:Rimba Raya:

Tuesday || MEMAHAMI BERATNYA TANTANGAN TUGAS RIMBAWAN

Indonesia dikenal sebagai salah satu negara yang mempunyai hutan tropika terbesar didunia yang diakui sebagai komunitas yang paling kaya akan keanekaragaman (mega biodiversity) species flora dan fauna di dunia. Hutan bukan hanya sekedar sumber daya yang menabung dan mengembangkan informasi genetik yang tak ternilai. Kehadirannya saja sudah memberikan fungsi yang sangat penting, yang menjadi penentu bagi perlindungan ruang hidup manusia dan bagi perekonomian.
Perusakan alam, erosi tanah dan berkurangnya air merupakan tiga akibat yang saling berkaitan erat yang ditimbulkan oleh campur tangan manusia terhadap alam. Masalah ini disebabkan oleh penebangan hutan dan bentuk-bentuk pengrusakan hutan lainnya.
Bertambahnya penduduk dunia dan semakin meningkatnya standar kehidupan manusia menyebabkan semakin meningkat pula kebutuhan akan air dan keperluan untuk rumah tangga dan industri. Akibatnya sumber daya alam akan semakin terkuras oleh tindakan –tindakan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Masalah ini adalah masalah global yang hanya akan terpecahkan dengan jalan mempertahankan keseimbangan alam bila keadaannya masih utuh, atau memulihkan keadaannya apabila sudah rusak.
Saat ini, masalah hutan makin lama makin berkembang sebagai objek yang kontroversial. Di satu sisi, hutan harus dimanfaatkan untuk menunjang pembangunan, dan disisi yang lain harus diselamatkan demi kelestariannya. Ini merupakan dilema yang cukup berat bagi para rimbawan. Rimbawan harus bisa memilih, antara menitik beratkan pengelolaan hutan pada hasil/bidang usaha yang dapat menciptakan lapangan kerja dengan konsekuensi hutan akan rusak dan akan semakin banyak timbul bencana alam, atau pengelolaan hutan yang menitikberatkan pada kelestarian dan penyelamatan serta perlindungan kawasan yang meliputi flora dan fauna, ekosistem dan perlindungan terhadap plasma nutfah serta pengembang-biakan berbagai jenis flora dan fauna langka, dengan konsekuensi lapangan pekerjaan akan semakin sempit karena sedikitnya usaha yang bergerak di bidang kehutanan. Jadi, rimbawan dituntut untuk dapat memanfaatkan hasil hutan sebanyak-banyaknya tetapi tetap menjaga hutan dengan sebaik-baiknya agar tercipta konsep/prinsip kelestarian (Sustainable Yield Principle) sehingga dapat diperoleh atau dicapai Multiple Use Concept, yaitu manfaat ganda hutan yang dapat diperoleh secara langsung, yaitu secara ekonomi berupa hasil hutan baik kayu ataupun hasil hutan non kayu, dan secara tidak langsung, yaitu berupa pengaturan tata air, ekowisata, penghasil keanekaragaman flora dan fauna yang sangat tinggi, dan lain-lain.
Manusia sebagai faktor penyebab perubahan harus mendapat perhatian yang khusus, karena berhasil tidaknya kelestarian hutan ditentukan sejauh mana keadaan masyarakat dapat diperbaiki. Untuk prioritas pembangunan seyogianya tidak semata-mata didasarkan pada kemampuan dan kemungkinan untuk memberikan hasil dalam waktu yang singkat. Namun, posisi dan perannya dalam hubungan timbal balik dengan bidang lain harus diperhatikan, terutama dari segi ekologis
Sekarang ini lebih dari setengah hutan tropis di dunia telah dihancurkan dan diubah untuk memenuhi kebutuhan manusia. Kerusakan itu disebabkan oleh praktek illegal logging dan illegal trade, perambahanan hutan, kebakaran hutan yang selalu berulang, penegakan hukum yang belum optimal, serta pengelolaan hutan yang belum menerapkan prinsip kelestarian (Sustainable Yield Principle).
Fenomena kerusakan lingkungan hidup itu tentu membuat kita prihatin. Apalagi belakangan ini tampak ada paradoks dalam masalah lingkungan kita, dimana banyak tersebarnya informasi, wacana dan kajian tentang penyelamatan lingkungan, tetapi ternyata semakin parah pula kerusakan lingkungan yang kian terjadi. Akhirnya, tidak dapat dielakkan lagi, kita dikepung oleh situasi yang penuh ironi. Lingkungan kian mengalami degradasi ditengah-tengah kian ramainya orang berbicara tentang penyelamatan lingkungan.
Semua kondisi diatas menjadi tantangan dan tugas yang berat bagi rimbawan. Sekali lagi, posisi rimbawan sangat dilematis. Rimbawan harus siap untuk dicaci maki ketika bencana alam terjadi meskipun itu bukan hasil pekerjaannya. Sebaliknya, rimbawan siap pula ditentang atau berhadapan dengan berbagai pihak/komponen masyarakat termasuk kalangan pejabat baik sipil maupun militer manakala melarang upaya pengrusakan kawasan hutan. Semua tantangan itu tidak menyurutkan semangat juang rimbawan untuk menyelamatkam dan melestarikan alam demi kehidupan umat manusia.

Referensi
Arief, A,.2001.Hutan dan Kehutanan. Penerbit Kanisius. Yogyakarta
Arifin. 1999. Hakikat Kehutanan.


PERWIRA RIMBA |4:35 PM
========================================================


:jeritan rimba raya:

Teringat puluhan tahun silam, Negeriku penuh dengan hutan rimba. Setiap jengkalnya ada rahmat Tuhan, ada kedamaian, ada kebahagiaan, untuk manusia dan untuk semua mahluk hidup yang ada di dalamnya.

Rimbaku adalah paru-paru dunia, berikan udara segar tanpa pernah minta dibayar. Berikan ribuan liter air bersih dengan rasa kasih. Berikan tanah subur, agar hidup kita jadi makmur. Berikan semua yang dia punya kepada kita manusia, tanpa pernah mengharap bintang balas jasa.

Namun beberapa waktu kemudian keadaan telah berubah. Disana-sini terjadi keserakahan. Ada orang-orang tidak bertanggung jawab ingin kuasai dunia dan menghalalkan segala macam cara. Hutan-hutan dibabat dan dibumihanguskan, hewan-hewan dibinasakan, diburu dan dipenjarakan.

Setiap detik, setiap menit, setiap detak jantung dan denyut nadiku, kudengar ribuan pohon dalam hutanku bertumbangan, menggelegar bagaikan suara petir, pecahkan gendang telingaku. Suara gergaji mesin nyanyikan nada-nada kepunahan, untuk bangsa-bangsa satwaku. Mereka berlari, mereka menjerit, mereka ketakutan. Namun kemana mereka akan pergi...?. Mungkinkah mereka bersembunyi dalam jurang kepunahan di sana...?

Lihat...! Coba kita lihat... Saksikan tanah-tanah tandus dan gersang itu. Itu dahulu adalah surga satwaku. Namun kini, surga itu terganti oleh kebun-kebun sawit yang kering kerontang. Tak ada sungai mengalir di sana. Pohon-pohon rindang di sana, telah lama jadi tunggul-tunggul arang yang hitam. Diam, dan tak akan pernah berbisik lagi.

:about me:


  • Name: Mulyadi Pasaribu
  • A.K.A.: Adi, Moel, MP3
  • Birth: Jakarta, Dec 3rd 1982
  • Religion: Christian
  • Hobbies: Attempting New Things
  • Personality: Friendly & Active
  • Affiliation: Youth Movement & Conservation
  • :contact:

  • Address 1: Jl. Karya Wisata Medan 20143, Sumatera Utara
  • Address 2: Jl. Medan Km. 6 No. 68 Pematang Siantar 21143, Sumatera Utara
  • Mobile: +62 81 533 737 533
  • Campus: Forestry Department - University of North Sumatra
  • e-mail: co_rimba@yahoo.com
  • mIRC: co-rimba
  • Friendster: Rimbawan Kecil
  • Milis: sylva_indonesia & id-inform
  • :latest activity:

    Volunteer for Sumatran Orangutan Society-Orangutan Information Centre (SOS-OIC) Medan, North Sumatra

    Ketua GMKI Komisariat Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara

    Koordinator Kelompok Kerja Informasi dan Komunikasi Tim Riset Partisipatif GMKI Cabang Medan

    Koordinator Sylva Indonesia Forum Regional I Aceh-Sumut

    :blooming:

    :past:

    :links 2 me:

    [X] Friendster Profile
    [X] Friendster Blogs
    [X] GuestBook
    [X] Forums

    :links:

    [X] Youth Christian
    [X] Environment
    [X] Orangutan
    [X] Sylva Indonesia

    Youth in Action

    Solidaritas untuk anak Indonesia

    Support Green Peace





    :tagboard:

    :credits:

    Powered by Blogger

    [X] Blogger
    [X] BlogSkins
    [X] Clone

    Listed on BlogShares

    :others:

     

    ASAH OTAK

     

    Topik :

     

    Nama

    Taman Nasional

    di Indonesia