:Rimba Raya:

Monday || MENYELAMATKAN SISA HUTAN KITA

Indonesia merupakan negara nomor empat di dunia yang berpenduduk paling banyak, dengan warga negara ± 200 juta jiwa dan merupakan salah satu negara yang paling beragam kebudayaannya. Sebagian besar pertumbuhan dan pembangunan negara ini dirangsang oleh pengusahaan sumber alam Indonesia yang kaya, terutama minyak bumi, tetapi juga kayu, bahan tambang, dan hasil pertanian.

Letak geografis Indonesia memang sangat menentukan. Dimana Indonesia terdiri atas lebih dari 13.000 pulau yang terbentang di khatulistiwa sepanjang lebih dari 5.000 km dari timur ke barat. Pulau-pulau yang tersebar luas ini menjadi tempat bentangan hutan tropis terbesar nomor dua di dunia, mencakup ± 109 juta ha atau 56% tanah daratannya. Hutan hijau dataran rendah adalah yang paling luas, mencakup sekitar 55% jumlah keseluruhan di pulau-pulau di luar Jawa. Hutan rawa gambut menyelimuti hamparan Sumatera dan sejumlah bagian Kalimantan, sedangkan wilayah-wilayah hutan pegunungan dan sub-pegunungan yang lebih sempit tersebar di seluruh negeri. Hutan–hutan perdu di tanah berpasir tersebar di Kalimantan, sementara flora Australia terdapat di sejumlah wilayah timur Indonesia.

Meskipun Indonesia hanya menempati 1,3% wilayah daratan di dunia Indonesia memiliki lebih dari 17% spesies bumi. Secara kasar dan konservatif, Indonesia menjadi hunian ± 11% jenis tanaman berbunga di dunia, 12% mamalia di dunia, 17% semua burung dan sekurang-kurangnya 37% ikan di dunia. Sebagian besar keanekaragaman yang menakjubkan tersebut ada berkat hutan yang luas dan beraneka ragam di Indonesia.

Hutan Indonesia termasuk hutan yang secara hayati paling kaya di dunia dan juga merupakan hutan yang paling banyak di tebang. Meskipun tertulis 14% sisa hutan (16 juta ha) dilindungi di taman-taman dan cagar alam, banyak kawasan semacam itu dirusak oleh penebangan pohon, penambangan, pertanian, dan permukiman manusia.

Pada tahun 1950, liputan lahan hutan diduga ± 152 juta ha. Data yang dikumpulkan sekitar tahun 1985 menunjukkan liputan lahan hutan 119 juta. Ketika selanjutnya ditafsirkan kembali tahun 1991, para analis menyimpulkan bahwa pada akhir tahun 1989 liputan lahan hutan yang efektif 109 juta ha dan bahwa laju penggundulan hutan setiap tahun pada waktu itu 1,3 juta ha. Sisa hutan ini mencakup wilayah yang terlampau banyak ditebang dalam berbagai kondisi rusak.

Hutan dipandang sebagai modal, aset dalam pembangunan. Konsep hutan didekati hanya dengan memandangnya semata sebagai renewable resources yang bisa sewaktu-waktu diperbarui. Padahal kenyataannya, mengembalikan kondisi hutan seperti kondisi awal membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Persoalannya : milik siapa hutan itu ? Jika pertanyaan itu sudah terjawab, siapa yang harus mengelolanya ? Bagaimana pula pertanggungjawabannya?

Fungsi Hutan

Hutan sebagai satu kesatuan ekosistem yang seimbang mempunyai banyak fungsi yang memberikan manfaat bagi kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Fungsi-fungsi tersbut antara lain adalah fungsi hidrologis (penata air), pelindung tanah, melestarikan keanekaragaman genetik, paru-paru dunia, sumber energi, wisata, serta pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Perusakan Hutan

Perusakan hutan yang berdampak negatif adalah nyata melanggar aturan hukum karena tanpa persetujuan pemerintah. Faktor-faktor yang dapat menyebabkan kerusakan hutan, antara lain :
a. Kerusakan hutan karena perbuatan manusia secara sengaja.
b. Kerusakan hutan karena hewan dan lingkungan.
c. Kerusakan hutan karena serangan hama dan penyakit.

Penyelamatan Hutan

Program penyelamatan hutan bertujuan untuk melestarikan fungsi dan kemampuan sumber daya alam hayati dan lingkungan hidup. Rehabilitasi hutan dan lahan kritis sangat mendesak untuk direalisasikan.
Untuk mengembalikan kawasan hutan yang rusak menjadi normal merupakan pekerjaan yang sulit dan butuh waktu panjang. Sangat sulit melakukan reboisasi terhadap hutan yang gundul dan rusak tersebut. Namun demikian berbagai upaya pelestarian dan pengamanan sumber daya hutan melalui rehabilitasi lahan dan reboisasi hutan, penyuluhan, patroli rutin, dan operasi gabungan terus dilakukan, meski diakui belum mampu mencegah tindak perusakan.

Hasil analisis menunjukkan telah terjadi ancaman serius tehadap keberadaan keanekaragaman hayati dan lingkungan antara lain : kebakaran hutan, kekeringan dan punahnya aneka flora dan fauna yang ada. Kendala yang ada selama ini, kurangnya kepedulian terhadap lingkungan sekitar yang menyebabkan sering terjadi kerusakan lingkungan.

Semua komponen masyarakat ikut bertanggung jawab. Sebab kerugian akan ditanggung semua pihak. Jika terjadi kerusakan di kawasan hutan maka akan berdampak terhadap kehidupan seluruh aspek. Mungkin 10 atau 20 tahun mendatang Indonesia akan menjadi gersang dan kekeringan tanpa adanya hutan yang dahulu sering kita banggakan sebagai pari-paru dunia. Saat ini setiap menit hutan kita telah digunduli seluas 6 x lapangan bola. Kalau bukan kita siapa lagi yang akan peduli dengan keadaan hutan dan lingkungan hidup kita.


PERWIRA RIMBA |11:26 PM
========================================================


:jeritan rimba raya:

Teringat puluhan tahun silam, Negeriku penuh dengan hutan rimba. Setiap jengkalnya ada rahmat Tuhan, ada kedamaian, ada kebahagiaan, untuk manusia dan untuk semua mahluk hidup yang ada di dalamnya.

Rimbaku adalah paru-paru dunia, berikan udara segar tanpa pernah minta dibayar. Berikan ribuan liter air bersih dengan rasa kasih. Berikan tanah subur, agar hidup kita jadi makmur. Berikan semua yang dia punya kepada kita manusia, tanpa pernah mengharap bintang balas jasa.

Namun beberapa waktu kemudian keadaan telah berubah. Disana-sini terjadi keserakahan. Ada orang-orang tidak bertanggung jawab ingin kuasai dunia dan menghalalkan segala macam cara. Hutan-hutan dibabat dan dibumihanguskan, hewan-hewan dibinasakan, diburu dan dipenjarakan.

Setiap detik, setiap menit, setiap detak jantung dan denyut nadiku, kudengar ribuan pohon dalam hutanku bertumbangan, menggelegar bagaikan suara petir, pecahkan gendang telingaku. Suara gergaji mesin nyanyikan nada-nada kepunahan, untuk bangsa-bangsa satwaku. Mereka berlari, mereka menjerit, mereka ketakutan. Namun kemana mereka akan pergi...?. Mungkinkah mereka bersembunyi dalam jurang kepunahan di sana...?

Lihat...! Coba kita lihat... Saksikan tanah-tanah tandus dan gersang itu. Itu dahulu adalah surga satwaku. Namun kini, surga itu terganti oleh kebun-kebun sawit yang kering kerontang. Tak ada sungai mengalir di sana. Pohon-pohon rindang di sana, telah lama jadi tunggul-tunggul arang yang hitam. Diam, dan tak akan pernah berbisik lagi.

:about me:


  • Name: Mulyadi Pasaribu
  • A.K.A.: Adi, Moel, MP3
  • Birth: Jakarta, Dec 3rd 1982
  • Religion: Christian
  • Hobbies: Attempting New Things
  • Personality: Friendly & Active
  • Affiliation: Youth Movement & Conservation
  • :contact:

  • Address 1: Jl. Karya Wisata Medan 20143, Sumatera Utara
  • Address 2: Jl. Medan Km. 6 No. 68 Pematang Siantar 21143, Sumatera Utara
  • Mobile: +62 81 533 737 533
  • Campus: Forestry Department - University of North Sumatra
  • e-mail: co_rimba@yahoo.com
  • mIRC: co-rimba
  • Friendster: Rimbawan Kecil
  • Milis: sylva_indonesia & id-inform
  • :latest activity:

    Volunteer for Sumatran Orangutan Society-Orangutan Information Centre (SOS-OIC) Medan, North Sumatra

    Ketua GMKI Komisariat Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara

    Koordinator Kelompok Kerja Informasi dan Komunikasi Tim Riset Partisipatif GMKI Cabang Medan

    Koordinator Sylva Indonesia Forum Regional I Aceh-Sumut

    :blooming:

    :past:

    :links 2 me:

    [X] Friendster Profile
    [X] Friendster Blogs
    [X] GuestBook
    [X] Forums

    :links:

    [X] Youth Christian
    [X] Environment
    [X] Orangutan
    [X] Sylva Indonesia

    Youth in Action

    Solidaritas untuk anak Indonesia

    Support Green Peace





    :tagboard:

    :credits:

    Powered by Blogger

    [X] Blogger
    [X] BlogSkins
    [X] Clone

    Listed on BlogShares

    :others:

     

    ASAH OTAK

     

    Topik :

     

    Nama

    Taman Nasional

    di Indonesia