkan gerakan konservasi di seluruh belahan bumi.
Konservasi merupakan pengelolaan kehidupan alam yang dilakukan oleh manusia guna memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya secara berkelanjutan bagi generasi saat ini, serta memelihara potensinya guna menjamin aspirasi dan kebutuhan generasi yang akan datang. Konservasi bernilai sangat positif jika mampu diterapkan dalam pengelolaan alam dan lingkungan hidup. Konservasi mencakup kegiatan pengawetan, perlindungan, pemanfaatan yang berkelanjutan, pemulihan dan peningkatan kualitas alam dan lingkungan hidup.
Indonesia mendeklarasikan strategi konservasinya berdasarkan pada strategi konservasi dunia yang dikeluarkan oleh IUCN (1980). Strategi tersebut tertuang dalam Undang-Undang No. 5 Tahun 1990. Pokok-pokok strategi konservasi Indonesia tersebut adalah : Perlindungan sistem penyangga kehidupan; Pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya; dan pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.
Berdasarkan Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, kawasan konservasi terdiri atas kawasan Suaka Alam yang terbagi menjadi Cagar Alam dan Suaka Margasatwa dan kawasan Pelestarian Alam yang terdiri dari Taman Nasional, Taman Hutan Raya dan Taman Wisata Alam.

Kegunaan Kawasan Konservasi
Kawasan Suaka Alam
Kawasan ini penting bagi bangsa Indonesia agar dapat menjamin :
- Terpeliharanya terus-menerus contoh hutan alami penting yang dapat dianggap mewakili
- Terjaganya keanekaragaman biologi dan fisik
- Tetap lestarinya keanekaragaman hayati
Kawasan Pelestarian Alam
Disadari atau tidak, kawasan pelestarian alam sangat besar sumbangannya bagi kelangsungan pembangunan dalam hal :
- Memelihara stabilitas lingkungan wilayah sekitarnya, sehingga mengurangi intensitas banjir dan kekeringan, melindungi tanah dari erosi serta mengurangi iklim ekstrim setempat
- Memelihara kapasitas produktif ekosistem, sehingga menjamin tersedianya air serta produksi tumbuhan dan hewan secara terus menerus
- Menyediakan kesempatan bagi kelangsungan penelitian dan pemantauan spesies maupun ekosistem alami serta kaitannya dengan pembangunan manusia
- Menyediakan kesempatan bagi terselenggaranya pendidikan pelestarian untuk masyarakat umum dan para pengambil keputusan
- Menyediakan kesempatan bagi terlaksananya pembangunan pedesaan yang saling mengisi serta pemanfaatan secara rasional tanah-tanah marjinal
- Menyediakan lokasi bagi pengembangan rekreasi dan wisata (BKSDA SU II, 2002)
Melihat sangat banyaknya kegunaan dari sedikit kawasan konservasi yang tersisa, maka tidak ada alasan yang mengharuskan kita sebagai mahluk yang memiliki derajat paling tinggi di mata Tuhan untuk mengabaikan dan bahkan mencoba menghancurkan sisa-sisa kawasan hutan Indonesia. Peran serta kita sebagai masyarakat harus kita pupuk untuk menjamin keutuhan ciptaan Tuhan yang akan berpangkal pada kelestarian alam dan lingkungan hidup di bumi yang kita cintai ini.

Peranan Aktif Masyarakat

Segala macam kegiatan yang dilakukan dalam hal pemanfaatan alam dan hasil-hasilnya selalu bertujuan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Untuk menciptakan kemakmuran tersebut, maka masyarakat sudah seharusnya dilibatkan agar memiliki senses of belonging terhadap lingkungan alamnya. Dalam Bab III dan IV Undang-Undang No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, posisi masyarakat sudah sangat jelas dengan pengaturan hak, kewajiban dan peran sertanya. Dalam Bab X UU No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan juga telah diatur bagaimana seharusnya peran serta masyarakat dalam bidang kehutanan.
Namun sayangnya sampai saat ini masyarakat belum bisa mengambil peranannya sesuai dengan kebijakan yang berlaku. Hal ini terjadi karena dalam prakteknya kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah tidak memfasilitasi masyarakat untuk dapat berperan serta dalam semua aspek pengelolaan SDA dan lingkungan hidup. Sudah menjadi kenyataan bahwa masyarakat cenderung sebagai penonton dan bisa juga sebagai korban dari eksploitasi SDA yang berlangsung di lingkungannya.
Jika hal ini tidak segera dibenahi oleh pemerintahan baru periode 2004-2009 yang akan datang, maka dikhawatirkan bangsa Indonesia akan sangat serius menghadapi masalah perpecahan bangsa akibat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah yang sudah berada pada level paling bawah sehingga mengakibatkan tidak adanya sense of belonging terhadap bangsa dan negara Indonesia.
Sudah sangat banyak konsep pengelolaan SDA yang berasaskan kelestarian ditawarkan oleh para ahli yang kompeten di bidang ini. Tinggal bagaimana pemerintah sebagai aparatur negara mau untuk merobah kesalahan kebudayaan pemerintah yang bercirikan top-bottom menjadi bottom-top dalam pembuatan dan pelaksanaan suatu kebijakan pengelolaan SDA dan Lingkungan Hidup.

Penutup

Manusia sudah mulai merubah kondisi lingkungan bumi sejak beratus-ratus tahun yang lalu. Pada permulaan zaman sejarah, manusia menggunakan alat-alat sederhana untuk berburu dan berkumpul, dan kemudian menggunakan alat yang lebih kompleks ketika sumber daya alam bisa dieksplotasi. Akhirnya terjadi kepunahan suatu tumbuhan, hewan dan bahan mineral yang terkandung di dalam bumi akibat tindakan eksploitasi yang berlebihan dan tidak memperhatikan kondisi perubahan alam yang akan terjadi setelah tindakan eksploitasi selesai dilakukan.
Satu petuah bijak dari para pendahulu kita mungkin bisa sedikit mengetuk hati nurani bangsa yang kondisi alamnya semakin hari semakin parah ini. "Manusia bisa menaklukkan kehendak siapa saja yang ada di bumi ini, namun manusia tidak bisa menaklukkan kehendak Tuhan dan menaklukkan kehendak alam". Demikianlah kira-kira kata-kata bijak para pendahulu kita yang telah terlebih dahulu mengenal alam ini. Sedikit kalimat tersebut adalah kepedulian dari generasi sebelum kita untuk dapat meyakinkan kita bahwa bersahabat dengan alam itu sangat indah dan sangat mulia. Itu merupakan warisan berharga yang merupakan anugerah jika kita dapat memaknainya lebih mendalam. Pertanyaannya sekarang adalah : "Apa yang akan kita wariskan kepada generasi setelah kita…?"







ACUAN PUSTAKA

Balai Konservasi Sumberdaya Alam Sumatera Utara II. 2002. Buku Informasi Kawasan Konservasi di Sumatera Utara. BKSDA SU II, Medan

Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya

Undang-Undang No. 23 Tahun 1997 Tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup

Undang-Undang No. 41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan

Zain, S.A. 1998. Aspek Pembinaan Kawasan Hutan dan Stratifikasi Hutan Rakyat. Rineka Cipta, Jakarta


PERWIRA RIMBA |9:54 PM
========================================================


:jeritan rimba raya:

Teringat puluhan tahun silam, Negeriku penuh dengan hutan rimba. Setiap jengkalnya ada rahmat Tuhan, ada kedamaian, ada kebahagiaan, untuk manusia dan untuk semua mahluk hidup yang ada di dalamnya.

Rimbaku adalah paru-paru dunia, berikan udara segar tanpa pernah minta dibayar. Berikan ribuan liter air bersih dengan rasa kasih. Berikan tanah subur, agar hidup kita jadi makmur. Berikan semua yang dia punya kepada kita manusia, tanpa pernah mengharap bintang balas jasa.

Namun beberapa waktu kemudian keadaan telah berubah. Disana-sini terjadi keserakahan. Ada orang-orang tidak bertanggung jawab ingin kuasai dunia dan menghalalkan segala macam cara. Hutan-hutan dibabat dan dibumihanguskan, hewan-hewan dibinasakan, diburu dan dipenjarakan.

Setiap detik, setiap menit, setiap detak jantung dan denyut nadiku, kudengar ribuan pohon dalam hutanku bertumbangan, menggelegar bagaikan suara petir, pecahkan gendang telingaku. Suara gergaji mesin nyanyikan nada-nada kepunahan, untuk bangsa-bangsa satwaku. Mereka berlari, mereka menjerit, mereka ketakutan. Namun kemana mereka akan pergi...?. Mungkinkah mereka bersembunyi dalam jurang kepunahan di sana...?

Lihat...! Coba kita lihat... Saksikan tanah-tanah tandus dan gersang itu. Itu dahulu adalah surga satwaku. Namun kini, surga itu terganti oleh kebun-kebun sawit yang kering kerontang. Tak ada sungai mengalir di sana. Pohon-pohon rindang di sana, telah lama jadi tunggul-tunggul arang yang hitam. Diam, dan tak akan pernah berbisik lagi.

:about me:


  • Name: Mulyadi Pasaribu
  • A.K.A.: Adi, Moel, MP3
  • Birth: Jakarta, Dec 3rd 1982
  • Religion: Christian
  • Hobbies: Attempting New Things
  • Personality: Friendly & Active
  • Affiliation: Youth Movement & Conservation
  • :contact:

  • Address 1: Jl. Karya Wisata Medan 20143, Sumatera Utara
  • Address 2: Jl. Medan Km. 6 No. 68 Pematang Siantar 21143, Sumatera Utara
  • Mobile: +62 81 533 737 533
  • Campus: Forestry Department - University of North Sumatra
  • e-mail: co_rimba@yahoo.com
  • mIRC: co-rimba
  • Friendster: Rimbawan Kecil
  • Milis: sylva_indonesia & id-inform
  • :latest activity:

    Volunteer for Sumatran Orangutan Society-Orangutan Information Centre (SOS-OIC) Medan, North Sumatra

    Ketua GMKI Komisariat Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara

    Koordinator Kelompok Kerja Informasi dan Komunikasi Tim Riset Partisipatif GMKI Cabang Medan

    Koordinator Sylva Indonesia Forum Regional I Aceh-Sumut

    :blooming:

    :past:

    :links 2 me:

    [X] Friendster Profile
    [X] Friendster Blogs
    [X] GuestBook
    [X] Forums

    :links:

    [X] Youth Christian
    [X] Environment
    [X] Orangutan
    [X] Sylva Indonesia

    Youth in Action

    Solidaritas untuk anak Indonesia

    Support Green Peace





    :tagboard:

    :credits:

    Powered by Blogger

    [X] Blogger
    [X] BlogSkins
    [X] Clone

    Listed on BlogShares

    :others:

     

    ASAH OTAK

     

    Topik :

     

    Nama

    Taman Nasional

    di Indonesia