:Rimba Raya:

Friday || PENGALAMAN PERTAMAKU KE TANAH RENCONG

Minggu subuh tepat pukul 03.45 WIB Aku berangkat dari sekretariat LSM tempat aku menjadi Volunteer bersama dengan rombongan relawan lainnya dari WALHI SU yang datang untuk menjemput kami. Kami menumpangi 2 buah truk tronton besar berukuran 10 roda yang juga membawa bantuan-bantaun sembako, pakaian bekas, peralatan sholat, dsb untuk para pengungsi di Banda Aceh.

Sebelum berangkat Aku sempat berdoa kepada Tuhan di dalam kamar kantor tempat aku menjadi relawan. Aku khawatir karena aku seorang Kristen. Aku bertanya didalam hati... Mampukah aku beradaptasi dengan orang2 disana yang katanya sangat fanatik dan mampukan mereka menerimaku sebagai seorang Kristen...???

Selain kekhawatiran tersebut, aku juga khawatir dengan apa yang sering orang bilang GAM. Bagaiman nanti diperjalanan ya...??? (batinku dalam hati).

Namun dengan pasti aku melangkah dan berangkat dengan satu tekad. Aku akan melakukan apa yang bisa aku lakukan untuk saudara2ku di Banda Aceh.

Perjalanan berlangsung dengan lancar. Sejak masuk perbatasan Aceh dan Sumut, belum tampak akibat dari bencana alam terdahsyat sepanjang abad ini. Setelah melewati Kabupaten Bireun, mulai tampak puing2 rumah yang hancur akibat gelombang tsunami. Jalan2 juga ada yang hancur karena gempa.

Setibanya di Ibukota Provinsi NAD, malam sudah menjelang. Aku langsung berkenalan dan bercengkrama dengan para relawan dan koordinator posko PASe yang menjadi teman dan tempat berlindungku selama menjadi relawan di Banda Aceh. Mereka kebanyakan berasal dari Medan dan ada beberapa yang merupakan relawan lokal. Mereka semua sangat bersahabat. Thanks God, kekhawatiranku mulai luntur.

Setelah lelah bercerita kami pun beristirahat menuju peraduan.


PERWIRA RIMBA |12:22 AM
========================================================

Wednesday || MANFAAT HUTAN KOTA

Hutan kota memberikan banyak sekali manfaat bagi kelestarian lingkungan kota. Hutan kota sangat diperlukan bagi semua penghuni kota. Setiap manusia yang habitatnya di perkotaan pasti akan mendapatkan banyak manfaat jika di kota tempat habitatnya tersebut memiliki hutan kota. Ada pun manfaat yang bisa dirasakan dalam kehidupan masyarakat perkotaan dari pembangunan hutan kota, antara lain :
1. Manfaat estetis. Warna hijau dan aneka bentuk dedaunan serta bentuk susunan tajuk berpadu menjadi suatu pemandangan yang indah dan menyejukkan.

2. Manfaat hidrologis. Struktur akar tanaman mampu menyerap kelebihan air apabila turun hujan sehingga tidak mengalir sia-sia melainkan dapat diserap tanah.

3. Manfaat klimatologis. Iklim yang sehat dan normal penting untuk keselarasan hidup manusia. Efek rumah kaca akan dikurangi dengan banyaknya tanaman dalam suatu daerah. Bahkan adanya tanaman akan menambah kesejukan dan kenyamanan lingkungan.

4. Manfaat ekologis. Keserasian lingkungan bukan hanya baik untuk satwa, tanaman, atau manusia saja. Kehidupan makhluk di alam ini saling ketergantungan. Apabila salah satunya musnah maka kehidupan makhluk lainnya akan terganggu.
5. Manfaat protektif. Pohon dapat menjadi pelindung dari teriknya matahari, terpaan angin kencang dan peredam dari suara bising.

6. Manfaat higienis. Dengan adanya tanaman, bahaya polusi mampu dikurangi karena dedaunan tanaman mampu menyaring debu dan mengisap kotoran di udara. Bahkan tanaman mampu menghasilkan oksigen yang sangat dibutuhkan manusia.

7. Manfaat edukatif. Semakin langkanya pepohonan yang hidup di perkotaan membuat sebagian warganya tidak mengenalnya lagi. Karena langkanya pepohonan tersebut maka generasi manusia yang akan datang yang hidup dan dibesarkan di perkotaan seolah tidak mengenal lagi sosok tanaman yang pernah ada. Sehingga penanaman kembali pepohonan di perkotaan dapat bermanfaat sebagai laboratorium alam.


PERWIRA RIMBA |11:34 PM
========================================================

KIRAB ALAM

Rumput yang kian menguning.
Di bawah langkah khalifah bumi.
Karena disirani panas oleh surya.
Dan karena sang awan.
Enggan menangis sedetik saja.


Manusiapun jadi herbivora besar.
Yang memakan tubuh hijau sang rumput.
Menggerogoti kaki tangan mereka.
Yang telah engan hidup.


Manusiapun kian jadi saingan hewan.
Yang menggerogoti rumput hijau.
Hingga hewanpun kian tak berdaya.
Karena mere kahalifah.


Manusia... Manusia.
Kadang mereka menghabiskan makanannya.
Dia khalifah tapi tak tau.
Menghargai seekor hewan
Dan serumpun rumput yang menangis karnanya.


Mereka menatapnya dengan mata mereka
Mengutuk dengan hati mereka.
Dan mencaci manusia.
Dengan lidah tak berbahasanya.


Tubuh dan nyawa mereka.
Jadi sasaran peluru senapan.
Yang kian menjadi pencabut nyewa lara mereka.


Rumput dan hewan
Maafkan aku yang tak manpu
Merubah takdir gelapmu.
Dan tak mampu menjadi khalifah bagi dirimu.


PERWIRA RIMBA |4:46 PM
========================================================

Sunday || PENGENALAN EKOSISTEM HUTAN

A. Latar Belakang
Makhluk hidup dalam perkembangan dan pertumbuhannya tidak dapat hidup sendiri, selalu memerlukan makhluk lainnya dalam menjalani hidup dan kehidupannya. Antara makhluk yang satu dengan makhluk yang lain selalu berhubungan dan mengadakan kontak yang saling menguntungkan. Tetapi ada juga sebagian kecil mahkluk hidup yang selalu merugikan makhluk lain, biasanya makhluk ini disebut dengan parasit.
Ekologi adalah kajian mengenai interaksi timbal-balik jasad individu, di antara dan di dalam populasi spesies yang sama, atau di antara komunitas populasi yag berbeda-beda dan berbagai faktor non hidup (abiotik) yang banyak jumlahnya yang merupakan lingkungan yang efektif tempat hidup jasad, populasi atau komunitas itu. Lingkungan efektif itu mencakup kesemberautan pada interaksi antara jasad hidup itu sendiri. Kaji ekologi itu memungkinkan kita memahami komunitas itu secara keseluruhan. Guna memastikan kenyataan ini, perlu kiranya diadakan berbagai percobaan di lapangan, di laboratorium atau di kedua lingkungan itu sekaligus (Ewusie, 1990).
Adapun ekologi sendiri mencakup suatu keterkaitan antara segenap unsur lingkungan hidup yang saling mempengaruhi, sepeti tumbuhan dan sinar matahari, tanah dengan air, yang pada umumnya dikatakan sebagai hukum alam yang berimbang dan biasa disebut ekosisitem. Komponen-komponen dalam ekosistem telah dikelolah oleh alam dan mereka saling berinteraksi. Ada komponen yang bersifat netral, bekerjasama, menyesuaikan diri, bertentangan bahkan saling menguasai. Akan tetapi pada akhirnya antara kekuatan-kekuatan tersebut terjadi keseimbangan (Arief, 1994).
Untuk mengetahui keterkaitan atau interaksi antara komponen abiotik dengan biotik serta hubungan antara kedua komponen tersebut maka percobaan ini layak dilakukan, karena untuk mengetahui hubungan antara kedua komponen tersebut butuh suatu pengamatan di lapangan. Dalam pengamatan yang dilakukan, ekosisitem yang diamati itu ada dua tempat yaitu padang rumput dan hutan. Dari kedua ekosistem ini akan dihasilkan data-data mengenai jenis-jenis spesies yang ada pada kedua ekosisitem dan dari data yang ada dapat diketahui perbedaan spesies, keanekaragaman spesies, jumlah spesies, peranan dari masing-masing spesies yang nantinya berkaitan dengan jaring-jaring makanan atau food web yang ada pada ekosistem itu serta dari data yang ada dapat dibuat piramida jumlah spesiesnya berdasarkan peranannya masing-masing. Jika semua komponen tersebut sudah di dapat atau diketahui maka dapat diketahui perbedaan dari kedua ekosistem tersebut, dan mengapa hal itu terjadi serta apa penyebabnya. Hal ini nantinya dikaitkan dengan keadaan dari masing-masing ekosistem yang diamati.
Satu ciri mendasar pada ekosistem adalah bahwa ekosistem itu bukahlah suatu sistem yang tertutup, tetapi terbuka dan daripadanya energi dan zat terus-menerus keluar dan digantikan agar sistem itu terus berjalan. Sejauh yang berkenaan dengan struktur, ekosistem secara khas mempunyai tiga komponen biologi, yaitu; produsen (jasad autotrof) atau tumbuhan hijau yang mampu menambat energi cahaya; hewan (jasad heterotrof) atau kosumen makro yang menggunakan bahan organik; dan pengurai, yang terdiri dari jasad renik yang menguraikan bahan organik dan membebaskan zat hara terlarut (Ewusie, 1990).
B. Pembahasan

Setelah diadakannya pengamatan pada kedua ekosistem yaitu padang rumput dan hutan ternyata organisme-organisme yang mendiami ekosistem, baik ekosistem padang rumput ataupun ekosistem hutan pada umumnya sama pada setiap sub petak yang diamati dan diukur, dimana tanaman antar sub plot pada padang rumput sama, jika pada sub plot satu terdapat rumput kawat maka pada pada sub plot lain juga terdapat spesies yang sama, begitu halnya dengan ekosistem hutan.
Komponen–komponen pembentuk ekosistem dari masing-masing ekosistem itu berbeda-beda, hal ini ditunjukkan dengan jenis-jenis organisme dan komponen abiotik dari kedua ekosistem tersebut yang juga berbeda, dimana suhu pada kedua tempat tersebut masing-masing untuk hutan sebesar 31 oC sedangkan pada padang rumput sebesar 34 oC. perbedaan iklim ini disebabkan karena hutan seperti yang diketahui dapat menciptakan iklim mikro sedangkan pada padang rumput cahaya matahari langsung menyinari areal sehingga suhunya lebih tinggi daripada hutan.
Padang Rumput
Padang rumput adalah salah satu jenis ekosistem yang memiliki stratifikasi yang sederhana yaitu hanya terdiri dari satu strata, tetapi walaupun demikian padang rumput ini memiliki keragaman spesies yang tinggi.
Pada padang rumput spesies yang paling banyak ditemui adalah jenis jotang (Spilanthes iabadicensis) dan rumput-rumputan yang salah satunya adalah famili Cyperaceae, sedangkan hewan yang paling banyak adalah semut dan pacat. Komponen-komponen yang terdapat pada ekosistem ini adalah produsen yang jenisnya dapat dilihat pada hasil, konsumen tingkat I yaitu kupu-kupu, capung, belalang ; konsumen tingkat II yaitu semut, pacat, keong ; konsumen tingkat tiga katak. Dari piramida jumlah dan food web, dapat dilihat secara langsung hubungan dari masing-masing individu dan bagaimana perpindahan energi yang terjadi.
Pada ekosistem ini jumlah yang paling banyak ditemui adalah jenis jotang (Spilanthes iabadicensis), hal ini karena karakteristik dari jotang itu sendiri memungkinkan untuk dapat bertahan hidup di daerah tersebut, seperti yang diungkapkan oleh Maradjo (1987) bahwa jotang tumbuhnya di daerah yang banyak mengandung air, tumbuh di daerah dataran rendah sampai pegunungan pada ketinggian 1000 mdpl. Tumbuhan jotang berkambangbiak dengan biji, biji tumbuhan ini ringan sehingga dapat di bawa terbang oleh angin kemana-mana. Bila biji tersebut jatuh ke tanah maka tumbuhnya biji menjadi tumbuhan baru tinggal menunggu waktu saja. Biasanya tumbuhan ini menyukai tempat yang lembab, seperti pematang sawah. Di tempat inilah jotang tumbuh serta berkembang dengan cepat.
Pada kawasan pengamatan yang dilaksanakan memang benar bahwa tempat itu mengandung banyak air sehingga hal itu mendukung hidupnya tanaman jotang ini disitu serta hal lain yang mendukungnya adalah kelembaban dari kawasan itu yang juga agak lembab karena kandungan air yang agak banyak.
Untuk hewan, pada ekosistem ini yang paling banyak adalah semut, sebagaimana yang telah diketahui bahwa semut itu dapat hidup dimana saja tanpa memandang tempat, seperti di hutan, rawa, pegunungan, hewan ini juga dapat ditemui, dengan kata lain dapat dikatakan bahwa semut juga merupakan hewan yang mempunyai toleransi tinggi terhadap lingkungan tempat tinggalnya.
Hutan
Komponen-komponen ekosistem yang ada pada hutan ini adalah mulai dari tingkat produsen yaitu semua jenis tanaman heterotrof yang ada, tingkat konsumen I yaitu belalang, kupu-kupu, ulat dan capung. Konsumen II terdiri dari semut, nyamuk dan pacat.
Dari tabel hasil yang sudah ada dapat dilihat jenis spesies yang ada pada ekosistem ini, dimana jenis tumbuhannya sangat beranekaragam dari tingkat stratum yaitu mulai dari strata A sampai dengan strata tumbuhan bawah tanah seperti perdu atau semak. Dari sini dapat dilihat bahwa persaingan yang terjadi pada ekosistem ini sangat tinggi terutama dalam memperoleh sinar matahari, karena jumlah produsen pada ekosistem ini sangat banyak dan masing-masing pasti membutuhkan intensitas cahaya yang berbeda sesuai dengan kebutuhan.
Menurut Michael (1995) bahwa bilamana sejumlah organisme bergantung pada sumber yang sama, persaingan akan terjadi. Persaingan demikian dapat terjadi antara anggota-anggota spesies yang berbeda (persaingan interspesifik) atau antara organisme yang sama (persaingan intraspesifik). Persaingan dapat terjadi dalam makanan atau ruang. Persaingan interspesifik yang dapat terjadi pada ekosistem ini dapat dilihat dari food web yang terjadi yaitu antara nyamuk dengan pacat, dimana mereka sama-sama bersaing dalam memakan dengan kata lain menghisap darah manusia. Sedangkan untuk yang intraspesifik yaitu antara produsen itu sendiri dalam memperoleh sinar matahari, antara hewan yang satu dengan hewan yang lain dalam satu jenis seperti belalang dengan belalang dalam memperoleh tanaman muda yang dapat untuk dimakan.
Hewan yang paling banyak ditemui pada tempat ini adalah semut, hal ini dikarenakan sifat dari semut itu sendiri yang dapat hidup dimana saja.
Perbandingan antara ekosistem hutan dan ekosistem padang rumput
Dari data yang telah diperoleh maka keanekaragaman jenis pada kedua ekosistem dapat dilihat perbedaannya dari jumlah spesies masing-masing, ekosistem hutan adalah yang paling beranekaragam jenisnya hutan, dimana pada ekosistem hutan jenis spesiesnya ada 20 jenis sedangkan pada padang rumput jenis spesiesnya ada 16 jenis. Hal ini berlawanan dengan pendapat Reso (1989) yang mengatakan bahwa meskipun padang rumput ini hanya ada satu stratum, tetapi keanekaragaman jenis mungkin tinggi jika dibandingkan dengan kebanyakan hutan. Perbedaan pendapat ini mungkin terjadi karena praktikum yang dilakukan itu menggunakan lahan yang kurang representatif atau kurang mewakili. Jika lahan yang diamati tersebut representatif maka benarlah apa yang dikatakan oleh Reso (1992) tersebut.
Keragaman jenis ini sangat mempengaruhi pertumbuhan dari komunitas atau individu yang ada di dalamnya serta dapat menjadi pembeda antara ekosistem yang satu dengan yang lainnya. Menurut Michael (1995) bahwa keragaman spesies dapat diambil untuk menandai jumlah spesies dalam suatu daerah tertentu atau sebagai jumlah spesies diantara jumlah total individu dari seluruh spesies yang ada. Hubugan ini dapat dinyatakan secara numerik sebagai indeks keragaman. Jumlah spesies di dalam suatu komunitas adalah penting dari segi ekologi karena keragaman spesies tampaknya bertambah bila komunitas menjadi makin stabil.
Jika dilihat dari jenis maka banyak terdapat perbedaan antara jenis spesies yang ada pada padang rumput dengan hutan, diantaranya pada pengamatan di hutan tidak terdapat satupun rumput teki sedangkan pada padang rumput spesies ini adalah salah satu jenis yang paling dominan ditemui, hal ini disebabkan karena karakteristik dari rumput teki itu sendiri adalah tidak tahan akan naungan atau termasuk jenis tanaman yang intoleran. Sehingga rumput ini tidak dapat hidup di hutan karena pada hutan penutupan kanopinya sangat rapat sehingga cahaya matahari tidak dapat langsung mengenai lapisan bawah. Sedangkan pada padang rumput matahari dapat secara langsung sampai pada lapisan yang paling bawah sehingga rumput teki dapat hidup dan berkembangbiak dengan cepat serta hal lain yang mendukung perkembang biakannya ini menurut Maradjo (1987) adalah karena sifatnya yang liar itu, tumbuhan teki dapat tumbuh serta teki dapat tumbuh baik disegala macam tanah, ia tidak memilih tanah baik di daerah dataran rendah maupun di daerah dataran tinggi atau pegunungan sampai ketinggian 1000 mdpl.
Pada hutan jenis spesies yang paling banyak tumbuh adalah tanaman suplir hal ini disebabkan karena menurut Maradjo (1987) bahwa daerah penyebaran meliputi daerah yang beriklim tropis dan mempunyai curah hujan yang cukup pada ketinggian 30 – 2800 mdpl. Merupakan jenis tanaman liar yang hidup menahun. Tempat tumbuhnya meliputi daerah-daerah di dalam hutan, di dalam jurang atau di tepi tebing, di pinggir-pinggir kali atau sungai, seringkali membentuk suatu hutan yang rapat, terutama pada daerah-daerah yang mempunyai curah hujan yang banyak. Dengan melihat ciri-ciri dari suplir ini dapat dikatakan bahwa suplir hidup pada daerah yang kelembabannya tinggi atau membutuhkan naungan seperti didalam hutan, sehingga hal ini menyebabkan tanaman ini tidak dapat hidup pada daerah padang rumput yang penuh dengan cahaya matahari.
Untuk hewan pada masing-masing tempat itu tidak jauh berbeda seperti semut adalah jenis spesies yang paling banyak ditemui pada kedua ekosistem hal ini disebabkan karena ciri-ciri dari hewan itu sendiri menurut Borror, et.al (1992) bahwa semut ini adalah suatu kelompok yang sangat umum dan menyebar luas, terkenal bagi semua orang. Semut-semut itu barang kali yang paling sukses dari semua kelompok-kelompok serangga. Mereka praktis terdapat dimana-mana di habitat darat dan juga jumlah individunya melebihi kebanyakan hewan darat lainnya.
Perbedaan diantara ekosistem ini juga dapat diakibatkan oleh pengaruh faktor abiotik dari daerah tersebut, dimana menurut Guslim (1996) bahwa perbedaan antara ekosistem itu terjadi karena adanya :
1. perbedaan kondisi iklim (hutan hujan tropis, hutan musim, hutan savana)
2. letak di atas permukaan laut, topografi dan formasi geologi (zonasi pada pegunungan, lereng pegunungan yang curam, lembah sungai, formasi lava dan sebagainya)
3. kondisi tanah dan air tanah (misalnya pasir, lempung, basah, kering)
Suhu juga merupakan faktor penyebab terjadinya perbedaan dari ekositem yang satu dengan yang lainnya, seperti yang diungkapkan oleh Ismail (2001) bahwa suhu merupakan ekologi yang sangat menetukan dam mempengaruhi kehidupan organisme, termasuk tumbuhan. Pertumbuhan dan penyebaran tumbuhan sering dibatasi oleh suhu. Umumnya tumbuhan akan dapat mempertahankan kehidupan dengan aktifitas pertumbuhan yang normal pada kisaran suhu antara 10 o C sampai 40 o C.
Dalam piramida jumlah dari kedua ekosistem ditemukan kerancuan dimana jumlah komponen konsumen I lebih sedikit daripada konsumen II, padahal kenyataan yang sering dijumpai dan yang telah dipelajari bahwa jumlah dari masing-masing komponen itu harus seimbang antara yang satu dengan yang lainnya agar kehidupan dari tiap organisme itu dapat stabil.
Menurut Reso (1989) bahwa piramida ekologi memberikan gambaran kasar tentang efek hubungan rantai pangan untuk kelompok ekologi secara menyeluruh. Populasi dan bobot organisme yang dapat ditunjang pada setiap tinggkat tropik dan setiap situasi tergantung pada banyaknya energi yang ditambah pada setiap waktu dalam tingkat trofik yang lebih banyak dan kecepatan produksi makanan.
Dalam setiap ekosistem pasti terdapat rantai makanan antara organisme yang satu dengan yang lainnya dalam perpindahan energi. Menurut Reso (1989) bahwa rantai pangan adalah pengalihan energi dari sumbernya dalam tumbuhan melalui sederetan organisme yang memakan dan yang dimakan. Semakin pendek rantai pangan ini semakin dekat jarak antara organisme pada permulaan dan organisme pada ujung rantai dan semakin besar pula energi yang disimpan. Rantai ini tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi saling berkaitan yang satu dengan yang lainnya sehingga membentuk jaring-jaring pangan/makanan.

Dari jaring makanan yang telah di dapat bahwa pada padang rumput itu perpindahan energi yang terjadi yaitu dari produsen -> konsumen I -> konsumen II -> konsumen III -> pengurai, pada hutan jaringan makanan yang terjadi adalah dari produsen -> konsumen I -> konsumen II -> pengurai. Menurut Guslim (1996) sebagian besar pengurai adalah mewakili bakeri dan jamur yang menguraikan ikatan kompleks protoplasma yang mati sambil menyerap beberapa pengurai dan melepaskan zat sederhana yang kembali ke ekosistem untuk selanjutnya dapat dipakai oleh produsen.
*Disarikan dari Laporan Praktikum Ekologi Hutan


PERWIRA RIMBA |4:23 PM
========================================================

Thursday || KASIH IBU

Pada suatu sore, seorang anak menghampiri ibunya di dapur yg sedang menyiapkan makan malam dan ia menyerahkan selembar kertas yg selesai ditulisinya.
Setelah ibunya mengeringkan tangannya dgn celemek, ia membacanya dan inilah tulisan si anak :
- Utk memotong rumput minggu ini Rp.7500
- Utk membersihkan kamar minggu ini Rp.5000
- Utk pergi ke toko menggantikan mama Rp.10000
- Utk menjaga adik waktu mama belanja Rp.15000
- Utk membuang sampah setiap hari Rp.5000
- Utk nilai rapor yg bagus Rp.25000
- Utk membersihkan & menyapu halaman Rp.12500
Jadi total jumlah utang ibu = Rp. 80.000,00
Si ibu memandang anaknya yg berdiri di situ dgn penuh harap dan berbagai kenangan terlintas dlm pikiran ibu itu.
Kemudian ia mengambil pulpen, membalikkan kertasnya dan menulis :
- Utk 9bln ketika mama mengandung kamu selama kamu tumbuh dalam perut mama = GRATIS
- Utk semua malam ketika mama menemani kamu, mengobati kamu dan mendoakan kamu = GRATIS
- Utk semua saat susah dan semua air mata yg kamu sebabkan selama ini = GRATIS
- Utk semua malam yg dipenuhi rasa takut dan utk rasa cemas di waktu yg akan datang = GRATIS
- Utk mainan, makanan, baju dan juga menyeka hidungmu = GRATIS... dan anakku, kalau kamu menjumlahkan semuanya, harga cinta sejati mama = GRATIS
Setelah selesai membaca apa yg ditulis ibunya, ia menatap wajah ibunya dan berkata :
"Ma, aku sayang sekali pada Mama"
Kemudian ia mengambil pulpen dan menulis dgn huruf besar-besar : "LUNAS"
Apakah menurutmu ini cerita yg indah ?
Jika ya sebarkan cerita ini pada semua teman2mu agar mereka juga membaca cerita ini dan dapat lebih menghargai orang2 yg telah berjasa pada mereka...


PERWIRA RIMBA |1:54 AM
========================================================

Wednesday || HUTAN ALAM MANGROVE BANDAR KALIPAH

Hutan mangrove Bandar Kalipah berada didesa kayu besar kecamatan bandar Khalipah, kabupaten Serdang Bedagai. Daerah dengan luas lebih kurang 1475 Ha dengan jumlah penduduk lebih kurang 3678 jiwa, dengan suku-suku yang mendominasi Batak, Jawa, Melayu dan status hutan adalah hutan negara.

Derah ini memiliki batas - batas wilayah tertentu yang telah ditetapkan oleh pemerintah yaitu:
Batas timur : Medang Deras dengan Kab. Asahan
Batas Barat : Kec. Tanjung Beringin dengan Kab. Deli Serdang
Batas Utara : Selat Malaka dengan Desa Pekan Bandar Khalipah
Batas selatan : Desa juhar
Kawasan hutan mangrove yang ada terbagi dalam dua bentuk yaitu hutan tanaman dan hutan alam dengan luas hutan alam lebih kukrang 438 Ha dan luas hutan tanaman lebih kurang 138 Ha. Kegiatan penanaman dilakukan oleh kelompok tani masyarakat setempat. Kelompok tani yang ada yaitu Bela Nusa, Bajayu-B, Selancar Satu dan Selancar Dua.
Lokasi hutan manggrove berada pada ketinggian 1-3 mdpl, untuk jenis-jenis yang dominan di hutan manggrove ini adalah Rhizopora apiculata untuk hutan alam dan jenis api-api (Avicennia sp) untuk hutan tanaman. Secara khusus sebagian besar hutan bakau atau hutan manggrove terdiri dari Rhizopora apiculata dan Rhizopora mucronata. Demikian halnya dengan hutan mangrove yang ada di desa kayu besar terdiri dari jenis-jenis yang tersebut di atas yang masih sangat muda dimana 70 % kawasan adalah areal permudaan antara 7-8 tahun dan 30 %-nya adalah hutan alami sehingga secara umum jika di lihat dari komposisi tegakan masih didominasi oleh jenis pioner yang ada juga terdiri dari Avicennia yang berasosiasi dengan Sonneratia spp dan Nypa fructicans. Untuk sistem pengelolaan hutan manggrove, rencana pengelolaan ke depan adalah dengan menggunakan sistem empang parit, dengan tujuan selain mendapatkan kayu juga mendapatkan hutan, dalam sistem ini juga diusahakan agar semua jenis tidak bersifat dominansi.
Hutan manggrove adalah daerah asuhan yang sangat penting dan habitat bagi berbagai organisme laut, termasuk jenis yang tinggi nilai ekonominya seperti ikan dan udang. Hutan manggrove di Desa Bandar Khalipah banyak yang digunakan sebagi daerah tambak oleh penduduk sekitar maupun oleh penduduk dari luar desa. Indonesia memiliki hutan menggrove yang terluas di dunia yang diperkirakan luas kawasannya 3.806.119 ha dengan sebaran terluas terdapat di propinsi Irian Jaya. Ada 5 faktor yang mempengaruhi zonansi manggrove di kawasan pantai tertentu antara lain :

1. gelombang; yang menentukan frekuansi tergenang
2. Salinitas; yang berkaitan dengan hubungan osmosis manggrove
3. Substrat; yang berkaitan dengan struktur tanah
4. Pengaruh darat seperti aliran air masuk dan rembesan air tawar
5. Keterbukaan terhadap gelombang yang menentukan jumlah substrat yang dapat dimanfaatkan.
Kawasan hutan manggrove Bandar Khalipah memiliki tipe air pasang semi diurnal atau air pasang dua kali sehari yaitu dua kali pasang naik dan dua kali pasang surut yang terjadi pada pagi dan sore hari.


PERWIRA RIMBA |4:20 PM
========================================================

Tuesday || MEMAHAMI BERATNYA TANTANGAN TUGAS RIMBAWAN

Indonesia dikenal sebagai salah satu negara yang mempunyai hutan tropika terbesar didunia yang diakui sebagai komunitas yang paling kaya akan keanekaragaman (mega biodiversity) species flora dan fauna di dunia. Hutan bukan hanya sekedar sumber daya yang menabung dan mengembangkan informasi genetik yang tak ternilai. Kehadirannya saja sudah memberikan fungsi yang sangat penting, yang menjadi penentu bagi perlindungan ruang hidup manusia dan bagi perekonomian.
Perusakan alam, erosi tanah dan berkurangnya air merupakan tiga akibat yang saling berkaitan erat yang ditimbulkan oleh campur tangan manusia terhadap alam. Masalah ini disebabkan oleh penebangan hutan dan bentuk-bentuk pengrusakan hutan lainnya.
Bertambahnya penduduk dunia dan semakin meningkatnya standar kehidupan manusia menyebabkan semakin meningkat pula kebutuhan akan air dan keperluan untuk rumah tangga dan industri. Akibatnya sumber daya alam akan semakin terkuras oleh tindakan –tindakan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Masalah ini adalah masalah global yang hanya akan terpecahkan dengan jalan mempertahankan keseimbangan alam bila keadaannya masih utuh, atau memulihkan keadaannya apabila sudah rusak.
Saat ini, masalah hutan makin lama makin berkembang sebagai objek yang kontroversial. Di satu sisi, hutan harus dimanfaatkan untuk menunjang pembangunan, dan disisi yang lain harus diselamatkan demi kelestariannya. Ini merupakan dilema yang cukup berat bagi para rimbawan. Rimbawan harus bisa memilih, antara menitik beratkan pengelolaan hutan pada hasil/bidang usaha yang dapat menciptakan lapangan kerja dengan konsekuensi hutan akan rusak dan akan semakin banyak timbul bencana alam, atau pengelolaan hutan yang menitikberatkan pada kelestarian dan penyelamatan serta perlindungan kawasan yang meliputi flora dan fauna, ekosistem dan perlindungan terhadap plasma nutfah serta pengembang-biakan berbagai jenis flora dan fauna langka, dengan konsekuensi lapangan pekerjaan akan semakin sempit karena sedikitnya usaha yang bergerak di bidang kehutanan. Jadi, rimbawan dituntut untuk dapat memanfaatkan hasil hutan sebanyak-banyaknya tetapi tetap menjaga hutan dengan sebaik-baiknya agar tercipta konsep/prinsip kelestarian (Sustainable Yield Principle) sehingga dapat diperoleh atau dicapai Multiple Use Concept, yaitu manfaat ganda hutan yang dapat diperoleh secara langsung, yaitu secara ekonomi berupa hasil hutan baik kayu ataupun hasil hutan non kayu, dan secara tidak langsung, yaitu berupa pengaturan tata air, ekowisata, penghasil keanekaragaman flora dan fauna yang sangat tinggi, dan lain-lain.
Manusia sebagai faktor penyebab perubahan harus mendapat perhatian yang khusus, karena berhasil tidaknya kelestarian hutan ditentukan sejauh mana keadaan masyarakat dapat diperbaiki. Untuk prioritas pembangunan seyogianya tidak semata-mata didasarkan pada kemampuan dan kemungkinan untuk memberikan hasil dalam waktu yang singkat. Namun, posisi dan perannya dalam hubungan timbal balik dengan bidang lain harus diperhatikan, terutama dari segi ekologis
Sekarang ini lebih dari setengah hutan tropis di dunia telah dihancurkan dan diubah untuk memenuhi kebutuhan manusia. Kerusakan itu disebabkan oleh praktek illegal logging dan illegal trade, perambahanan hutan, kebakaran hutan yang selalu berulang, penegakan hukum yang belum optimal, serta pengelolaan hutan yang belum menerapkan prinsip kelestarian (Sustainable Yield Principle).
Fenomena kerusakan lingkungan hidup itu tentu membuat kita prihatin. Apalagi belakangan ini tampak ada paradoks dalam masalah lingkungan kita, dimana banyak tersebarnya informasi, wacana dan kajian tentang penyelamatan lingkungan, tetapi ternyata semakin parah pula kerusakan lingkungan yang kian terjadi. Akhirnya, tidak dapat dielakkan lagi, kita dikepung oleh situasi yang penuh ironi. Lingkungan kian mengalami degradasi ditengah-tengah kian ramainya orang berbicara tentang penyelamatan lingkungan.
Semua kondisi diatas menjadi tantangan dan tugas yang berat bagi rimbawan. Sekali lagi, posisi rimbawan sangat dilematis. Rimbawan harus siap untuk dicaci maki ketika bencana alam terjadi meskipun itu bukan hasil pekerjaannya. Sebaliknya, rimbawan siap pula ditentang atau berhadapan dengan berbagai pihak/komponen masyarakat termasuk kalangan pejabat baik sipil maupun militer manakala melarang upaya pengrusakan kawasan hutan. Semua tantangan itu tidak menyurutkan semangat juang rimbawan untuk menyelamatkam dan melestarikan alam demi kehidupan umat manusia.

Referensi
Arief, A,.2001.Hutan dan Kehutanan. Penerbit Kanisius. Yogyakarta
Arifin. 1999. Hakikat Kehutanan.


PERWIRA RIMBA |4:35 PM
========================================================

Monday || KETIKA GEMPA MELANDA SAMUDERA HINDIA

Minggu pagi tanggal 26 Desember 2004 sekitar pukul 08.45 WIB, Aku terjaga dari peraduanku. Sayup-sayup kudengar teriakan dari Ayah yang mencoba membangunkan dari lelap tidurku. “Adi… bangun… cepat bangun…”, demikian teriakan Ayah yang sempat terdengar olehku. Seketika itu juga aku membuka kedua mataku dan langsung bangkit dari atas tempat tidurku. “Kenapa sih yah…?”, sungutku karena merasa terusik oleh teriakannya. “Ada gempa…”, jawab Ayahku. “Cepat keluar dari rumah…”, lanjutnya kemudian. Kontan saja aku terjaga dan langsung tersadar dari khayalan yang ingin kembali melanjutkan tidurku di atas pembaringan.

Setelah keluar dari kamar tidur, aku melihat semua anggota keluargaku sudah berada di halaman rumah sambil melihat ke arah kiri dan kanan sekitar rumah kami. Sambil berjalan menuju halaman rumah, Aku merasakan langkahku agak goyang, seperti berada di atas sebuah kapal laut yang diombang-ambingkan ombak. Goyangan itu semakin terasa, ketika aku telah berdiri diam diantara anggota keluargaku yang lain, yang telah terlebih dahulu ada di halaman rumah.

Setelah goyangan akibat gempa itu tidak terasa lagi, semua anggota keluargaku saling menceritakan kembali apa yang mereka alami selama gempa berlangsung. Adik perempuanku yang sedang menghabiskan masa liburan di kampung, setelah menjalani kegiatan perkuliahan selama satu semester di Medan, membuka cerita dengan semangatnya. “Tadi pas Aku lagi cuci piring, tiba-tiba air yang ada di dalam ember besar muncrat-muncrat”. “Terus aku merasa mual dan pening”, jelasnya mengenai kejadian yang baru saja dialaminya. “Iya… Mama pun mau muntah dan berapa kali hampir mau jatuh”, sambung Mamaku kemudian. Cerita mengenai Gempa tersebut terus berlangsung, sampai saat kami harus berurusan dengan aktifitas kami masing-masing.

Kebetulan saat itu adalah hari minggu dan merupakan hari Natal ke 2. Aku langsung memilih dan mempersiapkan pakaian yang akan kupakai menuju Rumah Tuhan. Sementara itu, Ayahku langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Sebagai seorang Penatua dan Orgenist Gereja, Ayah tidak mau datang terlambat ke Gereja supaya dapat mempersiapakan dan mempelajari lagu-lagu rohani yang akan dinyanyikan saat ibadah berlangsung nantinya. Ibu kembali ke dapur untuk meneruskan urusan masak-memasaknya, dan Adik perempuanku kembali membilas piring yang telah dicucinya.

Beberapa waktu kemudian, Kami sekeluarga sudah berada di dalam Gereja dan mengikuti ibadah Natal Hari ke 2. Dalam Khotbahnya, Pendeta Gereja kami pun sempat membahas mengenai Gempa yang baru saja kami rasakan. Saat itu, kami semua belum mengetahui dahsyatnya akibat yang ditimbulkan gempa yang ternyata berpusat di perairan Samudera Hindia tersebut.

Setelah selesai mengikuti ibadah di gereja dan kembali ke rumah sekitar pukul 12.00 WIB, Aku langsung menghidupkan TV untuk mencari siaran-siaran Natal. Namun saat memilih-milih siaran melalui remote TV, Aku melihat tayangan berita di salah satu stasiun TV mengenai Gempa yang kami rasakan tadi pagi dan ternyata diikuti oleh gelombang Tsunami yang sangat besar. Dari berita tersebut, Aku mengetahui bahwa Gempa tersebut berpusat di sekitar perairan barat Pulau Sumatera bagian utara dan kekuatannya mencapai sekitar 6,5 skala richter dan kemudian di ralat menjadi sekitar 9 skala richter.

Dalam berita tersebut, sekilas dijelaskan bahwa Gempa yang diikuti oleh gelombang Tsunami tersebut mengakibatkan korban yang sangat banyak di daerah Sri Lanka. Aceh juga disebutkan sebagai salah satu wilayah yang mendapatkan akibat Gempa dan gelombang Tsunami tersebut, namun masih belum diketahui secara jelas korban yang ditimbulkan oleh bencana alam, yang ternyata merupakan bencana alam terhebat sepanjang abad ini.

Beberapa jam kemudian, berita semakin jelas dan akurat. Ternyata wilayah Aceh dan Sumatera Utara adalah dua propinsi di Indonesia yang mendapatkan akibat cukup nyata dari bencana alam tersebut. Bahkan disebutkan juga bahwa korban di wilayah Aceh adalah yang terbanyak, setelah korban di Sri Lanka, Thailand, India, Malaysia dan beberapa Negara lainnya.

Hari berganti dan berita-berita mengenai bencana alam tersebut menjadi pusat perhatian seluruh dunia.


PERWIRA RIMBA |12:22 AM
========================================================

Sunday || ORANGUTAN FACT SHEET

T: Orangutan terdapat di pulau mana saja ?
Di Sumatera dan Kalimantan. HANYA di pulau2 inilah terdapat orang utan. Mereka kebanyakan menetap di pohon dan kadang2 turun.
T: Apa makanan orang utan?
Makanan utamanya adalah buah (60%)
Daunan yang masih muda (25%)
Bunga dan kulit pohon (10%)
Semut, jangkrik dan termites (5%)
Telur, kadang2.
T: Apa yang bukan makanan orang utan?
Daging dan ikan. Mereka suka telur tapi tidak suka makan burung ataupun binatang lainnya.
T: Orang utan hewan yang suka muncul pada malam hari?
Tidak, mereka aktif mulai pagi hari dan tidur pada saat matahari terbenam sekitar jam 7.
T: Berapa lama siklus hidup orang utan?
Di alam bebas sekitar 45-50 tahun. Malah ada yang hidup sampai 65 tahun di penangkapan.
T: Bagaimana bunyi suara orang utan?
Mereka berkomunikasi dengan bunyi iikkk-iikkk squeak
Orangutan orok bisa menangis seperti bayi, dan orangutan muda suka menjerit-jerit seperti anak nakal. Orangutan dewasa bisa mengeluarkan bunyi panjang selama satu menit. Di hutan suaranya bisa terdengar sejauh 300 meter. Sang jantan mengembungkan kantong lehernya dan mengeluarkan seruan panjang. Suaranya bisa keras, bernada tinggi dan di hutan sampai bisa terdengar sampai sejauh satu kilometre.
T: Seberapa besar tubuh orang utan?
Bayi baru lahir bisa mencapai berat setengah kilo. Orang utan dewasa betina bisa mencapai tinggi 1,3 meter dan berat 45 kg. Sang jantan bisa mencapai tinggi 1,8 meter dan berat 120 kg.
T: Apa beda antara orang utan jantan dengan orang utan betina ?
Yang jantan lebih besar dari yang betina. Semakin dewasa, bentuk muka jantan juga semakin berubah. Sang jantan memiliki kumis dan janggut. Kelakuan sang jantan terhadap betina sangat dominan. Pipinya lebar dan lehernya berkantong.
T: Berapa bayi dilahirkan satu betina ?
Biasanya hanya satu, jarang sekali betina melahirkan kembar. Jangka kehamilan orang utan mirip manusia, hampir 9 bulan.
T: Kapan sang anak berpisah dari ibunya?
Orang utan muda mengikuti ibunya sampai umur 6 atau 7 tahun. Mereka minum air susu ibu sampai umur 3 tahun sambil belajar memakan bentuk pangan lain. Sang ibu mengajarkan mereka cara hidup di hutan. Hubungan ibu-anak sangat dekat.
T: Apakah mereka hidup dalam satu kelompok keluarga ?
Tidak, yang dewasa menghabiskan waktu seorang diri. Hanya bayi dan anak2 tinggal bersama ibu. Tetapi ibu dan anak sering bertemu kembali dan anak2 bermain bersama.
T: Pada umur berapa orang utan bisa disebut dewasa?
Sang betina mulai melahirkan bayi pada usia 9 atau 12 tahun. Sang jantan mulai antara umur 9-15. Pada saat ini kumis, janggut dan pipi mulai tumbuh. Kadang pipi dan kantong leher tumbuh pada usia lebih dari 20 tahun, Kadang tidak sama sekali.
T: Orang utan memiliki tempat tinggal?
Mereka membuat sarang sementara.
T: Dimana mereka tidur?
Mereka tidur di sarang mereka, setiap malam mereka mereka tidur di sarang baru. Batang2 pohon mereka rajut menjadi keranjang. Kadang kualitasnya sangat bagus. Kadang lebar keranjang bisa mencapai satu meter. Orang utan selalu membuat sarang dipagi hari untuk beristirahat dan bermain; jika sang betina memiliki beberapa anak, ia bisa membuat 2 atau 3 sarang per hari. Sang betina juga menggunakan sarang sebagai tempat melahirkan.
T: Apakah mereka berbahaya atau agresif?
Biasanya tidak. Kadang dalam penangkapan mereka bisa menjadi agresif, tergantung bagaimana mereka diperlakukan. Mereka 6 kali lebih kuat dari manusia, memiliki 4 tangan dan gigitannya sangat kuat. Biasanya mereka mahluk tenang. Jika orang utan jantan berpapasan dengan jantan lainnya, mereka akan mencoba menghindari perkelahian dengan bergaya seakan mengancam dan saling bertatapan. Kalau ini tidak berhasil mereka mungkin akan berkelahi.
T: Apakah orang utan mempunyai musuh ?
Ya, hanya beberapa – terutama manusia. Sebelumnya, macan tutul dan macan Sumatera musuh mereka. Tapi hewan2 inipun punah ditangan manusia.
T: Kenapa mereka mengalami kepunahan?
Pertama, kami menghancurkan hutan mereka. Kedua, mereka berkembang biak secara lamban. Di alam bebas, sang betina hanya berkembang biak sekali dalam 6-7 tahun. Ketiga, mereka ditangkap untuk dimakan, dijadikan hewan piaraan dan hiasan.
T: Apa yang dimaksudkan dengan pusat rehabilitasi?
Pusat2 rehabilitasi dibentuk guna mengakomodasi orang2utan piaraan yang diselamatkan atau disumbangkan. Tujuan mereka adalah untuk mengajarkan orang utan agar bisa hidup kembali di hutan. Banyak orang utan sudah dikembalikan ke hutan dengan sukses.


PERWIRA RIMBA |4:37 PM
========================================================

HUTAN LINDUNG SIBOLANGIT, TANGGUNG JAWAB SIAPA ?

Kawasan Hutan Lindung Sibolangit yang sebahagian wilayahnya telah menjadi Bumi Perkemahan Sibolangit, kini semakin dipertanyakan statusnya.

Bila merujuk kepada Undang-undang kehutanan No. 41 Tahun 1999, Hutan Lindung diartikan sebagai kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan untuk mengatur tata air, mencegah banjir, mengendalikan erosi, mencegah intrusi air laut, dan memelihara kesuburan tanah.

Selanjutnya, Hutan Lindung sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan ditujukan bagi terpeliharanya proses ekologis yang menunjang kelangsungan kehidupan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mutu kehidupan manusia (pasal 7 Undang-undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya).
Oleh karena itu, sudah seharusnya Hutan Lindung Sibolangit terlindung dan dilindungi demi kesejahteraan kehidupan manusia bukan hanya yang berada di sekitar Sibolangit saja melainkan juga yang berada di Kota Medan..
Bumi Perkemahan Sibolangit yang berhadapan dengan Hutan Lindung Sibolangit dan dibatasi oleh aliran sungai kecil, sangat strategis untuk setiap kegiatan outdoor dan pendidikan serta rekreasi seperti tracking / Jungle track. Uniknya, Hutan Lindung yang seharusnya tertutup untuk kegiatan kemah, justru dibuka secara bebas bagi halayak umum.
Setiap pengunjung yang akan berkemah di kawasan Hutan Lindung Sibolangit harus membayar retribusi sebanyak 2 kali di 2 posko berbeda, yaitu : di kawasan Bumi Perkemahan Sibolangit dan di depan Pintu Kawasan Hutan Lindung Sibolangit. Ironisnya pemungutan retribusi tersebut tidak dilakukan oleh aparat yang berwenang (berseragam), Selain itu, dengan banyaknya retribusi yang dibebankan pada setiap pengunjung seharusnya dapat memberikan kompensasi yang layak bagi kelestarian Hutan Lindung Sibolangit, namun justru sebaliknya kawasan Hutan Lindung Sibolangit lambat laun menuju kepada kehancuran.
Fakta yang dijumpai dilapangan bahwa kondisi Hutan Lindung Sibolangit semakin mengkhawatirkan, bukan hanya dikarenakan maraknya penebangan-penebangan liar, melainkan juga disebabkan karena tumpukan sampah anorganik yang berserakan di sana-sini hingga hampir setiap sisi tanah terdapat tumpukan sampah. Padahal pungutan demi pungutan retribusi semakin gencar tanpa timbal balik bahkan semakin brutal, selain retribusi yang dibebankan harus dibayar tanpa menerima tanda bukti yang sah dari petugas yang berwenang, beberapa waktu yang lalu penulis pernah mengalami perselisihan dengan para pemungut retribusi saat akan memasuki kawasan Hutan Lindung bersama kawan-kawan Gappanca (Gabungan Pemuda Pencinta Alam) karena mempertanyakan izin mereka dalam memungut retribusi tersebut, sehingga pengalaman ini memunculkan pertanyaan ; "retribusi ini resmi atau tidak ?" dan dimanakah petugas berwenang yang berhak menangani kawasan Hutan Lindung Sibolangit tersebut ?.
Kalau Pemerintah dalam hal ini Dinas Kehutanan Kabupaten Deli Serdang seakan tutup mata akan hal ini, lalu siapakah yang akan bertanggungjawab atas kerusakan yang telah terjadi dan terus berlangsung di kawasan Hutan Lindung Sibolangit tersebut. Saat ada segelintir orang yang merasa peduli terhadap hal itu, namun tidak memiliki kekuatan dan wewenang, lalu kepada siapa lagi harus mengadu dan mencari dukungan untuk secara bersama-sama meneriakan rasa protes dengan lantang ?. Hutan Lindung Sibolangit yang kini telah rusak secara perlahan namun pasti, akankah bertahan hingga generasi selanjutnya ? ataukah akan musnah sama seperti hutan-hutan lindung lainnya...???


PERWIRA RIMBA |4:06 PM
========================================================


:jeritan rimba raya:

Teringat puluhan tahun silam, Negeriku penuh dengan hutan rimba. Setiap jengkalnya ada rahmat Tuhan, ada kedamaian, ada kebahagiaan, untuk manusia dan untuk semua mahluk hidup yang ada di dalamnya.

Rimbaku adalah paru-paru dunia, berikan udara segar tanpa pernah minta dibayar. Berikan ribuan liter air bersih dengan rasa kasih. Berikan tanah subur, agar hidup kita jadi makmur. Berikan semua yang dia punya kepada kita manusia, tanpa pernah mengharap bintang balas jasa.

Namun beberapa waktu kemudian keadaan telah berubah. Disana-sini terjadi keserakahan. Ada orang-orang tidak bertanggung jawab ingin kuasai dunia dan menghalalkan segala macam cara. Hutan-hutan dibabat dan dibumihanguskan, hewan-hewan dibinasakan, diburu dan dipenjarakan.

Setiap detik, setiap menit, setiap detak jantung dan denyut nadiku, kudengar ribuan pohon dalam hutanku bertumbangan, menggelegar bagaikan suara petir, pecahkan gendang telingaku. Suara gergaji mesin nyanyikan nada-nada kepunahan, untuk bangsa-bangsa satwaku. Mereka berlari, mereka menjerit, mereka ketakutan. Namun kemana mereka akan pergi...?. Mungkinkah mereka bersembunyi dalam jurang kepunahan di sana...?

Lihat...! Coba kita lihat... Saksikan tanah-tanah tandus dan gersang itu. Itu dahulu adalah surga satwaku. Namun kini, surga itu terganti oleh kebun-kebun sawit yang kering kerontang. Tak ada sungai mengalir di sana. Pohon-pohon rindang di sana, telah lama jadi tunggul-tunggul arang yang hitam. Diam, dan tak akan pernah berbisik lagi.

:about me:


  • Name: Mulyadi Pasaribu
  • A.K.A.: Adi, Moel, MP3
  • Birth: Jakarta, Dec 3rd 1982
  • Religion: Christian
  • Hobbies: Attempting New Things
  • Personality: Friendly & Active
  • Affiliation: Youth Movement & Conservation
  • :contact:

  • Address 1: Jl. Karya Wisata Medan 20143, Sumatera Utara
  • Address 2: Jl. Medan Km. 6 No. 68 Pematang Siantar 21143, Sumatera Utara
  • Mobile: +62 81 533 737 533
  • Campus: Forestry Department - University of North Sumatra
  • e-mail: co_rimba@yahoo.com
  • mIRC: co-rimba
  • Friendster: Rimbawan Kecil
  • Milis: sylva_indonesia & id-inform
  • :latest activity:

    Volunteer for Sumatran Orangutan Society-Orangutan Information Centre (SOS-OIC) Medan, North Sumatra

    Ketua GMKI Komisariat Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara

    Koordinator Kelompok Kerja Informasi dan Komunikasi Tim Riset Partisipatif GMKI Cabang Medan

    Koordinator Sylva Indonesia Forum Regional I Aceh-Sumut

    :blooming:

    :past:

    :links 2 me:

    [X] Friendster Profile
    [X] Friendster Blogs
    [X] GuestBook
    [X] Forums

    :links:

    [X] Youth Christian
    [X] Environment
    [X] Orangutan
    [X] Sylva Indonesia

    Youth in Action

    Solidaritas untuk anak Indonesia

    Support Green Peace





    :tagboard:

    :credits:

    Powered by Blogger

    [X] Blogger
    [X] BlogSkins
    [X] Clone

    Listed on BlogShares

    :others:

     

    ASAH OTAK

     

    Topik :

     

    Nama

    Taman Nasional

    di Indonesia