:Rimba Raya:

Friday || BEBERAPA FLORA FAUNA LANGKA DI SUMATERA UTARA

Propinsi Sumatera Utara merupakan salah satu propinsi di Indonesia yang menyimpan beragam keanekeragaman hayati termasuk jenis yang endemik. Beberapa diantaranya seperti diuraikan dibawah ini.

Anggrek Hartinah (Cymbidium hartinahianum)
Merupakan salah satu jenis tumbuhan (jenis anggrek) yang endemik. Anggrek hartinah sering juga disebut dengan Anggrek Tien Soeharto. Habitatnya ditemukan di Desa Baniara Tele Kecamatan Harian Kabupaten Toba Samosir. Anggrek ini tumbuh baik ditempat terbuka diantara rerumputan serta tanaman lain seperti jenis paku-pakuan, kantong semar dan lain-lain. Termasuk jenis anggrek tanah yang pertumbuhannya merumpun.
Pertama kali ditemukan oleh Rusdi E. Nasution, seorang peneliti dari Herbarium LBN/LIPI Bogor pada tahun 1976. Ketika itu jenis anggrek ini tidak ditemukan dalam berbagai pustaka maupun dalam koleksi. Kemudian oleh peneliti lainnya J.B. Comber memberi nama ilmiah Cymbidium hartinahianum atau Anggrek Tien Soeharto pada hasil temuannya. Penabalan nama mantan Ibu Negara pada jenis anggrek ini merupakan penghargaan atas jasa-jasanya dalam rangka pengembangan dunia peranggrekan di Indonesia.

Bunga Bangkai (Amorphophallus titanum).
Bunga ini tumbuh di kawasan Taman Wisata/Cagar Alam Sibolangit Kabupaten Deli Serdang. Adapun penemu pertama jenis bunga ini adalah Odoardo Beccari seorang pakar botani, berkebangsaan Italia. Ketika itu, tahun 1878, dalam perjalanannya di Kepahiang Rejang Lebong (Bengkulu) ia menemukan tumbuhan bunga bangkai. Kemudian oleh rekannya Prof. Giovanni Arcaneli dari Turin, diberi nama ilmiah Amorphophallus titanum Beccari.
Bunga bangkai lebih dikenal dengan sebutan Suweg Raksasa. Bau bunga menimbulkan kesan tidak enak, seolah-olah bau bangkai yang busuk. Banyak yang mengidentikannya dengan bunga bangkai yang satu lagi yaitu Padma Raksasa (Rafflesia arnoldi). Padahal keduanya memiliki perbedaan yang sangat prinsipil, yaitu :
1. Dalam hal bentuk, Amorphophallus titanum berbentuk kerucut seperti jagung yang masih berbalut, sedangkan Rafflesia arnoldi berbentuk bundar melebar.
2. Amorphophallus titanum termasuk dalam suku Aristolochiaceae dan merupakan tumbuhan monokotil, sedangkan Rafflesia arnoldi termasuk dalam suku Rafflesiaceae dan merupakan tumbuhan dikotil.
3. Biang Amorpohophallus titanum adalah umbi yang tertanam didalam tanah. Sedangkan Rafflesia arnoldi merupakan tumbuhan parasit yang tumbuh pada akar-akar liana dan menyebarkannya terutama adalah babi hutan yang tidak sengaja melukai akar liana dengan injakan. Pada injakan bekas kuku babi hutan itulah spora rafflesia tersimpan dan menemukan tempat yang cocok untuk tumbuh.

Daun Sang (Johannestijmania altifrons)
Tumbuhan ini hanya dijumpai di daerah Besitang tepatnya di kawasan 242 Aras Napal, dan beberapa daerah disekitar kawasan tersebut. Persebaran tidak luas dan bersifat endemik tidak ditemukan ditempat lain.
Daun Sang pertama kali ditemukan oleh Proffesor Teijsman seorang ahli botani dari Belanda. Menurut IUCN jenis tumbuhan ini telah masuk dalam Red Data Book sebagai jenis yang terancam punah.
Daun Sang adalah termasuk keluarga Palmae, yang memiliki daun tunggal ukuran besar mencapai 3 meter panjang dan lebar 1 meter. Karena ukuran dan daunnya yang kuat, masyarakat setempat dahulu memanfaatkan untuk atap rumah.
Jenis ini termasuk tumbuhan yang tidak tahan kena sinar matahari langsung (jenis toleran), lebih sering hidup dibawah naungan pepohonan. Hidup berkelompok membentuk rumpun namun penyebarannya sangat terbatas.
Perkembangan jenis ini lebih banyak berasal dari anakan dari bijinya yang tertutup oleh kulit yang tebal yang berbentuk bulat dan bergigi.

Kantung Semar (nepenthes sp)
Kantung semar adalah tumbuhan tropika yang menampilkan bentuk yang unik. Keunikannya terdapat pada kantungnya yang bergantung pada seutas sulur yang menyerupai spiral, yang keluar dari ujung daun. Kantung-kantung ini sangat menarik, karena bentuk dan warnanya yang indah. Keunikan lainnya terdapat pada kantungnya yang berbentuk corong berisi cairan yang didalamnya dapat ditemukan berbagai jenis serangga dan hewan lain. Kantung semar lebih dikenal sebagai pemakan serangga seperti lipan, kupu-kupu dan kalajengking. Penangkapan serangga dan hewan kecil lainnya dilakukan dengan menggunakan kantung-kantungnya. Biasanya serangga datang karena tertarik oleh bentuk, warna dan aroma kantung semarnya yang khas yang dihasilkan oleh kelenjar yang terdapat dibawah penutup kantung. Cairan ini menghasilkan aroma dan madu yang berguna untuk menjebak serangga atau binatang kecil lainnya yang terbang mengerumuni, sehingga terjerumus masuk kedalam kantung.

Orang Utan (Pongo pygmaeus)
Orang utan atau juga dikenal dengan nama Mawas adalah jenis kera besar yang mempunyai ciri tidak berbuntut, bertelinga kecil dan hidung kecil serta kepala berbentuk buah peer. Bulunya panjang dan lembut berwarna coklat kemerahan dengan tangan yang panjang dan kuat.
Orang utan sangat unik dan bersifat arboreal, yaitu menghabiskan sebagian besar waktu hidupnya diatas pohon dan jarang sekali turun ketanah. Meraka bergerak dengan bergantungan dari satu dahan kedahan yang lain.
Orang utan juga dikenal sebagai satwa yang suka menyendiri (soliter) walaupun terkadang berkelompok terutama pada waktu menjelajah atau mencari makanan.
Menurut tempat hidupnya secara alami, Orang utan dapat dibedakan kedalam dua jenis yaitu Orang utan Kalimantan (Pongo pygmaeus pygmaeus) dan Orang utan Sumatera (Pongo pygmaeus abelli). Orang utan Sumatera hidup tersebar di hutan-hutan Propinsi Nangroe Aceh Darussalam dan Sumatera Utara khususnya dalam kawasan Taman Nasional Gunung Leuser.


PERWIRA RIMBA |4:23 PM
========================================================

DAFTAR LSM LINGKUNGAN HIDUP DI PROPINSI SUMATERA UTARA

Aku dapat informasi tentang Daftar Lembaga yang concern terhadap LH di SUMUT (Data tahun 2004) yang sudah agak usang, tapi mungkin masih ada yang membutuhkan. Aku belum menelusuri semua informasi ini. Mungkin sudah ada yang pindah alamat atau bagaimana, namun yang pasti mudah-mudahan informasi ini berguna :)

AKARI
Iskandar Htb
Jl. Sisingamangaraja Barat No. 2 P. Siantar

Balai Pemberdayaan Kreasi Ilmiah Mahasiswa ITM Medan
Iqbal Panantuan
Jl. Gd. Arca No. 52 Kampus ITM Medan Telp. 7363771

Bina Lingkungan Hidup Indonesia (BLHI) Wil. Sumut
Ir. Hamzah Lubis, SH, M.Si
Jl. Letda Sujono No. 90 Bandar Selamat Medan Telp. (061) 711549

Bitra Indonesia
Ir. Sukirman
Jl. Bahagia by Pass No. 11 / 35 Medan Telp.(061) 7876408

CALIPUTRA MEDAN
Jl. Sei Bah Mendaris No. 3 Medan

CREPER CLUB MEDAN
Jl. Sewindu No. 4 Medan

Federasi Arung Jeram Indoneesia SU (FAJI) SU
Join Kurniawan
sda

Form Peduli Masyarakat Kehutanan dan Perkebunan
H. Mansyur Nst
Jl. Mojopahit No. 57 Medan, Telp. 4522540

Forum Masyarakat Pelestari Sungai
Ralen
Jl. Sembahe Namorambe Km. 3 Desa Sanyum Sabah Kec. Sibolangit

FUSIES
Jl. Kuali No. 8 Medan

GEMA PALAH
Halbi Sirait
Tanjung Balai

Gerakan Masyarakat Pelestari LH (Dekorda GMPLH)
Drs. J. Fransiscus Sagala
Jl. Bunga Wijaya Kusuma No. 28, Medan, Telp. 8211710

GIRI WANA OUT DOOR ACTIVITIES
M. Farhan
Jl. Sampul No. 25 Medan Telp. 567615

Green Camp Try Karya
Jl. Gaperta Ujung No.58 Medan

Hijau Alam Indonesia
Jl. Seser No. 3A Medan Tembung

Ikatan Mahasiswa Perlindungan Tanaman FP UISU
Ahmad Yasir Lubis
Jl. Prof. A. Sofyan (USU), Telp. 8220785

Ikatan Penulis Peduli Lingkungan Indonesia (IPPLI)
Indra Buana Tanjung, ST
Jl. Nibung Baru No. 46 Medan,. Jl. Gaharu No. B-17 Medan (061) 45759464-4532718 Fax (061) 45322718-7360041

Ikatan Profesional LH
Liana B.
Komplek Perkantoran Kebayoran Center Blok 6Jakarta Selatan

Kel. Lebah Madu
S. Simanjuntak
Kantor Camat Lumban Julu

Kelompok Pelestari Sumber Daya Alam (KPSA)
Azis Damanik
Sidamanik Kab. Simalungun

Kelompok Pelestari Sumber Daya alam (KPSA)
Mangalambang Hutabarat
Dinas PKT Taput

Kelompok Penggemar Kegiatan di Alam Bebas (Sangkala)
M. Sidik
Jl.Saman Hudi Link.IV No. 19 Medan

KESPEMATIK
Jl. Tapian Nauli No. 27 Medan Telp.(061) 7359706

KKM Lestari Hayati Indonesia dan Pemerintahan Mahasiswa FMIPA USU
Rasyid Assaf Dongoran
Jl. Bioteknologi No. 1Medan, (Kampus USU)

Klub Indonesia Hijau (KIH) Regional 04 Medan
F. H.Simatupang
Jl. Keananga Raya No. 34 Pasar VI. Tanjung Sari Medan

Konservasi Bumi
P. Sihotang, MSi
Jl. Mandala By Pass No. 108 Medan

Konsorsium Penyelamatan Hutan dan Kawasan Ekosistem Leuser Sumut – Aceh
Marjoko, SH

Lembaga Advokasi Petani (LAP)
Efrizal Adil, SE
Jl. Warna No. 30 Medan HP. 081361669280

Lembaga Konservasi Independen Indonesia SDA (LKII-SDA)
H. Efendi Kebeakan
Jl. SM. Raja Sidikalang No. 168 Telp. (0627) 21002

Lembaga Penyedia Jasa Pengacara Lingkungan Hidup (LPJP-LH)
M. Muda HD Harahap, SH
Jl. Manunggal No. 10 Panglima Denai Telp. (061) 7320.557 HP. 0812070412 / 08126567572

Lembaga Studi Pemantauan Lingkungan
Poltak Simanjuntak
Jl.Muni No.14 Medan Tj.Rejo, Telp.(061) 8211867

LSM Hati Nurani Bangsa (LSM HANUBA)
Jimmi Sidabutar
Jl.Parang I No.5 Sempakata-Padang Bulan Medan

LSM Pelopor Tunas Bangsa
F.Amri Sonny, SE
Jl. Thamrin No.162 MedanTelp.7367162

LSM Pelopor Tunas Bangsa
Jl. Thamrin No.162 Medan Telp. 7367162

Madani Sumatera Foundation
Nurman
Jl. Sutomo No. 109 Pangkalan Brandan Fax. (0620) 322864

PELOPOR BANGSA
Antoni Situmorang
Jl. Pinang Mas III No. 7 (Villa Palem Kencana ) Medan

Pusat Studi Regional
Ir. Iskandar Sembiring
Jl. St. Moh. Arif gg. Perahu No. 5 P. Sidempuan

Ragg Life Indonesia
Jl. Letjen Jamin ginting No. 150 Simp. Kampus USU

SIBAYAK
Jl. Jamin Ginting gg. Pemuda No. 58 Kabanjahe

SULUR (Kel. Study Pedesaan LK)
Erastus
Jl. Pembangunan gg. Karya No. 9 Padang Bulan Medan Telp.(061)8211085

Wahana Bina Pembangunan Indonesia Sejahtera (WABPIS)
Dra. Ramida Sari Rangkuti
Jl. Sembada VI No. 13 A Koserna Telp. (061) 661.9857 Fax. (061) 821.6686 – 6619857

WALHI
Effendi Panjaitan
Jl. Mesjid Taufik No. 7 Medan

WIM Wahana Inform Masyarakat
Roem Sumantri
Jl. Abdullah Lubis No. 35/56 Medan. Telp. 4148814

YAPAHISU
Jl. P. Baris / Hasan Basri No. 6 Medan

YAPESDA
Jl. Paluh Sibaji No. 58 Pantai Labu Lubuk Pakam

Yayasan Advokasi Lingkungan dan Konsumen Indonesia (ALKIN)
Muhayat Pradipta, S. Sos
Jl. Jend. Gatot Subrotro Komp.Tomang Elok Blok E No. 7 Telp. (061) 845.7853

Yayasan Bencana Lingkungan Hidup
Syahril Tanjung
Jl. AR. Hakim No. 18 B Tanjung Balai

Yayasan Bencana Lingkungan Hidup Prop. Sumut
Osman. L.R, SE
Jl. Gatot Subroto No. 331 A Telp. (061) 553929

Yayasan Bhineka Sejahtera
James.W. Hutabarat, SH
Jl.Setiabudi No.173 C Medan, Telp. 8215066

Yayasan Bina Pengembangan Kualitas Kayu
Jauhari Lubis
Jl. Pendidikan gg. Buday No. 206 Panyabungan

Yayasan Bina Pengembangan Masyarakat (YBPM )
Abdul Muis Pulungan
Jl. Merdeka No. 118 P. Sidempuan

Yayasan biota lestari
Sujono
Jl. Kemenyan III/IV P.Simalingkar Medan Hp.08163100853

Yayasan Ekosistem Lestari
Ir. Suheri
Jl. KH. Wahid Hasyim No. 51/74 Medan, Telp. 4514360 Fax. 4514749

Yayasan Ekowisata Sumatera (YES)
Drs. Hamonangan Siringo-ringo
Jl. Sutomo Ujung gg. Sehati No.1A Telp.(061) 6627088

Yayasan Harapan Ibu Pertiwi (YHIP)
Drs. Raja Amrul
Link. II Kel. Persiapan Merbau Kec. Merbau

Yayasan Hayati Indonesia
Drs.Marwan Azhari Harahap
Jl. H.M. Yakcub No. 194 Medan HP. 081361707279

Yayasan Info Mitra Lingkungan
Denny Purba, SH
Jl. Multatuli No. 28 B/63 Medan Telp. 4563545

Yayasan KANOPI (Konservasi Alam & Organa Plasma Indonesia)
Hamdan, S.Pt
Jl. Mesjid Suhada No.20 Pasar VI Padang Bulan Telp.(061) 8214740

Yayasan Kelestarian Alam dan Lingkungan Hidup
Hotma Erita. P
Jl.Saudara No.5 Sp.Limun Telp. (061) 7869238

Yayasan Kelompok Tanah Gersang dan pelestarian tanaman buah langka (KPTG) Sumut
Jl. Gunung Pusuk Buhit 40 Glugur darat Medan. Telp.(061) 612635

Yayasan Komunitas Indonesia Baru (KIBAR)
Efrizal Adil, SE
Jl. Teratai No. 26 Medan, Telp. 4558909

Yayasan Konservasi LH (Kolingdup)
Hariady Wijaya, SH
Jl. Veteran No. 4 A Helvetia, P. Brayan Medan

Yayasan Lembaga Pemantau Dinamika Pembangunan Pelopor Bangsa (LPDP-PB)
Dr. Antony CH. Situmorang
Jl. SM. Raja No. 64 Medan

Yayasan Masyarakat Peduli Danau Toba-Pulau Samosir
Tonggam Gultom
Jl.Letda Sujono No.141 AB, Telp.(061) 7350869 Fax. 7346531

Yayasan Masyarakat Pemerhati Lingkungan
Ir. Andrew JMS
Jl.T. Amir Hamzah No.B-204 (Riatur Indah) Telp. (061) 8473429

Yayasan Partopi Tao Marsinalsal
H. Silalahi
Desa Paropo Kec.Sumbul /Dairi

Yayasan Pelestari Alam dan LH Indonesia
Saiful B
Jl. Panglima Denai / Jl. Gotong – Royong No. 2 Medan, Telp. 7321593

Yayasan Pelestari Alam & Lingk. Hidup Sumut (YAPALHISU)
Djon Husni
Jl. Murai I No. 72 Medan (Kompl. Tomang Elok) Telp.(061) 8455562

Yayasan Pelestarian Alam dan Lingkungan Hidup Indonesia (YAPELAHI)
David
Jl. Panglima Denai gg. Gotong-Royong No. 2 Medan

Yayasan Pelestarian Alam INDONESIA
SMTH Sidauruk
Jl. Gunung Dempo No. 9 Medan

Yayasan Pembangunan Pertanian Indonesia
Dr. Ir. Johanes, MS Samosir
Jl. Setia Budi gg. Bakania No. 1A Selayang Medan

Yayasan Pengembangan Sumber Daya Pedesaan (YAPESDA)
Mat Baini
Jl. Thamrin Lubuk Pakam (0812601 3721)

Yayasan Penta Rei
Prayetno Hadi Syahputra
Jl. Jemadi gg.Mawar No.5 P.Brayan Darat II Medan Telp. (061) 623284

Yayasan Perhimpunan Pencinta Danau Toba (YPPDT)
Prof. Midian Sirait

Yayasan Pertanian Alternatif Nusantara
Ir. Sabirin
Jl. Rahmadsyah Gg. Baik No. 476 Telp. (061) 7366438

Yayasan Pusaka Indonesia
Edy Satyanto
Jl. Setia Budi No.173 E

Yayasan Servival Indonesia
Jl. Langsat No. 4 Medan

Yayasan Suka Maju
Afifuddin Hrp
Jl. Palopat Maria No. 55 P. Sidempuan Barat

Yayasan Unita Siborong-borong
Hermanto
Siborong – borong

Yayasan Orangutan Sumatera (SOS-OIC)
Panut HadisiswoyoJl. Karya Wisata No. 26 Medan Johor 20143 (061) 7874150


PERWIRA RIMBA |3:50 PM
========================================================

BERLIBUR DI BATANG GADIS

Liburan lalu aku menghabiskan masa di daerah Batang Gadis, Mandailing Natal, Sumut. Daerah ini baru diresmikan menjadi sebuah Taman Nasional (TNBG). Di daerah ini terdapat konflik antara masyarakat dengan sebuah perusahaan pertambangan. Realitas di masyarakat adalah menolak kegiatan pertambangan. Alasan mereka menolak pertambangan sangat sederhana. "Sudah terbukti bahwa tidak ada satu pun perusahaan pertambangan yang beroperasi di Indonesia mampu mensejahterakan masyarakat sekitar". Mendengarkan alasan yang singkat itu, aku terpacu untuk menggali informasi lebih jauh.

Mulailah ilmu-ilmu yang kudapat di bangku kuliah dan di organisasi kuterapkan. Investigasi mulai kulakukan untuk mencari informasi mengenai hal ini. Satu per satu institusi yang terkait mengenai isu ini kudatangi. Untuk memperlancar investigasi, terpaksa aku menyamar sebagai seorang mahasiswa yang melakukan penelitian mengenai potensi tanaman obat di TNBG. Selain melakukan investigasi terhadap institusi yang terkait, aku juga melakukan investigasi lapangan dengan penjelajahan selama tiga hari di TNBG. Dari hasil penjelajahan, aku melihat bahwa TNBG sangat kaya dengan keanekaragaman hayati. Dari sini aku banyak mendapatkan pengalaman yang berarti. Aku belajar untuk lebih mencintai alam dan belajar untuk lebih memahami dan menghargai orang lain.

Dari hasil investigasi tersebut, dapat kutarik beberapa kesimpulan. Pertama, masyarakat Mandailing Natal adalah masyarakat yang sangat menghargai keberadaan hutan. Kedua, TNBG merupakan salah satu daerah dengan keanekaragaman hayati paling tinggi di Sumatera. Ketiga, TNBG merupakan daerah yang memiliki potensi ekowisata (wisata alam) dan perlu dipromosikan lebih jauh. Keempat, yang merupakan paling penting adalah "Lawanlah pendapat yang menilai hutan dengan uang. Uang adalah buatan manusia yang dapat memusnahkan nilai hakiki dari hutan. Musnahnya hutan berarti musnahnya kehidupan".

Melalui ini aku mengajak teman-teman untuk mengisi waktu liburan dengan hal-hal yang lebih berarti. Terapkanlah ilmu yang kita dapat bagi masyarakat dan carilah lokasi liburan yang dapat digunakan sebagai ajang refreshing dan dapat mendukung bidang keilmuan kita di kampus. Lestari...!!!


PERWIRA RIMBA |2:53 PM
========================================================

MEMANDANG MASYARAKAT SEKITAR HUTAN SEBAGAI AHLI WARIS HUTAN


Manusia sudah mulai merubah kondisi lingkungan bumi sejak beratus-ratus tahun yang lalu. Pada permulaan zaman sejarah, manusia menggunakan alat-alat sederhana untuk berburu dan berkumpul, dan kemudian menggunakan alat yang lebih kompleks ketika sumber daya alam bisa dieksplotasi. Akhirnya terjadi kepunahan suatu tumbuhan, hewan dan bahan mineral yang terkandung di dalam bumi akibat tindakan eksploitasi yang berlebihan dan tidak memperhatikan kondisi perubahan alam yang akan terjadi setelah tindakan eksploitasi selesai dilakukan.

Perubahan sosial dalam peradaban manusia dari masyarakat primitif (tak berbudaya) menjadi masyarakat agraris dan kemudian saat ini mencoba untuk menjadi masyarakat industrialis, telah memaksa eksploitasi Sumber Daya Alam (SDA) secara besar-besaran diseluruh belahan bumi Indonesia. Eksploitasi tersebut telah mengorbankan jutaan hektar hutan tropis Indonesia yang memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi (mega biodiversity).

Hutan tropis Indonesia selama lebih dari setengah abad (pasca kemerdekaan), telah dikuras secara besar-besaran demi kelancaran proses pembangunan untuk kesejahteraan masyarakat. Namun pada kenyataannya kegiatan eksploitasi ini hanya mensejahterakan segelintir orang saja (cukong kayu, penyelundup, dan oknum aparat). Masyarakat, terutama masyarakat sekitar hutan hanya mendapatkan ekses negatif yang menimbulkan penderitaan. Hilangnya keanekaragaman hayati dan timbulnya bencana alam berupa banjir, tanah longsor dan kebakaran hutan merupakan konsekuensi yang harus diterima masyarakat akibat pengelolan alam dan lingkungan hidup yang tidak berasaskan kelestarian.
- - - - - - -

Tidak dilibatkannya masyarakat dalam pengambilan keputusan dan kegiatan pengelolaan hutan merupakan salah satu masalah yang dapat menghambat terciptanya pembangunan atas nama kesejahteraan yang telah mengorbankan berjuta-juta hektar hutan tropis Indonesia. Peran serta aktif masyarakat, terutama masyarakat sekitar hutan, mutlak diperlukan agar dapat menciptakan eksploitasi SDA yang terkontrol dan mampu menghasilkan nilai tambah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Tanpa dilibatkannya masyarakat secara aktif dalam kegiatan pengelolaan hutan, maka bullshit hutan Indonesia mampu memberikan kontribusi nyata untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Ketika peran masyarakat masih hanya sebagai penonton, dapat dipastikan kerusakan hutan Indonesia akan semakin menjadi-jadi dan penderitaan masyarakat pun juga akan semakin menjadi-jadi pula.

Jika bencana alam yang diakibatkan oleh eksploitasi secara besar-besaran terjadi, maka masyarakatlah yang pertama kali akan mendapatkan dampak bencana alam tersebut. Perkembangan terakhir yang bisa kita lihat di Pulau Sumatera yaitu, Provinsi Jambi dan Riau merupakan wilayah “kubangan” pada musim hujan dan juga merupakan wilayah “knalpot” pada musim panas. Selain dua Propinsi tadi, Sumatera Utara merupakan calon penerima gelar sebagai wilayah “kubangan dan knalpot”. Jika Dinas Kehutanan Propinsi dan Kabupaten serta segenap stake holder dan decisión maker tidak segera berbenah diri dengan melibatkan seluruh komponen masyarakat yang potensial diajak sebagai mitra dalam menekan semakin tingginya laju kerusakan hutan di Propinsi ini, maka dapat diprediksi bahwa 5 tahun ke depan, Sumatera Utara pasti akan memperoleh gelar sebagai wilayah “kubangan dan knalpot”.

Kemudian di Pulau Kalimantan berdasarkan perkembangan terbaru, Kabupaten Kutai Propinsi Kalimantan Timur ternyata 75 persen daratannya telah berubah menjadi wilayah “danau pasang surut” yang entah kapan surutnya. Sudah lebih dari 2 minggu, masyarakat di Kabupaten yang pernah menjadi salah satu Kerajaan yang disegani di Asia ini harus mengungsi ke tempat-tempat yang tinggi dan tidak terendam air. Bahkan tidak sedikit diantara mereka yang harus mengungsi ke luar Kabupaten.
- - - - - - -

Apa yang salah…??? Ternyata selama ini pola dan konsep kegiatan eksploitasi yang dilakukan di negara ini hanya memandang kebutuhan manusia Indonesia yang ada sekarang. Padahal seharusnya semua kegiatan pengelolaan yang dilakukan dalam pemanfaatan SDA dan lingkungan hidup adalah untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia saat ini dan menjamin terpenuhinya kebutuhan dan kelangsungan hidup generasi yang akan datang. Hal ini merupakan asas kelestarian yang lebih popular dengan istilah SFM (Sustainable Forest Management). Pengelolaan yang demikian juga sejalan dengan istilah konservasi.

Segala macam kegiatan yang dilakukan dalam hal pemanfaatan alam dan hasil-hasilnya harus selalu bertujuan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Untuk menciptakan kemakmuran tersebut, maka masyarakat sudah seharusnya dilibatkan agar memiliki senses of belonging terhadap lingkungan alamnya. Dalam Bab III dan IV Undang-Undang No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, posisi masyarakat sudah sangat jelas dengan pengaturan hak, kewajiban dan peran sertanya. Dalam Bab X UU No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan juga telah diatur bagaimana seharusnya peran serta masyarakat dalam bidang kehutanan.

Namun sayangnya sampai saat ini masyarakat belum bisa mengambil peranannya sesuai dengan kebijakan yang berlaku. Hal ini terjadi karena dalam prakteknya kebijakan lokal yang dikeluarkan oleh Pemerintah Daerah tidak memfasilitasi masyarakat untuk dapat berperan serta dalam semua aspek pengelolaan SDA dan lingkungan hidup. Sudah menjadi kenyataan bahwa masyarakat cenderung sebagai penonton dan bisa juga sebagai korban dari eksploitasi SDA yang berlangsung di lingkungannya.

Jika hal ini tidak segera dibenahi oleh Pemerintahan Kabinet Indonesia Bersatu yang bertugas selama periode 2004-2009 ini, maka dikhawatirkan bangsa Indonesia akan sangat serius menghadapi masalah perpecahan bangsa akibat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah yang sudah berada pada level paling bawah sehingga mengakibatkan tidak adanya sense of belonging terhadap bangsa dan negara Indonesia.
Melihat kenyataan yang bukan sekedar fenomena, namun merupakan realitas dari pemaparan di atas, maka sudah saatnya seluruh komponen bangsa Indonesia berprilaku arif dalam memandang kesinambungan kehidupan di bumi dan mampu memperbaiki kondisi alam khususnya hutan dan segala isinya, dengan semangat dan jiwa baru yaitu semangat dan jiwa konservasi. Konservasi mutlak diperlukan jika manusia masih ingin menghirup udara bersih, meminum air yang bersih dan menikmati pemandangan alam yang sangat luar biasa.
- - - - - - -

Sudah sangat banyak konsep pengelolaan SDA yang berasaskan kelestarian ditawarkan oleh para ahli yang kompeten di bidang ini. Tinggal bagaimana pemerintah sebagai aparatur negara mau untuk merubah kesalahan kebudayaan pemerintah yang bercirikan top-bottom menjadi bottom-top dalam pembuatan dan pelaksanaan suatu kebijakan pengelolaan SDA dan Lingkungan Hidup.

Satu petuah bijak dari para pendahulu kita mungkin bisa sedikit mengetuk hati nurani bangsa yang kondisi alamnya semakin hari semakin parah ini. “Manusia bisa menaklukkan kehendak siapa saja yang ada di bumi ini, namun manusia tidak bisa menaklukkan kehendak Tuhan dan menaklukkan kehendak alam”. Demikianlah kira-kira kata-kata bijak para pendahulu kita yang telah terlebih dahulu mengenal alam ini. Sedikit kalimat tersebut adalah kepedulian dari generasi sebelum kita untuk dapat meyakinkan kita bahwa bersahabat dengan alam itu sangat indah dan sangat mulia. Itu merupakan warisan berharga yang merupakan anugerah jika kita dapat memaknainya lebih mendalam. Pertanyaannya sekarang adalah : “Apa yang akan kita wariskan kepada generasi setelah kita…?”


PERWIRA RIMBA |2:19 PM
========================================================

ISTILAH-ISTILAH KEHUTANAN

Hutan adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya, yang satu dengan yang lainnya tidak terpisahkan.

Kehutanan adalah sistem pengurusan yang bersangkut paut dengan hutan, kawasan hutan, dan hasil hutan yang diselenggarakan secara terpadu.

Kawasan hutan adalah wilayah tertentu yang ditunjuk atau ditetapkan oleh pemerintah untuk dipertahankan keberadaannya sebagai hutan tetap.

Hutan negara adalah hutan yang berada pada tanah yang tidak dibebani hak atastanah.

Hutan hak adalah hutan yang berada pada tanah yang dibebani hak atas tanah.

Hutan adat adalah hutan negara yang berada dalam wilayah masyarakat hukumadat.

Masyarakat hukum adat adalah kelompok masyarakat yang terikat oleh hokum adat, keturunan dan tempat tinggal.

Hutan desa adalah hutan negara yang dikelola desa untuk kesejahteraan desa.

Hutan kemasyarakatan adalah hutan negara yang pemanfaatan utamanya untuk memberdayakan masyarakat tanpa mengganggu fungsi pokoknya.

Hutan rakyat adalah hutan pada tanah yang diakui sebagai milik rakyat baik bersama maupun perorangan

Hutan produksi adalah kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok memproduksi hasil hutan.

Hutan lindung adalah kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan untuk mengatur tata air, mencegah banjir, mengendalikan erosi, mencegah intrusi air laut, dan memelihara kesuburan tanah.

Hutan konservasi adalah kawasan hutan dengan ciri khas tertentu, yang mempunyai fungsi pokok pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekositemnya.

Kawasan hutan suaka alam adalah hutan dengan ciri khas tertentu, yang mempunyai fungsi pokok sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya, yang juga berfungsi sebagai wilayah system penyangga kehidupan.

Kawasan hutan pelestarian alam adalah hutan dengan khas tertentu, yang mempunyai fungsi pokok perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa, serta pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.

Hutan bakau adalah zona peralihan antara ekosistem darat dan ekosistem laut yang memiliki nilai penting untuk perlindungan pantai, penahanan endapan lumpur dan fungsi keseimbangan lingkungan.

Cagar alam adalah kawasan suaka alam yang mempunyai ciri khas tumbuhan, satwa dan ekosistemnya atau ekosistem tertentu yang perlu dilindungi untuk kepentingan ilmu pengetahuan dan kebudayaan dan perkembangannya berlangsung secara alami.

Suaka margasatwa adalah kawasan suaka alam yang mempunyai ciri khas berupa keanekaragaman dan atau keunikan jenis satwa bagi ilmu pengetahuan dan kebudayaan dan kebanggaan nasional yang untuk kelangsungan hidupnya dapat dilakukan pembinaan terhadap habitatnya.

Taman nasional adalah kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk keperluan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikaan, penunjang budidaya tumbuhan dan atau satwa, pariwisata dan rekreasi.

Taman hutan raya adalah kawasan pelestarian alam untuk tujuan koleksi tumbuhan dan atau satwa yang alami atau bukan alami, jenis asli atau bukan jenis asli yang dimanfaatkan bagi kepentingan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, penunjang budidaya tumbuhan dan atau satwa, budaya, pariwisata, dan rekreasi.

Taman wisata alam adalah kawasan pelestarian alam dengan tujuan untuk dimanfaatkan bagi kepentingan pariwisata dan rekreasi alam.

Taman buru adalah kawasan hutan yang ditetapkan sebagai tempat wisata buru.

Kebakaran vegetasi adalah istilah yang dipakai dalam menggambarkan kebakaran hutan dan lahan yang meliputi penangkapan, pengolahan, penginterpretasian, dan presentasi data kebakaran yang diperoleh NOAA.

Kebakaran liar (wild fire) adalah istilah yang dipakai untuk kebakaran tetumbuhan yang tidak terkendali.

Titik panas (hot spot) adalah istilah untuk menunjukkan lokasi terjadinya kebakaran vegetasi yang terlihat di layar komputer atau di peta kebakaran, atau sebagaimana yang diindikasikan oleh koordinatnya.

Asap (smoke) adalah gas yang tampak akibat dari pembakaran (Deutches Institut fur Normung)

Kabut (haze) adalah partikel-partikel kering yang mengakibatkan berkurangnya jarak pandang (World Meteorological Organization)

Penutupan lahan/vegetasi adalah kondisi permukaan bumi yang menggambarkan kenampakan penutupan lahan dan vegetasi.

Perubahan kawasan hutan adalah berubahnya luas kawasan hutan sebagai akibat dari adanya pelepasan kawasan hutan (untuk keperluan non kehutanan), adanya tukar menukar kawasan atau adanya perubahan fungsi hutan.

Penataan batas kawasan hutan adalah suatu kegiatan dalam rangka menetapkan batas-batas yang pasti mengenai batas kawasan hutan berdasarkan fungsi-fungsinya yaitu fungsi hutan konservasi, hutan lindung dan hutan produksi.

Inventarisasi hutan adalah kegiatan untuk mengetahui keadaan potensi hutan berupa flora, fauna, sumberdaya manusia dan sosial ekonomi serta potensi budaya masyarakat di dalam dan luar kawasan hutan. dimanfaatkan bagi kepentingan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, penunjang budidaya tumbuhan dan atau satwa, budaya, pariwisata, dan rekreasi.

Pengusahaan hutan adalah kegiatan pemanfaatan hutan yang berdasarkan atas azas kelestarian fungsi dan azas perusahaan yang meliputi penanaman, peliharaan, pengamanan, pemanenan hasil, dan pemasran hasil hutan.

Hak pengusahaan hutan tanaman industri (HPHTI) adalah hak yang diberikan oleh Menteri Kehutanan kepada Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Badan Usaha Milik Swasta atau Koperasi untuk mengusahakan Hutan Tanaman Industri dalam jangka waktu tertentu.

Hasil hutan adalah benda-benda hayati, nonhayati turunannya, serta jasa yang berasal dari hutan.

Kayu gergajian adalah kayu hasil konversi kayu bulat dengan menggunakan mesin gergaji, mempunyai bentuk yang teratur dengan sisi-sisi sejajar dan sudut-sudutnya siku dengan kadar air tidak lebih dari 18%.

Kayu lapis adalah panel kayu yang tersusun dari lapisan veneer dibagian luarnya, sedangkan dibagian intinya (core) bisa berupa veneer atau material lain, diikat dengan lem kemudian ditekan sedemikian rupa sehingga menjadi panel yang kuat. Termasuk dalam artian ini adalah kayu lapis yang dilapisi lagi dengan material lain.

Rotan adalah rotan asalan yang dihasilkan dari hutan alam atau hasil budidaya masyarakat hutan.

Gondorukem adalah getah dari pohon pinus (Pinus merkusii) yang kemudian diolah menjadi gondorukem. Kegunaan gondorukem adalah untuk bahan baku industri kertas, keramik, plastik, cat, batik, sabun, tinta etak, politur, farmasi, kosmetik, dll.

Terpentin adalah getah dari pohon pinus (Pinus merkusii) yang kemudian diolah menjadi terpentin. Kegunaan terpentin adalah untuk bahan baku industri kosmetik, minyak cat, campuran bahan pelarut, antiseptik, kamfer dan farmasi.

Minyak kayu putih adalah produk dari daun pohon kayu putih (Melaleuca leucadendron) melalui proses penyulingan dihasilkan minyak kayu putih. Kegunaan minyak kayu putih adalah untuk bahan farmasi.

Damar adalah hasil sekresi (getah) dari pohon Shorea sp., Vatica sp., Dryobalanops sp., dan dari suku Dipterocarpaceae, termasuk damar mata kucing dan damar gelap. Kegunaan damar adalah sebagai bahan korek api, plastik, plester, vernis, lak, dan sebagainya.

Sagu adalah ekstrak tepung sagu yang diambil dari empulur pohon sagu (Metroxylon rumphii Mart) yang tumbuh secara alam dan tanaman.

Sutera adalah hasil/produk Usaha Tani Persuteraan Alam yang merupakan kegiatan usaha tani dengan hasil pokok berupa kokon atau benang sutera mentah.

Kopal adalah getah dari pohon damar (Agathis alba) yang kemudian diolah menjadi kopal. Kegunaan kopal adalah untuk melapisi kertas agar tidak rusak kalau ditulis dengan tinta.

Perlebahan adalah budidaya lebah untuk menghasilkan madu, jelly, lilin dan hasil lainnya.


PERWIRA RIMBA |2:10 PM
========================================================

HARI-HARI BESAR LINGKUNGAN HIDUP

10 January : Hari Lingkungan Hidup Indonesia

2 February : Hari Lahan Basah Sedunia (konvensi Ramsar)

6 March : Hari Konvensi CITES (perdagangan satwa liar)

20 March : Hari Kehutanan Dunia

22 March : Hari Air Internasional

22 April : Hari Bumi / Earth Day / KTT Bumihttp://www.earthday.net

5 June : Hari Lingkungan Hidup Sedunia (Environment Day)

23 June : Hari Konvensi Bonn

16 November : Hari Konferensi Warisan Dunia

21 November : Hari Pohonhttp://www.arborday.org

2 December : Hari Konvensi Ikan Paus

15 December : Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional

29 December : Hari Keanekaragaman Hayati


PERWIRA RIMBA |1:55 PM
========================================================

MAHASISWA YANG AKTIF BERORGANISASI, SESUNGGUHNNYA SEDANG MENGINVESTASIKAN SESUATU UNTUK MASA DEPANNYA.

INTRO :
Organisasi adalah wadah kerjasama bagi sekelompok orang untuk mencapai suatu tujuan, dimana setiap orang yang terlibat didalamnya, dituntut untuk berusaha mencapai tujuan itu, dengan bekerjasama antara satu dengan yang lain. Dalam organisasi, kita akan menjumpai banyak orang (anggota) dengan banyak karakter. Di dalam organisasi juga pasti akan kita temui struktur kepengurusan dan peraturan-peraturan yang mengikat orang-orang didalam organisasi itu sendiri. Jadi, pada dasarnya organisasi sama dengan kehidupan bermasyarakat.
Dalam kehidupan bermasyarakat, kita juga menemukan ketiga elemen yang merupakan syarat-syarat berdirinya organisasi, sebagaimana tersebut diatas, yaitu orang, struktur, dan peraturan. Yang membedakan organisasi dengan kehidupan bermasyarakat hanyalah tujuannya. Organisasi memiliki tujuan yang spesifik yang harus diperjuangkan oleh setiap anggotanya, sedangkan dalam kehidupan bermasyarakat, kita pasti menemukan tujuan pribadi, tujuan kelompok dan tujuan general yang lebih umum.

-------

Sejak dua tahun yang lalu, semangatku untuk berorganisasi sangat tinggi. Banyak kegiatan-kegiatan yang menurutku mampu meningkatkan kapasitas dan kapabilitasku sebagai seorang mahasiswa kristen, kudapat dari berorganisasi (khususnya GMKI). Karena begitu semangatnya berorganisasi, aku tidak pernah merasa rugi untuk menomorduakan kegiatan lain, demi mengikuti kegiatan-kegiatan yang bisa kudapat dari organisasi.
Menurutku, manfaat nyata dari berorganisasi tidak bisa serta-merta kita dapatkan secara instan-langsung. Kita harus mau mencari kesempatan untuk belajar banyak di organisasi. Bila perlu, mengorbankan kegiatan lain yang menurut pertimbangan kita, tidak merugikan untuk ditinggalkan dari pada kita menyia-nyiakan kesempatan yang ditawarkan organisasi.
Dengan berorganisasi, seorang mahasiswa akan menemukan kecakapannya untuk bekerja sama dengan orang lain, bahkan dengan orang yang belum dikenalnya sekalipun. Hakikat bekerjasama itu sendiri adalah mampu memahami dan menerima orang lain sebagaimana adanya dirinya, sehingga jika ada kelemahan yang menonjol dari orang tersebut, mampu kita tutupi, bahkan jika perlu mampu kita ubahkan. Tanpa berorganisasi, maka mustahil seorang mahasiswa mampu memahami hakikat kehidupan, yaitu memberi dan menerima.
Aku percaya bahwa berorganisasi (khususnya ketika mahasiswa) adalah investasi masa depan. Perubahan pola pikir, perilaku, IQ, EQ dan SQ menuju hal yang lebih positif, pasti akan kita dapatkan dengan berorganisasi (tinggal menunggu waktu saja). Perubahan tersebut tidak terlalu nyata pada masa awal, namun akan semakin nyata kita rasakan pada masa-masa yang akan datang, setelah kita mulai meninggalkan status sebagai seorang mahasiswa dan lebih banyak menghabiskan waktu untuk berinteraksi dengan masyarakat secara umum.
Berorganisasi harus “basah” atau aktif (jangan setengah hati). Tanpa keaktivan dan kerelaan untuk mengorbankan sesuatu, maka lebih baik mahasiswa itu duduk diam, tidak usah berorganisasi dan tetap berada pada level amannya, dimana dia merasa nyaman menjalani kehidupan ini, tanpa adanya tantangan-tantangan baru yang harus dihadapi. Mahasiswa yang seperti ini adalah orang-orang yang tidak akan pernah maju dan menjadi unggul.
Aku memiliki keyakinan penuh bahwa dengan tetap berada pada level aman, maka aku sama saja seperti makna kata sebuah pepatah: “bagaikan katak di bawah tempurung”. Level aman yang aku maksudkan disini adalah posisi dimana aku hanya mempunyai kegiatan dan rutinitas “itu-itu aja”, tanpa mau mencoba untuk memiliki kegiatan dan rutinitas baru melalui kesempatan untuk beraktivitas dengan hal-hal lain yang positif dan mampu memunculkan ataupun meningkatkan potensi dan kreatifitas yang ada di dalam diriku.
Sebagai seorang mahasiswa yang sadar akan statusnya, kita tentu tidak akan mau tetap berada pada level aman. Level aman dimana kita merasa nyaman menjalani kehidupan ini. Ujian pertama bagi seorang mahasiswa untuk beranjak dari level aman itu adalah aktif berorganisasi. Sebagai seorang yang menyandang status “Agent of change”, mahasiswa sudah seharusnya aktif berorganisasi. Sebab bagaimana mungkin seorang mahasiswa bisa membawa perubahan, jika dirinya sendiri tidak mau berubah!.


PERWIRA RIMBA |1:35 PM
========================================================

Monday || KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM HAYATI DAN EKOSISTEMNYA

Pengertian-pengertian

Sumber Daya Alam Hayati adalah unsur-unsur hayati dialam yang terdiri dari sumber daya alam nabati (tumbuhan) dan sumber daya alam hewani (satwa) yang bersama-sama dengan unsur non hayati disekitarnya secara keseluruhan membentuk ekosistem.

Konservasi Sumber Daya Alam Hayati adalah pengelolaan sumber daya alam hayati yang pemanfaatannya dilakukan secara bijaksana untuk menjamin kesinambungan persediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas keanekaragaman dan nilainya.

Ekosistem Sumber Daya Alam Hayati adalah sistem hubungan timbal balik antara unsur dalam alam baik hayati, maupun non hayati yang saling tergantung dan pengaruh mempengaruhi.

Tumbuhan adalah semua jenis sumber daya alam nabati, baik yang hidup didarat maupun di air.

Satwa adalah semua jenis sumber daya alam hewani yang hidup didarat, dan/atau diair, dan/atau diudara.

Tumbuhan Liar adalah tumbuhan yang hidup di alam bebas dan/atau dipelihara, yang masih mempunyai kemurnian jenisnya.

Satwa Liar adalah semua binatang yang hidup di darat, dan/atau di air, dan/atau di udara yang masih mempunyai sifat-sifat liar, baik yang hidup bebas maupun yang dipelihara oleh manusia.

Habitat adalah lingkungan tempat tinggal tumbuhan atau satwa dapat hidup dan berkembang secara alami.

Erosi adalah proses hilangnya permukaan tanah yang disebabkan oleh aliran air, hujan, es atau berbagai penyebab geografis lainnya, termasuk proses-proses akibat gravitasi bumi.

Frugivora adalah binatang pemakan buah-buahan.

Keanekaragaman Hayati adalah keragaman yang ada diantara berbagai jenis organisme dan ekosistem dimana suatu organisme merupakan bagiannya.

Populasi adalah jumlah organisme dari jenis binatang/tumbuhan yang sama, yang menempati kawasan atau tempat yang sama, yang berpotensi untuk kawin sekerabat dan memiliki sumber gen yang sama.

Regenerasi adalah pertumbuhan kembali tegakan hutan, yang berlangsung alami atau kerena penanaman kembali.

Penangkaran adalah upaya pembangunan melalui pengembangbiakkan dan pembesaran tumbuhan dan satwa liar dengan tetap mempertahankan kemurnian jenisnya.

Lembaga Konservasi adalah lembaga yang bergerak dibidang konservasi tumbuhan dan satwa di luar habitatnya (ex-situ), baik berupa lembaga pemerintah maupun lembaga non pemerintah.

Pengawetan adalah upaya untuk menjaga agar keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya baik didalam maupun diluar habitatnya tidak punah.

Identifikasi Jenis Tumbuhan dan Satwa adalah upaya untuk mengenal jenis, keadaan umum status populasi dan tempat hidupnya yang dilakukan di dalam habitatnya.

Inventarisasi Jenis Tumbuhan dan Satwa adalah upaya untuk mengetahui kondisi dan status populasi secara lebih rinci serta daerah penyebarannya yang dilakukan di dalam dan di luar habitatnya maupun di lembaga konservasi.

Konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya bertujuan mengusahakan terwujudnya kelestarian sumber daya alam hayati serta keseimbangan ekosistemnya sehingga dapat lebih mendukung upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat dan mutu kehidupan manusia.

Konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya merupakan tanggung jawab dan kewajiban pemerintah dan masyarakat.

Konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya dilakukan melalui kegiatan :
1. Perlindungan system penyangga kehidupan
2. Pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya
3. Pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.


PERWIRA RIMBA |3:41 PM
========================================================

Friday || solidaritasKEBERSAMAAN Part II


Akhirnya gelangnya abis juga... :)

Lega deh... ternyata kepercayaan yang diberikan Mas Yudhis yang hanya mengenal aku melalui blogku ini, beberapa kali balas2an e-mail, beberapa kali sms + 1 x telepon, akhirnya bisa aku pertanggungjawabkan. Uang hasil penjualan gelangnya akan kukirimkan siang ini juga.

Kalo kulihat dari perkembangan penjualan gelangnya, sepertinya masih banyak teman2 yang mau peduli dengan ikut membeli gelangnya. Namun aku ga mau ambil banyak resiko. Mungkin untuk tahap kedua nanti aku hanya memesan 50-70 gelang saja.

Berikut update nama2 rekan yang ikut menjadi generasi solidaritas :
1. Agreen (Kehutanan USU '02)
2. John (Kehutanan USU '02)
3. Anak FK USU '04
4. My Self
5. Afra Ginting (Anggota GMKI, FP USU '03)
6. Kardo (Anggota GMKI, Hukum UHN '01)
7. B' Demak (Senior GMKI)
8. Edi Syahputra (SekCab GMKI Medan)
9. Bobby (Anggota GMKI, STT AS '02)
10. Fanny (Anggota GMKI, FE USU '05)
11. Sepupunya Fanny (Anak SMU)
12. Maruba Nababan (Anggota GMKI, FISIP UDA '03)
13. Uci (My Loveley Sister, Anggota PS Consolatio, SEP USU '02)
14. Eko HP (Kehutanan USU '02)
15. Sahat Anugrah (Kehutanan USU'02)
16. Jonas Purba (Anggota GMKI, Kehutanan USU '03)
17. Magda (Anggota GMKI, Kehutanan USU '03)
18. Posma (Kehutanan USU '03)
19. B' Joshua (Anggota GMKI, Alumni Kehutanan USU)
20. Tere (Anggota GMKI, FKM USU '04)
21. Adi Edi Laia (Waket Bidang Kerohanian GMKI Cab. Medan)
22. Aderina Simanjuntak (Anggota GMKI, FK UMI '01)
23. Yansen Hasibuan (Ketua GMKI Koms. STT AS)
24. Eduard Manalu (Anggota GMKI, STT AS '02)
25. Masrudi (Wasek Bidang Organisasi GMKI Cab. Medan)
26. Conti (Anggota GMKI, FKM USU '04)
27. Rizka Agustina (Kehutanan USU '02)
28. Arif Irwansyah (Kehutanan USU '02)
29. Bertha (Kehutanan USU '02)
30. Yan Bastian (Anggota GMKI, Kehutanan USU '02)

Well itu dulu deh Updatenya :) Ikut peduli ya...!!!


PERWIRA RIMBA |8:47 AM
========================================================

Sunday || solidaritasKEBERSAMAAN


Salam hangat Mulyadi, Kami dari Tunas Cendekia sedang menjalankan satu kampanye kecilsolidaritasKEBERSAMAAN. Tujuannya adalah membantu meningkatkan pendidikananak-anak di Indonesia. Tertarik sekali dengan kegiatan sahabat yang sangat peduli dgn lingkungan. Apakah ada komunitas di daerah tempat rekan berada yang anak-anaknyamembutuhkan bantuan pendidikan, seperti seragam, buku pelajaran/tulis atau alat tulis? Jika ada yang bisa kita lakukan bersama untuk anak-anak ini mohon berbagiinformasi dengan kami. Respon dari sahabat akan kami tunggu. Atasperhatiannya kami ucapkan terima kasih. Salam kebersamaan!Yudhistira

Kaget juga pas dapet e-mail itu dari mas Yudhis. Gimana ga kaget, lah wong aku ini kan ga punya link dengan Yayasan Tunas Cendekia. Tapi akhirnya aku tau kalo mereka dapat e-mailku dari blogku ini :) itulah enaknya kalo punya blog... bisa punya link kemana-mana. hehehe...

Setelah dapat e-mail itu, aku pun jadi agak intens komunikasi dengan mas Yudhis sampai akhirnya aku dapat telepon dari beliau. Saat itu aku sedang baca2 buku di Gramedia Jl. Gajahmada, Medan. Nah... karena mas Yudhis kurang jelas mendengar suaraku, terpaksa aku harus keluar dulu dari gramed n cari tempat yang sinyalnya lebih kuat. Agak lama juga kami berbicara tentang solidaritasKEBERSAMAAN dan rencana kampanye yang akan coba ku galang di Medan. Hingga akhirnya mas Yudhis memberikan kepercayaan kepadaku dengan memberikan 30 buah gelang solidaritas dan beberapa lembar selebaran kampanye solidaritasKEBERSAMAAN yang baru saja kuterima sabtu pagi kemarin dari seorang pegawai Kampusku.

Kebetulan saat itu aku lagi sibuk ngisi KRS dan harus menjumpai Dosen Pembimbing Akademikku. Setelah selesai menandatangani KRS, aku pun bergerak menuju Auditorium USU untuk menyerahkan KRS tersebut. Saat aku tiba di audit, ternyata pintu masuk masih tertutup karena petugas sedang istirahat dan makan siang. Sambil menunggu pintu dibuka kembali, aku pun mulai menceritakan tentang kampanye solidaritasKEBERSAMAAN kepada orang-orang yang aku kenal yang juga sedang menunggu untuk menyerahkan KRSnya. Eh... ternyata respon mereka positif. Dua sejoli Agreen & John adalah yang pertama kali mendukung dengan membeli gelang solidaritas. Mereka juga menyatakan siap untuk terlibat aktif jika memang dibutuhkan. Thx friends... Setelah itu, ternyata ada seorang teman (Anak FK '04) yang memperhatikan kami. Langsung saja aku menyerahkan postcard kampanye solidaritasKEBERSAMAAN kepadanya. Tanpa banyak tanya dia langsung mengeluarkan uang Rp 10.000,- dan memilih gelang yang cocok ditangannya. Dia (Sorry friend, aku lupa tanya namamu. Mudah2an kita ketemu lagi :) cuma bilang "Aku udah lama tau tentang kampanye ini, tapi ga tau tempat belinya di Medan dan memang ga mau repot memesan via website". Wah... ternyata kampanye ini memang sudah banyak diketahui anak medan toh... Lalu? Masih di audit, aku berjumpa lagi dengan seorang adik yang bernama Fanny Roswita Ria Pasaribu (lengkap bgt namanya ya? hehehe... ya iyalah, orang aku yang jadi sekretaris pas mereka mengikuti Masa Perkenalan angggota baru GMKI cabang Medan) dia anggota baru GMKI dari FE '05. Ternyata di tangannya sudah melingkar gelang solidaritasKEBERSAMAAN. "Aku beli di Jakarta Bang..." itu katanya saat kutanyakan tentang asal-muasal gelangnya. Kemudian aku pun menceritakan tentang keterlibatan aku dengan kampanye ini. tanpa banyak tanya dia pun langsung meminta 10 gelang. "Biar aku jalanin sama teman-temanku bang...". Wah... mudah2an laku semua deh :) soalnya targetku hari selasa harus sudah kutransfer uang hasil penjualan gelangnya ke rekening YTC. Mudah2an senin sudah habis dan kiriman gelang berikutnya akan kutunggu :)

Sampai saat aku menuliskan posting ini, dari 30 gelang, hanya tinggal 9 yang ada ditanganku :) Mau tau siapa2 aja yang peduli? Nih orang2nya :

1. John (Kehutanan USU '02)

2. Agreen (Kehutanan USU '02)

3. Anak FK USU '04

4. Aku sendiri (Malu juga kalo ga pake gelang ini...)

5. Afra Ginting (Teknik Pertanian USU '03)

6. Bobby (Anggota GMKI Komisariat STT Abdi Sabda)

7. Edy Syahputra (SekCab GMKI Medan)

8. Kardo (Anggota GMKI Komisariat Univ. HKBP Nommensen)

9. B' Demak (Senior GMKI yang berdomisili di Pekanbaru & kebetulan lagi datang ke Sekretariat)

10. Anggota GMKI dari Univ. Dharma Agung (Sorry bro, aku belum tau namamu)

11. Uci (Adikku tercinta yang mau nyebarin virus solidaritas ke Paduan Suara Consolatio)

12. Fanny (10 gelang yang dibawanya aku anggap udah laku. hehehe...)

Nah... gitu deh cerintanya. Mudah2an testcase 30 gelang ini bisa aku pertanggungjawabkan ke mas Yudhis dan untuk selanjutnya anak-anak medan pada punya kepedulian dengan mendukung kampanye ini :)

Oh iya... ada yang lupa. Aku kekurangan bahan publikasi karena selebaran yang kuterima dalam paket hanya belasan lembar. Padahalkan aku harus mempublikasikannya dulu biar ngejual gelangnya bisa lancar. hehehe... mudah2an pada pengiriman berikutnya mas Yudhis bisa menambahkan selebarannya yang agak banyak. OK mas...???

Terakhir aku cuma mau bilang ke teman-teman yang kebetulan singgah ke situsku ini untuk ikut serta membantu dan mendukung kampanye solidaritasKEBERSAMAAN. Makin banyak yang peduli, makin banyak anak-anak Indonesia yang terbantu.

*kalo mau tau lebih banyak, buka aja www.tunascendekia.org


PERWIRA RIMBA |5:39 PM
========================================================

Wednesday || HUTAN WISATA DELENG LANCUK


Hutan Wisata Deleng Lancuk adalah nama sebuah bukit yang berada didalam kawasan Hutan Sibayak II dengan luas 435 Ha. Termasuk Danau Lau Kawar telah ditunjuk menjadi TWA sesuai dengan SK Menteri Kehutanan No.08/Kpts/II/1989 tanggal 6 Pebruari 1989. secara administrative pemerintahan kawasan hutan wisata ini terletak di Desa Lau Kawar Kecamatan Simpang Empat Kabupaten Daerah Tingkat II Tanah Karo. Untuk menuju lokasi ini dapat ditempuh dari Medan melalui Kabanjahe ± 1 1/2 jam, selain itu dapat juga ditempuh dari Kota Pematang Siantar melewati pinggiran Danau Toba yang sudah tentu membuat perjalanan ini mengasyikkan.
Potensi TWA Deleng Lancuk
a. Flora Fauna
Potensi flora/tumbuhan yang terdapat dikawasan TWA Deleng Lancuk didominasi oleh jenis keliung (Quercus sp), Castanopsis sp dan jenis ficus. Pada pingggiraan danau (tebing) banyak dijumpai berbagai jenis anggrek pohon dengan bunga-bungaan yang indah. Sedangkan fauna yang dapat kita jumpai antara lain : Rusa rawa (Cervus unicolor), Owa (Hylobates moloch), Musang (Paradoxumus hermaprodicus), Kambing hutan (Naemorhaedus sumatrensis) dan Burung Enggang (Buceros sp).
b. Wisata
Deleng Lancuk dam Danau Kawar memiliki potensi kepariwisataan yang sangat tinggi berupa kombinasi antara alam berbuah dengan danau yang berair jernih. Disamping itu keadaan cuaca sejuk yang dipengaruhi oleh hembusan angin pegunungan segar membuat perasaan semakin nyaman. Selain itu juga dilokasi ini juga didukung oleh sarana dan prasarana yang memadai sehingga lokasi ini sering dikunjungi oleh wisatawan lokal maupun asing untuk berbagai kegiatan pariwisata.


PERWIRA RIMBA |4:14 PM
========================================================

Tuesday || TAMAN WISATA ALAM SIBOLANGIT

Kelompok Hutan Sibolangit terletak diantara jalan raya Medan Berastagi, sekitar 40 km dari kota Medan dengan waktu tempuh lebih kurang 1jam. Sebagai jalur wisata, kondisi jalan sangat mulus sehingga dapat dilalui oleh berbagai jenis kendaraan bermotor roda dua dan empat.
Selain dari kendaraan pribadi, hutan Sibolangit ini juga dapat ditempuh melalui pengangkutan umum, baik jurusan (trayek) Medan – Berastagi maupun Medan – Sidikalang.
Sebelum memasuki Sibolangit, terlebih dahulu melewati kawasan wisata pemandian Sembahe. Dilokasi ini mengalir air sungai yang mengalir jernih dan sejuk. Pada hari-hari libur tempat ini ramai dikunjungi khususnya oleh wisatawan lokal untuk sekedar mandi-mandi dan bersantai ria.
Melanjutkan perjalanan, pada tanjakan yang terjal, disebelah kanan ruas jalan akan dijumpai sumber air yang telah diusahakan sejak tahun 1959 dan sekarang dikelola oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirtanadi. Sumber air ini juga sebagai pemasok kebutuhan air bagi kota Medan dan sekitarya. Hal ini menunjukan bahwa pengelolaan hutan Sibolangit yang baik akan memberikan manfaat yang cukup besar khususnya dalam hal pengaturan tata air.
Tidak jauh dari lokasi PDAM Tirtanadi dimaksud, disebelah kiri jalan akan ditemukan papan informasi yang memberikan petunjuk bahwa kita sudah memasuki gerbang kawasan Hutan Sibolangit.

SEJARAH
Bermula pada tahun 1914 atas prakarsa DR. J.C Koningsberger Direktur Kebun Raya Bogor ketika itu didirikan Kebun Raya (Botanical Garden) Sibolangit oleh Tuan J.A Lorzing sebagai cabang dari Kebun Raya Bogor. Selanjutnya pada tanggal 10 Maret 1938 dengan Surat Keputusan Z.B No.37/PK, Kebun Raya diubah statusnya menjadi Cagar Alam.
Mengingat Cagar Alam ini kaya akan berbagai jenis tumbuh-tumbuhan (flora) yang bukan hanya sekedar untuk koleksi, melainkan juga memberikan juga memberikan kontribusi yang sangat penting bagi keperluan ilmu pengetahuan dan pendidikan (sebagai laboratorium alam) serta pengembangan pariwisata (rekreasi), maka pada tahun 1980 berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 636/Kpts/Um/9/1980 sebagai Cagar Alam Sibolangit (seluas ± 24,85 Ha) dialih fungsikan menjadi kawasan Taman Wisata Sibolangit.
Secara administrative pemerintahan, kawasan Taman Sibolangit ini terletak di Desa Sibolangit Kecamatan Sibolangit Kabupaten Deli Serdang Propinsi Sumatera Utara.


PERWIRA RIMBA |4:03 PM
========================================================

Saturday || READ THIS NICE STORY

Alkisah, ada tiga pohon di dalam hutan.
Suatu hari, ketiganya saling menceritakan mengenai harapan dan impian mereka.

Pohon pertama berkata: "Kelak aku ingin menjadi peti harta karun. Aku akan diisi emas, perak dan berbagai batu permata dan semua orang akan mengagumi keindahannya".

Kemudian pohon kedua berkata: "Suatu hari kelak aku akan menjadi sebuah kapal yang besar. Aku akan mengangkut raja-raja dan berlayar ke ujung dunia. Aku akan menjadi kapal yang kuat dan setiap orang merasa aman berada dekat denganku".

Lalu giliran pohon ketiga yang menyampaikan impiannya: "Aku ingin tumbuh menjadi pohon yang tertinggi di hutan di puncak bukit. Orang-orang akan memandangku dan berpikir betapa aku begitu dekat untuk menggapai surga dan TUHAN. Aku akan menjadi pohon terbesar sepanjang masa dan orang-orang akan mengingatku.

Setelah beberapa tahun berdoa agar impian terkabul, sekelompok penebang pohon datang dan menebang ketiga pohon itu...

Pohon pertama dibawa ke tukang kayu. Ia sangat senang sebab ia tahu bahwa ia akan dibuat menjadi peti harta karun. Tetapi... doanya tidak menjadi kenyataan karena tukang kayu membuatnya menjadi kotak tempat menaruh makanan ternak. Ia hanya diletakkan di kandang dan setiap hari diisi dengan jerami.

Pohon kedua dibawa ke galangan kapal. Ia berfikir bahwa doanya menjadi kenyataan. Tetapi... ia dipotong-potong dan dibuat menjadi sebuah perahu nelayan yang sangat kecil. Impiannya menjadi kapal besar untuk mengangkut raja-raja telah berakhir.

Pohon ketiga dipotong menjadi potongan-potongan kayu besar dan dibiarkan teronggok dalam gelap.

Tahun demi tahun berganti..., dan ketiga pohon itu telah melupakan impiannya masing-masing.

Kemudian suatu hari...

Sepasang suami istri tiba di kandang. Sang istri melahirkan dan meletakkan bayinya di kotak tempat makanan ternak yang dibuat dari pohon pertama. Orang-orang datang dan menyembah bayi itu. Akhirnya pohon pertama sadar bahwa didalamnya telah diletakkan harta terbesar sepanjang masa

Bertahun-tahun kemudian... sekelompok laki-laki naik ke atas perahu nelayan yang dibuat dari pohon kedua. Ditengah danau, badai besar datang dan pohon kedua berfikir bahwa ia tidak cukup kuat untuk melindungi orang-orang di dalamnya. Tetapi salah seorang laki-laki itu berdiri dan berkata kepada badai: "Diam!!!" Tenanglah". Dan badai itupun berhenti. Ketika itu tahulah bahwa ia telah mengangkut Raja diatas segala raja

Akhirnya... seseorang datang dan mengambil pohon ketiga. Ia dipikul sepanjang jalan sementara orang-orang mengejek lelaki yang memikulnya. Laki-laki itu kemudian dipakukan di kayu ini dan mati di puncak bukit. Akhirnya pohon ketiga sadar bahwa ia demikian dekat dengan TUHAN, karena YESUSlah yang disalibkan padanya...


KETIKA KEADAAN TIDAK SEPERTI YANG ENGKAU INGINKAN, KETAHUILAH BAHWA TUHAN MEMILIKI RENCANA UNTUKMU. JIKA ENGKAU PERCAYA PADA-NYA, IA AKAN MEMBERIMU BERKAT-BERKAT BESAR. KETIGA POHON MENDAPATKAN APA YANG MEREKA INGINKAN, TETAPI TIDAK DENGAN CARA YANG SEPERTI MEREKA BAYANGKAN. BEGITU JUGA DENGAN KITA, KITA TIDAK SELALU TAHU APA RENCANA TUHAN BAGI KITA. KITA HANYA TAHU BAHWA JALAN-NYA BUKANLAH JALAN KITA, TETAPI JALAN-NYA ADALAH YANG TERBAIK BAGI KITA, SELAMANYA...


Note : I got this story from a friend & i didn't know who wrote it. Thx my friend. GBus who read this story...


PERWIRA RIMBA |3:23 PM
========================================================

Sunday || POTENSI KAWASAN PELESTARIAN ORANGUTAN SUMATERA


Potensi Ekonomi

Jika kawasan Pelestarian Orangutan Sumatera mampu untuk dikelola dengan baik, maka ini merupakan potensi yang sangat menjanjikan dalam menambah Pendapatan Asli Daerah melalui wisatawan yang berkunjung ke kawasan pelestarian Orangutan Sumatera. Tidak hanya Pemerintah Propinsi Sumatera Utara yang akan menikmati hasilnya, namun juga masyarakat yang berada di sekitar kawasan ini.

Jika dirata-ratakan, jumlah wisatawan yang berkunjung ke kawasan wisata Bukit Lawang dan Tangkahan mencapai sekitar 15 - 20 orang per hari. Jumlah ini belum termasuk wisatawan lokal yang berasal dari Medan dan daerah-daerah lainnya di Sumatera Utara yang biasa berkunjung pada akhir minggu.

Menurut pengalaman penulis yang sudah pernah berkunjung ke kawasan Bukit Lawang dan Tangkahan, satu orang wisatawan yang berkunjung dan menginap selama satu hari di sekitar kawasan ini, akan mengeluarkan uang sebesar lebih dari 150 ribu rupiah. Besarnya dana ini dialokasikan untuk transportasi, penginapan, makan dan minum serta pembelian cenderamata. Ini merupakan perhitungan kasar untuk wisatawan lokal, sedangkan untuk wisatawan mancanegara bisa mencapai dua sampai tiga kali lipat dari cost yang harus dikeluarkan oleh wisatawan lokal.


Potensi Penelitian

Selain wisatawan, potensi yang bisa dijadikan pemasukan adalah para peneliti yang banyak berasal dari luar negeri. Mereka tidak hanya melakukan penelitian mengenai Orangutan Sumatera namun juga mengenai potensi keanekaragaman hayati yang ada di sekitar Kawasan Ekositem Leuser, serta masyarakat sekitar kawasan tersebut.

Jika pihak keimigrasian mau untuk lebih memperpendek jalur birokrasi untuk pengurusan perpanjangan Visa mapuan Passport, maka para wisatawan dan peneliti yang berasal dari luar negeri tidak akan memilih negara-negara tetangga seperti Malaysia, Singapura dan Thailand sebagai persinggahan sementaranya dalam pengurusan Visa dan Passport untuk memperpanjang izin tinggal di Indonesia.


PERWIRA RIMBA |12:22 AM
========================================================

Thursday || SEKILAS TENTANG HUTAN TANGKAHAN

Nama Tangkahan mungkin masih cukup asing bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Jangankan di Indonesia, di Sumatera Utara sendiri Tangkahan masih merupakan tempat yang jarang didengar orang, kecuali untuk orang-orang yang bergerak dalam bidang konservasi.

Hutan Tangkahan masih merupakan bagian dari Kawasan Ekosistem Leuser. Kawasan hutan ini merupakan salah satu habitat asli dari Orangutan Sumatera. Sebagai habitat Orangutan, data-data yang menjelaskan mengenai keberadaan Orangutan di lokasi ini masih sangat kurang.

Hutan Tangkahan terletak di Desa Namo Sialang, Kecamatan Sei Serdang, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Daerah ini memiliki hamparan hutan hujan tropis dataran rendah yang sangat luas dan kaya akan keanekaragaman hayati.

Untuk mencapai lokasi Tangkahan dari Ibukota Propinsi Sumatera Utara yaitu Medan, diperlukan waktu sekitar 7-8 jam dengan menggunakan angkutan Bus umum.


PERWIRA RIMBA |12:22 AM
========================================================

Monday || PENYELAMATAN HUTAN

Program penyelamatan hutan bertujuan untuk melestarikan fungsi dan kemampuan sumber daya alam hayati dan lingkungan hidup. Rehabilitasi hutan dan lahan kritis sangat mendesak untuk direalisasikan.

Untuk mengembalikan kawasan hutan yang rusak menjadi normal merupakan pekerjaan yang sulit dan butuh waktu panjang. Sangat sulit melakukan reboisasi terhadap hutan yang gundul dan rusak tersebut. Namun demikian berbagai upaya pelestarian dan pengamanan sumber daya hutan melalui rehabilitasi lahan dan reboisasi hutan, penyuluhan, patroli rutin, dan operasi gabungan terus dilakukan, meski diakui belum mampu mencegah tindak perusakan.

Hasil analisis menunjukkan telah terjadi ancaman serius tehadap keberadaan keanekaragaman hayati dan lingkungan antara lain : kebakaran hutan, kekeringan dan punahnya aneka flora dan fauna yang ada. Kendala yang ada selama ini, kurangnya kepedulian terhadap lingkungan sekitar yang menyebabkan sering terjadi kerusakan lingkungan.

Semua komponen masyarakat ikut bertanggung jawab. Sebab kerugian akan ditanggung semua pihak. Jika terjadi kerusakan di kawasan hutan maka akan berdampak terhadap kehidupan seluruh aspek. Mungkin 10 atau 20 tahun mendatang Indonesia akan menjadi gersang dan kekeringan tanpa adanya hutan yang dahulu sering kita banggakan sebagai pari-paru dunia. Saat ini setiap menit hutan kita telah digunduli seluas 6 x lapangan bola. Kalau bukan kita siapa lagi yang akan peduli dengan keadaan hutan dan lingkungan hidup kita.


PERWIRA RIMBA |12:22 AM
========================================================

Tuesday || CAGAR ALAM DOLOK TINGGI RAJA

CA Dolok Tinggi Raja terletak di Desa Dolok Merawan Kecamatan Tapian Dolok Kabupaten Simalungun Propinsi Sumatera Utara. Kawasan ini telah dilindungi sejak tahun 1924 melalui keputusan bersama raja-raja Simalungun. Luas keseluruhan CA ini adalah 167 Hektar.

Untuk mencapai lokasi kawasan konservasi ini, ada dua alternatif perjalanan darat yang bisa ditempuh, yaitu :
- Medan – Lubuk Pakam – Tebing Tinggi – Dolok Tinggi Raja, dengan jarak 110 km atau waktu tempuh 3 jam perjalanan.
- Medan – Lubuk Pakam – Galang – Dolok Masihul – Dolok Tinggi Raja, dengan jarak 97 km atau waktu tempuh yang hampir sama dengan alternatif di atas.

Kawasan ini merupakan hutan hujan tropis dataran rendah yang subur dan hijau dengan komposisi tegakan pohon yang beraneka ragam. Potensi flora yang tumbuh di kawasan ini didominasi oleh Meranti Bunga (Shorea parfivolia), Kenari (Cannarium sp.), Malu Tua (Tristia sp.) untuk jenis pohon dan jenis perdu terdiri dari Rotan (Calamus sp.), Anggrek (Bulbophylum sp.), Kantung Semar (Nephentes sp.), serta Pandan (Pandanus, sp.).

Potensi faunanya berdasarkan penelitian terakhir tahun 1999 tercatat lebih dari 45 jenis satwa liar, diantaranya sudah dilindungi, yaitu Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), Babi hutan, Kancil, Kijang, Rusa, Kambing Hutan, Siamang, bermacam jenis monyet dan reptil, dan juga Beruang Madu. Namun jenis fauna yang paling sering dan paling mudah dijumpai adalah Burung Rangkong.

Keunikan yang khas dari kawasan CA ini adalah potensi sumber air panas yang berasal dari endapan-endapan kapur yang terbentuk dari proses panas bumi yang mengandung belerang sehingga membentuk teras-teras tanah kapur berbukti, dengan luas mencapai 35 hektar. Aliran air panas yang menyatu dengan air sungai sering dimanfaatkan untuk mandi-mandi karena airnya terasa hangat-hangat kuku.
Fenomena alam yang cukup unik akibat adanya panas bumi yang aktif ini, dapat berpindah-pindah tempat. Bukit-bukit hasil endapan kapur yang terlihat sudah tidak aktif lagi, sewaktu-waktu dapat kembali aktif. Hal ini menunjukkan kondisi panas bumi dan bukit-bukti kapur tersebut tidak stabil. Ketidakstabilan inilah yang menjadikan perlindungan kawasan menjadi sangat penting untuk tetap dijaga kelestariannya, demi kestabilan ekosistem hutan dan kawasan sekitarnya.


PERWIRA RIMBA |8:07 PM
========================================================

Sunday || CAGAR ALAM MARTELU PURBA

Kawasan ini sebelumnya merupakan hutan lindung yang telah ditetapkan sejak zaman kolonialisme pada tahun 1916 dalam Zeelfbestuur Tanggal 8 Juli 1916. Kemudian dengan Keputusan Menteri Kehutanan No. 471/Kpts-II/1993 Tanggal 2 September 1993, status kawasan beralih fungsi menjadi Cagar Alam dengan luas 195 hektar.

Letak CA Martelu Purba secara administratif pemerintahan terbentang pada 2 desa, yaitu desa Tiga Runggu dan desa Purba Tongah Kecamatan Purba Kabupaten Simalungun Propinsi Sumatera Utara.

Untuk menuju lokasi dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan umum dengan rute perjalanan dari Medan menuju Pematang Siantar dan kemudian menuju desa Tiga Runggu dengan jarak tempuh sekitar 140 km atau 3-4 jam perjalanan.

CA Martelu Purba merupakan CA yang unik, karena sebenarnya istilah alam disini kurang cocok. Hutan yang ada disini bukanlah hutan alam tetapi merupakan hutan buatan hasil tanaman reboisasi. Pada tahun 1980, ketika kawasan masih berstatus sebagai hutan lindung, oleh seorang tokoh kehutanan Sumatera Utara, kawasan ini dipilihnya sebagai lokasi untuk kegiatan reboisasi dengan penanaman dari jenis Meranti (Shorea sp.)

Keberhasilan dari upaya reboisasi tersebut telah membentuk hutan dengan komposisi dari jenis yang sama, yaitu meranti dan menghasilkan hutan hujan tropis dipterokarpus yang seumur dengan strata tajuk hutan yang sama dan menjulang tinggi. Tegakan meranti tersebut saat ini telah mencapai tinggi 28-30 meter dengan diameter batang mencapai 60-80 cm.

Ciri pada hutan ini adalah lapisan tanahnya yang tipis dan akar pohon tak mampu menembus jauh ke dalam tanah, sehingga banyak diantara pohon itu mengembangkan akar penunjang yang menopang batang pohon yang tinggi dan lurus itu.

Kawasan hutan ini berada di tepi jalan raya, bahkan dibelah jalan, sehingga bila kita menggunakan kendaraan pribadi dari dalam mobil sudah dapat diamati pepohonan yang tumbuh. Karena hutan ini sejenis dan seumur, maka dari jauh nampak pemandangan yang indah dengan tajuk merata.

Namun begitu, diantara tegakan pohon meranti juga terdapat jenis pohon aren dan jenis jambu. Potensi flora yang ada pada kawasan ini merupakan asset deposito seumur hidup bagi kelangsungan hidup masyarakat sekitar. Kawasan ini juga berpotensi dalam pengembangan penelitian bidang kehutanan, ekologi, serta untuk mempelajari pepohonan (arboretum).

Peran yang dimainkan oleh kawasan ini sangat penting sekali karena batas antara kawasan dan lahan pertanian masyarakat sangat kontras, karena tidak adanya lagi perantara berupa zona penyangga. Apabila ekosistem kawasan rusak, maka secara langsung akan merusak juga produktifitas tanah dan aktifitas pertanian.

Keberadaan kawasan CA Martelu Purba ini juga merupakan perlindungan bagi kelangsungan habitat berbagai jenis fauna. Beberapa jenis fauna yang menghuni kawasan ini adalah beruang, babi hutan dan juga berbagai jenis burung, diantaranya murai, pergam, perkutut, dsb.


PERWIRA RIMBA |9:37 PM
========================================================

Friday || CAGAR ALAM BATU GAJAH

Kawasan ini ditetapkan bersamaan dengan penetapan perlindungan Cagar Alam Dolok Tinggi Raja yang telah dilindungi sejak tahun 1924 melalui keputusan bersama raja-raja Simalungun, yaitu Zelfbestuur Belsuit 1924 No. 24 Tanggal 18 April 1924 dengan luas kawasan hanya 0,8 hektar. Secara administratif wilayah, kawasan ini terletak di Desa Pematang Kecamatan Dolok Panribuan Kabupaten Simalungun Propinsi Sumatera Utara.


Untuk mencapai CA ini dapat ditempuh rute perjalanan darat, yaitu :
- Medan – Tebing Tinggi – Pematang Siantar – Tiga Dolok (Dolok Panribuan) dengan jarak tempuh 153 km atau waktu tempuh lebih kurang 4 jam.
- Medan – Berastagi – Kabanjahe – Tiga Runggu – Tiga Dolok dengan jarak tempuh 202 km atau waktu tempuh sekitar 5 – 6 jam.
Dari Tiga Dolok, perjalanan masih harus dilanjutkan dengan berjalan kaki sejauh 4 km untuk dapat memasuki lokasi. Jalan setapak menuju lokasi sudah disemen dan dapat dilalui dengan mudah.

Posisi CA Batu Gajah terletak pada sudut pertemuan dua alur sungai, yaitu Sungai Kisat dan Sungai Sipinggan. Konon ceritanya kawasan ini dahulunya merupakan tempat ibadah bagi para penganut kepercayaan spiritual. Pertemuan dua alur sungai merupakan tempat berpusatnya kekuatan supranatural, sehingga lokasi ini dipilih sebagai tempat keramat untuk bertapa.

Perlindungan kawasan Batu Gajah ini dimaksudkan sebagai perlindungan terhadap monumen alam (nature monument). Potensi yang ada di lokasi ini, dalam perkembangannya sekarang merupakan potensi Cagar Budaya, dikarenakan yang lebih utama untuk dilindungi adalah pahatan prasasti peninggalan sejarah yang memiliki nilai historis religius yang sangat tinggi.

Benda-benda bersejarah dimaksud berupa batu-batuan yang berbentuk gajah, katak, ulok (bahasa tapanuli yang berarti ular), dan juga batuan yang berbentuk lesung dan batu berbentuk karang.

Kisah sejarah yang menghiasi peninggalan tersebut merupakan cerita turun-temurun semenjak zaman nenek moyang. Sepasang suami istri dari Marga Purba telah membangun tempat tersebut. Batu tebing besar yang terdapat di lokasi merupakan batu yang dipahat membentuk sebuah bangunan yang merupakan gambaran tempat perlindungan harta yang dijaga oleh seekor gajah dewasa dan seekor ular di bagian atas bangunan. Pada sekelilingnya dikawal oleh para pengawal yang siaga di relung-relung kecil sekeliling bangunan.

Di bagian depan jalan masuk menuju batu bangunan tersebut, terdapat juga sebuah batu gajah berukuran kecil dan pada bagian belakang bangunan, terdapat batu berbentuk katak raksasa serta batu berbentuk kerbau jantan dengan penggembalanya yang digambarkan sedang berjongkok di sebelah kanan kerbau.

Di dalam kawasan CA Batu Gajah juga terdapat berbagai jenis flora, diantaranya adalah Tusam/Pinus (Pinus merkusii), Pulai (Alstonia schollaris), Aren (Arenga sp.), Bambu (Bambusa sp.), Pakis-pakisan dan berbagai jenis tumbuhan bawah lainnya. Selain flora, jenis fauna yang dapat dilihat di kawasan ini adalah jenis mamalia kecil, yaitu musang, tupai, babi hutan, kera dan juga jenis burung tekukur, pergam dan kutilang.


PERWIRA RIMBA |9:34 PM
========================================================

Monday || DI RIMBA KUTEMUKAN DAMAI ITU

Damai yang dirasa
Melihat warnanya
Tenang jiwaku
Suasana kehijauan yang indah
Burung rimba berkicau dan
Beterbangan bebas di dalam rimba raya
Pepohon turut bernyanyi
Menerima sentuhan sinaran sang mentari
Oh... di alam rimba damai kurasa
Segala-galanya terlukis sempurna
Di alam rimba keajaiban terpancar
Pesona di jiwa
Di rimba tiada derita, sengketa
Tiada kudengar tangisan sepi yang mengiris hati
Sang pelangi ceria
Menanti kehadiran gerimis senja
Membisikan dan menghiasi
Keindahan ciptaan Ilahi


PERWIRA RIMBA |4:46 PM
========================================================

Wednesday || PERMEABILITAS PROFIL TANAH

Semua jenis tanah bersifat lolos air (permeable) dimana air bebas mengalir melalui ruang-ruang kosong (pori-pori) yang ada di antara butiran-butiran tanah. Tekanan pori diukur relatif terhadap tekanan atmosfer dan permukaan lapisan tanah yang tekanannya sama dengan tekanan atmosfer dinamakan muka air tanah atau permukaan freasik, di bawah muka air tanah. Tanah diasumsikan jenuh walaupun sebenarnya tidak demikian karena ada rongga-rongga udara.

Profil tanah itu merupakan suatu irisan melintang pada tubuh tanah dibuat dengan cara menggali lubang dengan ukuran (panjang dan lebar) tertentu dan kedalaman yang tertentu pula sesuai dengan keadaan tanah dan keperluan penelitiannya. Dalam hal ini misalnya untuk keperluan genesa tanah pada oksisol yang solumnya tebal, pembuatan profil tanah dapat mencapai kedalaman sekitar 3 - 3,5 meter.
Permeabilitas tanah menunjukkan kemampuan tanah dalam meloloskan air. Struktur dan tekstur serta unsur organik lainnya ikut ambil bagian dalam menaikkan laju permeabilitas tanah. Tanah dengan permeabilitas tinggi menaikkan laju infiltrasi dan dengan demikian, menurunkan laju air larian.
Tinggi muka air tanah berubah-ubah sesuai dengan keadaan iklim tetapi dapat juga berubah karena pengaruh dari adanya kegiatan konstruksi. Di tempat itu dapat juga terjadi muka air tanah dangkal, di atas muka air tanah biasa, sedangkan kondisi dapat terjadi bila tanah dengan permeabilitas tinggi di permukaan atasnya dibatasi oleh lapisan muka air tanah setempat, tetapi berdasarkan tinggi muka air tanah pada suatu tempat lain yang lapisan atasnya tidak dibatasi oleh lapisan rapat air.
Koefisien permeabilitas terutama tergantung pada ukuran rata-rata pori yang dipengaruhi oleh distribusi ukuran partikel, bentuk partikel dan struktur tanah. Secara garis besar, makin kecil ukuran partikel, makin kecil pula ukuran pori dan makin rendah koefisien permeabilitasnya. Berarti suatu lapisan tanah berbutir kasar yang mengandung butiran-butiran halus memiliki harga k yang lebih rendah dan pada tanah ini koefisien permeabilitas merupakan fungsi angka pori. Kalau tanahnya berlapis-lapis permeabilitas untuk aliran sejajar lebih besar dari pada permeabilitas untuk aliran tegak lurus. Lapisan permeabilitas lempung yang bercelah lebih besar dari pada lempung yang tidak bercelah (unfissured).
Permeabilitas ini merupakan suatu ukuran kemudahan aliran melalui suatu media poreus. Secara kuantitatif permeabilitas diberi batasan dengan koefisien permeabilitas. Banyak peneliti telah mengkaji problema permeabilitas dan mengembangkan beberapa rumus. (Rumus Fair dan Hatch 1933) dapat dipandang sebagai sumbangan yang khas.
Permeabilitas intrinsik suatu akifer bergantung pada porositas efektif batuan dan bahan tak terkonsolidasi, dan ruang bebas yang diciptakan oleh patahan dan larutan. Porositas efektif ditentukan oleh distribusi ukuran butiran, bentuk dan kekasaran masing-masing partikel dan susunan gabungannya, tetapi karena sifat-sifat ini jarang seragam, konduktivitas hidrolik suatu akifer yang berkembang dibatasi oleh permeabilitas lapisan-lapisan atau masing-maisng zone, dan mungkin bervariasi cukup besar tergantung pada arah gerakan air.


PERWIRA RIMBA |7:16 PM
========================================================

Monday || RENUNGAN KECIL UNTUKMU...

Kemarin, anakku bertanya, Bu, "apakah hutan itu?"
Aku menerawang jauh menjelajah saat saat ku dulu, lalu aku mulai bicara kepada anakku, "Hutan adalah tempat sungai mengalir bening, tempat hewan-hewan berdiri, dan berlari"
"Tempat kumpulan tanaman dan makanan"
"Tempat dimana keteduhan dapat dicari"
"Tempat dimana dunia berkata, tolong... bersihkan aku dari polusi"
"Dimana kamu dapat bersandar dari kebisingan kota"
"Hutan adalah tempat dimana kamu dapat melihat Bapak..."

"Bapak... ?" ujar anakku.
"Seperti kita...?" tanyanya lagi.
Aku mengangguk dan berlalu ke sudut rumah baruku yang terbuat dari besi kokoh berwarna hijau...

"Bu... Tunggu dulu, aku belum puas dengan jawaban tadi", anakku melangkah tergopoh mendatangiku.
"Lalu kapan kita bisa ke hutan bu? melihat Bapak... wajah anakku tertatap polos di depanku.
Aku tersenyum kecil, "Anakku..., hutan itu hanya khayalan Ibu saja", aku mencoba berurai bijak.
"Sungai bening itu kini mengering, pohon-pohon saat ini berteriak minta tolong saat tercabut dari akar dan terpotong rapi, dan sekarang semua tidak ada lagi", aku menghela napas sesaat, "dan anakku... Hutan adalah khayalan Ibu saja...", sambungku lagi.
"Oh..., jadi hutan hanya sebuah dongeng negeri antah berantah ya bu?", ujar anakku polos.
Aku mengangguk, lalu beringsut pindah ke sudut rumah besi hijauku yang kokoh.

"Lalu Bapak bukan khayalan kan bu...?", tanya anakku yang kembali mengejar sambil bergelayut manja dipunggungku.
Aku menggeleng pelan, sambil melihat sesaat pada kulit suamiku yang terjemur rapi di atas kawat sang kolektor yang "baik hati" pada kami dan pada si Pongo kecil, yang kini lelap dipelukku.

"Mimpi indah nak... semoga dalam mimpi mu hutan indah itu muncul", bisikku membelainya.


PERWIRA RIMBA |6:25 PM
========================================================

Saturday || KEKAYAAN PULAU SUMATERA

Pulau Sumatra di Indonesia mempunyai kekayaan sumber daya alam dan keanekaragaman hayati yang luar biasa. Pulau ini merupakan bagian dari pusat keanekaragaman hayati Sundaland “Sundaland Hotspot” di Asia Tenggara, salah satu dari 25 sumber kehidupan flora dan fauna yang paling kaya sekaligus yang paling terancam di Bumi. Pusat-pusat keanekaragaman hayati ini hanya mencakup 1,4 persen dari luas planet, tapi mempunyai 60 persen keanekaragaman spesies darat. Pulau ini adalah rumah bagi lebih dari 10.000 spesies tumbuh-tumbuhan, kebanyakan berada di hutan-hutan dataran rendah. Juga merupakan satu-satunya tempat di dunia dimana gajah, badak, harimau, macan tutul, dan orangutan dapat ditemukan di tempat yang sama. Enam belas dari 210 spesies mamalia bersifat unik pada pulau ini, termasuk orangutan Sumatra, badak Sumatra, dan harimau Sumatra.
Indonesia berada di episenter krisis penggundulan hutan global. Indonesia telah kehilangan sekitar 20 juta hektar hutan dari tahun 1985 sampai 1997. Sejak itu, para pakar yakin bahwa 5 juta hektar lainnya juga telah punah, akibat merajalelanya penebangan kayu ilegal bahkan di daerah-daerah yang terlindungi. Ancaman lainnya mencakup desentralisasi; perkebunan kelapa sawit; perburuan dan perdagangan satwa liar ilegal; pembangunan jalan; pertambangan; dan konflik sipil. (CPEF 2002)

Hotspot Sundaland meliputi setengah bagian barat dari kepulauan Indonesia, yaitu suatu kelompok 17.000 pulau terhampar sepanjang 5.000 kilometer di katulistiwa dan terletak di antara benua Asia dan Australia. Hotspot ini mencakup beberapa pulau-pulau terbesar di dunia dan berbatasan dengan tiga hotspot lainnya: Wallacea di bagian timur, Indo-Burma di bagian barat, dan Filipina di bagian utara. Secara keseluruhan, keempat pusat lokasi ini merupakan satu dari dua konsentrasi terbesar keanekaragaman spesies darat dan air tawar di Bumi – sedangkan satu lagi terdapat di sebelah utara Amerika Selatan. Sundaland memiliki luas sekitar 1,6 juta kilometer persegi, didominasi oleh pulau Kalimantan dan Sumatera. Topografinya mencakup pegunungan tinggi, pegunungan berapi, daratan endapan, danau, rawa, dan pesisir pantai yang dangkal. Indonesia sendiri merupakan rumah bagi 10% jumlah spesies tumbuhan dunia, 12% dari semua mamalia, 17% dari semua burung, 16% dari semua reptil dan amfibia, dan 25% dari semua jenis ikan. Sundaland mempunyai enam daerah burung endemis, bersamaan dengan 15.000 spesies tumbuhan endemis, 139 spesies burung endemis, 115 spesies mamalia endemis, 268 spesies reptil endemis, dan 280 spesies ikan air tawar endemis. (CPEF 2001)

CPEF 2002, Pusat Lokasi Keanekaragaman Hayati Sundaland
CPEF 2001, Ekosistem hutan sumatera dalam hot spot keanekaragaman hayati sundaland


PERWIRA RIMBA |6:12 PM
========================================================

Monday || CERITA PAGI SI MAWAS

Hallo... selamat pagi dunia. Namaku mawas. Aku akrab dipanggil si orangutan. Aku punya nama latin "Pongo pygmaeus abelii" karena kebetulan aku dari Sumatera. Umurku saat ini sudah 25 tahun. Aku tinggal dalam kurungan ini sudah hampir 23 tahun. Saat umurku masih 2 tahun, Kami dikejar-kejar oleh pemburu. Ibuku telah lama mati ditembak oleh pemburu itu dan mereka membawaku kemari.


SEJAK SAAT ITU AKU HIDUP SENDIRIAN DALAM KURUNGAN INI. AKU BOSAN HIDUP DALAM KURUNGAN BESI INI. AKU INGIN BEBAS SEPERTI DULU LAGI. MAKAN DAN TINGGAL DI DALAM HUTAN TEMPAT SURGAKU.


Bila malam telah datang, Aku selalu teringat ibuku, yang mati beberapa tahun yang lalu. Sedih rasanya ditinggalkan ibu.


DULU AKU ANGGAP MANUSIA ITU BAIK. NAMUN KENYATAANNYA TIDAK DEMIKIAN. MEREKA JAHAT, MEREKA MEMBURUKU, MEMBUNUH IBUKU, DAN SAUDARA-SAUDARAKU YANG ADA DI HUTAN SANA. TIDAK HANYA ITU, MEREKA JUGA MERUSAK TEMPAT TINGGALKU.


Kini spesies kami hampir punah. di Sumatera tercatat hanya 7.200 ekor saja yang masih tersisa. Namun kini, kami merasa lega. Ada beberapa kelompok manusia kini memperhatikan kami. Kami kini punya harapan untuk hidup lebih lama lagi. Paling tidak untuk 1000 tahun yang akan datang.


"SELAMATKAN KAMI YA ...!!!! HIDUP KAMI DI TANGANMU"


PERWIRA RIMBA |6:30 PM
========================================================

Sunday || CIRI - CIRI FISIK ORANGUTAN

Tinggi :
Jantan : 120 - 150 cm; Betina 90 - 120 cm

Berat :
Jantan : 70 - 110 kg ( di alam liar ), sedangkan di karantina dapat mencapai 150 kg Betina : 40 - 60 kg

Lengan :
Panjang lengan 60 - 90 cm, atau dua per tiga dari tinggi badan

Warna Tubuh :
Warna rambut coklat kemerahan. Orangutan Sumatra jantan mempunyai warna janggut agak merah kekuningan hingga jingga

Tampilan Fisik :
Wajah : sekitar mata tidak berbulu dan mempunyai telinga yang kecil; Orangutan Sumatra bentuk wajah oval memanjang dan menyempit, seperti berlian; orangutan jantan mempunyai kantung suara yang menggelantung waktu kempis; orangutan jantan mempunyai daging pipi "cheek pad" yang akan berkembang mulai dari umur 15 - 20 tahun
Tubuh : jantan dewasa ukuran tubuhnya dua kali lebih besar dari pada betina; tubuh orangutan tinggi dengan bulu/rambut yang kusut
Lengan : tangan dan kaki kecil memanjang sesuai untuk memegang cabang-cabang pepohonan; jempol tangan dan kaki pendek


PERWIRA RIMBA |6:34 PM
========================================================

HUTAN AEK NAULI

Hutan Aek Nauli berada di Kecamatan Girsang Simpangan Bolon, Kabupaten Simalungun, Propinsi Sumatera Utara. Aksesibilitas ke lokasi ini sangat tinggi karena terletak di antara kota Parapat dan Pematangsiantar melalui jalur lintas Sumatera.

Hutan Aek Nauli terbagi dua berdasarkan komposisinya, yaitu hutan homogen dengan dominasi tegakan Pinus (Pinus merkusii), dan hutan heterogen yang disebut juga hutan alam dengan beberapa jenis tegakan.
Hutan alam Aek Nauli berada pada ketinggian 1200 mdpl. Secara geografis terletak pada 430 25' BT dan 40 89' LU. Hutan ini memiliki kelerengan 2 sampai 15% dan sebagian merupakan areal datar berbukit dan sebagian merupakan lembah dangkal. Curah hujan kawasan Aek Nauli termasuk ke dalam tipe A menurut klasifikasi Smith dan Ferguson dengan curah hujan rata-rata berkisar antara 2199,4 mm sampai dengan 2452 mm, kelembaban udara rata-rata harian 84 mmHg dan suhu rata-rata bulanan berkisar antara 23 sampai 24 0 C.

Beberapa jenis pohon yang merupakan jenis asli hutan alam Aek Nauli adalah Pinus sp., Quercus sp., Omalanthus, Lithocarpus sp., Garcinia sp., dan lain-lain.


PERWIRA RIMBA |6:01 PM
========================================================

Wednesday || "SOSIOLOGI MASYARAKAT DESA HUTAN"

Pengertian
Sosiologi merupakan suatu ilmu yang menyangkut, mempelajari dan menjelaskan prilaku manusia di dalam kelompoknya dan dalam hubungannya dengan orang atau kelompok lain dan tidak menutup kemungkinan masyarakat tersebut dapat berinteraksi dengan kondisi alam dimana dia tinggal dan kelompok masyarakat yang dimaksud adalah masyarakat desa hutan.

Tujuan
Tujuan kita mempaelajari sosiologi masyarakat desa hutan adalah :
1. Kita dapat menerangkan atau mendeskripsikan fenomena atau kejadian-kejadian tertentu yang terjadi pada masyarakat desa hutan tersebut dalam hal ini, masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan TNGL
2. Kita dapat mengetahui mengapa dan bagaimana terjadinya suatu fenomena tersebut dengan fakta dan kondisi dilapangan dengan melihat kebiasaan atau tradisi yang ada di masyarakat
3. Kita dapat mengambil kesimpulan secara nyata dan terarah pada objek yang kita amati antara kondisi sosial ekonomi masyarakat di sekitar habitat Orangutan Sumatera

Teknik atau langkah pengkajian
Langkah-langkah pengkajian sosiologi masyarakat desa hutan
1. Menentukan ide, bahkan isu atau permasalahan yang akan dikaji. Dalam hal ini masalah yang dikaji adalah pola interaksi masyarakat desa hutan dengan ekosistem hutan termasuk habitat Orangutan serta berbagai macam konflik yang terjadi antar individu dan kelompok yang ada dan dalam konteks interaksi ekonomi, sosial maupun budaya.
2. Perumusan dan identifikasi perangkat-perangkat kajian yang diperlukan, misalnya batasan, defenisi operasional, variable, sampling dan sebagainya. dan kajian kita kali ini adalah dibatasi sampai dengan pembatasan kelompok sasaran atau rtesponden dan permasalahan yang diperdalam.
3. Pengumpulan data, menggunakan teknik-teknik wawancara singkat yang efektif.
4. Analisis dan penarikan kesimpulan. dalam hal ini adalah kita diminta untuk menyimpulkan fenomena yang dikaji dan memberikan analilis serta pendapat akan alternatif-alternatif solusi (jika terdapat permasalahan) dan apabila memungkinkan dapat dilakukan tahapan pengujian-pengujian dan pembuktian akan kebenaran dari kesimpulan yang dibuat.

Ketrampilan Wawancara
Beberapa ketrampilan dasar yang harus dimiliki untuk kegiatan wawancara :
1. Kemampuan mendengar secara aktif
2. Kemampuan menyusun pertanyaan yang produktif
3. Kemampuan menggunakan bahasa tubuh dalam memeriksa empati
4. Kemampuan mengatasi halangan atau hambatan komunikasi, baik bahasa daerah dan bahasa lainnya yang kita dapat kuasai sebagai penunjang
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam melakukan pendekatan untuk wawancara
1. Pahami latar belakang responden (masyarakat) meliputi latar belakang suku, agama, adat istiadat, mata pencaharian, pola prilaku dan terutama hal-hal khusus yang ditabukan
2. Gunakan pendekatan yang paling mungkin bisa diterima oleh responden
3. Bangun persepsi positif terhadap masyarakat desa tersebut
4. Menyadari hak dan posisi kita sebagai seorang yang ingin mendapatkan data, kehadiran kita bukanlah sesuatu yang menguntungkan bagi masyarakat, bahkan sebagian kelompok merasa dirugikan.
5. Kita harus mempelajari waktu terbaik untuk wawancara, prinsipnya adalah seminimal mungkin merugikan, mengganggu aktivitas para responden.


PERWIRA RIMBA |6:09 PM
========================================================

Saturday || TINGKAT PELAPISAN HUTAN

Hutan hujan tropika Indonesia memiliki beberapa tingkat pelapisan. Populasi campuran didalamnya disusun pada arah vertical dengan jarak teratur secara tak-senambung. Meskipun ada beberapa keragaman yang perlu diperhatikan kemudian, hutan ini secara khas menampilkan tiga lapisan pohon. Lapisan pohon satu dengan lainnya diselingi oleh belukar dan tumbuhan terna.

Ewusie (1990), membagi lapisan ini dalam beberapa lapis, yaitu :
1. Lapis paling atas (tingkat-A) terdiri dari pepohon setinggi 30-45 m. Pepohonan yang muncul keluar ini mencuat tinggi di atas sudur hutan, bertajuk lebar dan umumnya tersebar dedemikian rupa sehingga tidak saling bersentuhan membentuk lapisan yang berdinambung. Bentuk tajuknya yang khas sering digunakan untuk pengenalan jenisnya dalam satu wilayah. Pepohonan yang mencuat keluar itu sering berakar dangkal dan berbanir.

2. Lapis pepohonan kedua (tingkat-B) dibawah yang mencuat tadi , adakalanya juga disebut sebagai tingkat atas, terdiri dari pepohonan sampai ketinggian sekitar 18-27 m. pepohonan ini tumbuh lebih berdekatan dan cenderung membentuk sudur yang bersinambung. Tajuk sering membulat atau memanjang dan tidak selebar seprti pohon yang mencuat.
3. Lapis pepohonan ketiga (tingkat-C), yang juga dinamakan tingkat bawah, tediri dari pepohonan yang tumbuh sampai ketinggaian sekitar 8-14 m. Pepohonan disini sering mempunyai bentuk yang beragam tetapi cenderung membentuk lapisan yang rapat, terutama ditempat yang lapisan keduanya tidak demikian.
Ketiga lapisan pohon ini juga bergabung dengan bebrapa populasi epifit, perambat dan parasit, terutama bergantung pada kebutuhan cahaya dari tumbuhan yang bersangkutan.
4. selain dari lapis pepohonan tersebut, terdapat lapis belukar yang terdiri dari spesies dengan ketinggian yang kurang dari 10 meter. Tempaknya terdapat dua bentuk belukar; yang mempunyai percabangan dekat ke tanah dan karenanya tidak mempunyai sumbu utama; dan yang menyerupai pohon kecil karena mempunyai sumbu utama yang jelas, yang sering dinmakan pohon kecil dan mencakup pohon muda dari spesies pohon yang lebih besar.
5. yang terakhir, yaitu terdapat lapis terna yang terdiri dari tumbuhan yang lebih kecil yang merupakan kecambah pohan yang lebih besar dari lapisan yang lebih atas, atau spesies terna.


PERWIRA RIMBA |6:21 PM
========================================================

Monday || SUDAH SAATNYA KITA PEDULI !!!

Bencana alam (banjir, tanah longsor, kebakaran hutan, dsb) yang melanda dan meresahkan kehidupan telah menimbulkan banyak kerugian (lenyapnya harta benda, rusaknya tempat tinggal, sampai menyebabkan hilangnya nyawa bagi manusia, ditambah lagi dengan hilangnya keanekaragaman hayati atau biodiversity dari flora dan fauna Indonesia yang terkenal kaya). Ini terjadi akibat ulah manusia sendiri yang tidak peduli kepada alamnya.

Perilaku dan aktivitas manusia yang tidak bermoral telah menggilas hutan kita yang katanya sebagai paru-paru dunia. Setiap waktu (setiap jam, menit, bahkan setiap detik) hutan kita semakin berkurang karena pembalakan, penjarahan, penebangan liar atau illegal loging, kebakaran hutan, dsb.

Akankah kita tinggal diam atas apa yang terjadi pada hutan kita ? Jangan hancurkan kehidupan kita sendiri. Jangan tunggu hingga alam ini murka. Hutan adalah penyangga kehidupan (buffer of life). Kalau bukan kita siapa lagi yang akan peduli ???


PERWIRA RIMBA |6:07 PM
========================================================

Friday || DAUR ULANG KERTAS

Bahan
Kertas (sebagai bahan buku)
Zat pepewarna (sesuai selera)
Zat pewangi (sesuai selera)
Air (secukupnya)
Kulit bawang, bunga-bunga kering serat yang sudah dihaluskan (untuk variasi kertas sesuai selera)

Alat
Ember besar 1 bh (untuk mecetak)
Ember sedang 3 bh
Blender/tumbukan
Skreen/cetakan (berbagai ukuran)
Gayung
Sponge (busa penghisa)
Alas: triplek/spnduk (tempat melatakan dan tempat pengering kertas yang sudah dicetak)
Pengepres atau setrika (untuk merapikan kertas yang sudah kering)


Cara kerja:
1. Sediakan kertas bekas yang sudah tidak digunakan, sobeklah menjadi bagian-bagian yang kecil (semakin kecil sobekan semakin bagus)

2. Rendam sobekkan kertas dalam ember sedang berisi air secukpnya minimal 4 jam, bila perendaman dilakukan lama air rendaman harus sering diganti agar tidak menimbulkan aroma yang tidak sedap (untuk lebih cepat proses penghancuran kertas bisa dengan cara merebus kertas +2 – 3 jam)

3. Haluskan kertas yang sudah direndam/direbus ( diblender/tumbuk)

4. Sisihkan kerts yang sudah halus (bubur kertas ) dalam embar sedang yang lain, bubur jangan sampai kering.

5. Siapkan air setengah ember besar, kemudian masukkan bubur kertas kedalamyan,bubur siap dicetak. Untu ukuran ketebalan tergantung pada jumlah bubur yang dimasukkan kedalam ember besar.

6. Masukkan cetakan kedalam ember besar dan saringlah bubur kertas, angkat dan tariskan setelah air tidak banyak lagi yang menetes, tempelkan kertas yang masih dalam cetakan ke alas tang sudah disediakan, hisap sisa air dangan busa hingga benar-benar kering , angkat cetakan dengan hati-hati agar kertas tidak rusak jemur hingga kering.

7. Untuk merapikan kertas bisa dengan menyetrika atau dilakukan pengepresan (tindih dengan benda berat yang rata)

8. Untuk variasi kertas bisa ditambahkan pewarna, pewangi atau bahan lainnya.

Selamat mencoba.


PERWIRA RIMBA |4:31 PM
========================================================

Sunday || DAUR FOSFOR

Fosfor sangat penting dan dibutuhkan oleh mahluk hidup tanpa adanya fosfor tidak mungkin ada organic fosfor di dalam Adenosin trifosfat (ATP) Asam Dioksiribo nukleat (DNA) dan Asam Ribonukleat(ARN) mikroorganisme membutuhkan fosfor untuk membentuk fosfor anorganik dan akan mengubahnya menjadi organic fosfor yang dibutuhkan untuk menjadi organic fosfor yang dibutuhkan, untuk metabolisme karbohidrat, lemak, dan asam nukleat.

Hewan tingkat rendah mendapatkan fosfor sebagai fosfor anorganik atau fosfor organic.

Daur fosfor terlihat akibat aliran air pada batu-batuan akan melarutkan bagian permukaan mineral termasuk fosfor akan terbawa sebagai sedimentasi ke dasar laut dan akan dikembalikan ke daratan. Burung laut mempunyai peran penting dalam proses ini, ia akan mengembalikan fosfor dalam bentuk fosfat. Perubahan dari anorganik fosfat tidak larut (insoluble) ke fosfat terlarut (soluble) merupakan aktivitas mikroorganisme yang mampu mengubah fosfor tidak larut ke fosfat terlarut dapat di ketahui dengan metoda agar dengan menambahkan glukosa dan Ca3 (PO4).


PERWIRA RIMBA |6:17 PM
========================================================

DAUR KARBON

Daur karbon merupakan bagian dari daur energi. Reaksi fotosintesis sangat esensial untuk daur karbon maupun daur energi, melalui proses fotosintesis tersebut karbon dioksida berhubungan dengan mahluk hidup. Melalui proses fotosintesisnya tumbuhan hijau berperan dalam daur karbon, karbon diubah menjadi karbohidrat dengan bantuan energi matahari dan pigmen klorofil.

Reaksi tersebut biasanya terjadi dihutan-hutan padang rumput dan juga dirumput laut dilautan. Dalam daur karbon,karbon dioksida dibutuhkan tumbuhan yang kemudian akan dikonsumsi hewan, ikan dan manusia untuk kebutuhan sel dan energi. Dalam bentuk karbon dioksida dikembalikan kealam, bila hewan atau tumbuhan tersebut .mati akibat kerja mikroorganisme karbon akan dikembalikan kebumi.

Sumber utama karbon untuk mahluk hidup ada di udara. Dalam bentuk karbondioksida jumlahnya kira-kira 0,03 % dari volume. CO2 diudara akan difiksasi ke dalam jaringan hidup melalui fotoautotrof tanaman dan ganggang.

Pada kondisi anaerob karbondioksida direduksi menjadi (CH4) oleh mikroorganisme Bakteri Methylococcus maupun mengoksidasi methan menjadi karbon. Aspek penting lain dari daur karbon adalahreaksi non biologi yaitu pertukaran antara karbon dioksida dan bikarbonat yang umumnya terjadi dalam perairan pada kondisi tertentu karbonat akan berpresipitasi dengan membentuk batu kapur (lime stone).


PERWIRA RIMBA |6:15 PM
========================================================

Saturday || PERKEMBANGAN KONSERVASI DI INDONESIA

Perubahan sosial dalam peradaban manusia dari masyarakat primitif menjadi masyarakat agraris dan kemudian menjadi masyarakat industrialis, telah memaksa eksploitasi Sumber Daya Alam (SDA) secara besar-besaran diseluruh belahan bumi. Eksploitasi SDA yang terjadi tersebut banyak mengorbankan hutan tropis dunia yang memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi.
"Sumber Daya Alam itu sendiri dapat dibedakan menjadi dua, yaitu: SDA yang dapat diperbaharui atau dapat diisi kembali dan tidak akan habis (renewable resources); dan SDA yang tidak dapat diperbaharui atau tidak dapat dipulihkan kembali sebagaimana keadaan semula (non-renewable resources)."
Indonesia merupakan salah satu negara tropis dengan penutupan kawasan hutan yang sangat luas dan menyimpan potensi SDA yang sangat berlimpah. Hutan Indonesia merupakan paru-paru dunia yang mampu menyerap berjuta-juta ton gas beracun (CO, CO2, H2, dll) dan menghasilkan oksigen yang sangat melimpah bagi kebutuhan semua mahluk hidup di bumi. Hal ini dapat terjadi karena Hutan Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang sangat besar (mega biodiversity). Menurut Anonymous (1997), selain Indonesia negara tropis lain yang juga memiliki keanekaragaman hayati yang sangat besar adalah Brazilia, Zaire dan Meksiko.

Hutan tropis Indonesia selama lebih dari setengah abad telah dikuras secara besar-besaran demi satu kata pembangunan untuk terciptanya kesejahteraan masyarakat. Namun sayangnya kegiatan eksploitasi SDA yang tujuan awalnya untuk mensejahterakan masyarakat ini, pada kenyataannya tidak menerapkan asas kelestarian dan manajemen yang ramah lingkungan, sehingga bukannya mensejahterakan malah menimbulkan bencana yang sangat merugikan kehidupan masyarakat, terutama masyarakat sekitar hutan. Hilangnya keanekaragaman hayati dan timbulnya bencana alam berupa banjir, tanah longsor dan gempa bumi merupakan konsekuensi yang harus diterima akibat pengelolan alam dan lingkungan hidup yang tidak berasaskan kelestarian.
Selain pengelolaan hutan dan kehutanan yang salah, tidak dilibatkannya masyarakat dalam hal pengambilan keputusan dan kegiatan pengelolaan hutan juga merupakan salah satu masalah yang dapat menghambat terciptanya pembangunan atas nama kesejahteraan yang telah mengorbankan berjuta-juta hektar hutan tropis Indonesia. Peran serta aktif masyarakat, terutama masyarakat sekitar hutan, sangat diperlukan agar dapat menciptakan eksploitasi SDA yang terkontrol dan mampu menghasilkan nilai tambah bagi masyarakat untuk kesejahteraan. Tanpa dilibatkannya masyarakat secara aktif dalam kegiatan pengelolaan hutan, maka kerusakan hutan Indonesia akan semakin menjadi-jadi dan suatu saat nanti bencana yang amat sangat dahsyat akan membuka mata kita, akan salah dan tamaknya cara yang kita lakukan untuk mengeksploitasi SDA.
Selama ini pola dan konsep kegiatan eksploitasi yang dilakukan di negara ini hanya memandang kebutuhan manusia Indonesia yang ada sekarang. Padahal seharusnya semua kegiatan pengelolaan yang dilakukan dalam pemanfaatan SDA dan lingkungan hidup adalah untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia saat ini dan menjamin terpenuhinya kebutuhan dan kelangsungan hidup generasi yang akan datang. Hal ini merupakan asas kelestarian yang lebih popular dengan istilah SFM (Sustainable Forest Management). Pengelolaan yang demikian juga sejalan dengan istilah konservasi.
Melihat kenyataan yang bukan sekedar fenomena, namun merupakan realitas dari pemaparan di atas, maka sudah saatnya seluruh komponen bangsa Indonesia berprilaku arif dalam memandang kesinambungan kehidupan di bumi dan mampu memperbaiki kondisi alam khususnya hutan dan segala isinya, dengan semangat dan jiwa baru yaitu semangat dan jiwa konservasi. Konservasi mutlak diperlukan jika manusia masih ingin menghirup udara bersih, meminum air dari sumber air yang bersih dan menikmati pemandangan alam yang sangat luar biasa.


Konservasi dan Ruang Lingkupnya

Berbagai dampak negatif yang harus ditanggung oleh manusia akibat tindakan eksploitatif yang berlebihan, akhirnya baru disadari ketika semuanya telah terjadi. Kesadaran akan dampak buruk dari tindakan eksploitatif ini akhirnya memunculkan gerakan perlawanan berupa perlindungan yang mengarah pada pengawetan (preservation) terhadap sisa-sisa hutan alam.
Di satu sisi, pemanfaatan SDA hayati dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan hidup (ekonomis) manusia, namun di sisi lain diperlukan eksistensi sumber daya tersebut demi keberlanjutan hidup (ekologis) dan pemanfaatannya, sehingga terjadi tarik-menarik antara kepentingan pengawetan dan pemanfaatan sumber daya alam. Hal inilah yang kemudian memunculkan gerakan konservasi di seluruh belahan bumi.
Konservasi merupakan pengelolaan kehidupan alam yang dilakukan oleh manusia guna memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya secara berkelanjutan bagi generasi saat ini, serta memelihara potensinya guna menjamin aspirasi dan kebutuhan generasi yang akan datang. Konservasi bernilai sangat positif jika mampu diterapkan dalam pengelolaan alam dan lingkungan hidup. Konservasi mencakup kegiatan pengawetan, perlindungan, pemanfaatan yang berkelanjutan, pemulihan dan peningkatan kualitas alam dan lingkungan hidup.
Indonesia mendeklarasikan strategi konservasinya berdasarkan pada strategi konservasi dunia yang dikeluarkan oleh IUCN (1980). Strategi tersebut tertuang dalam Undang-Undang No. 5 Tahun 1990. Pokok-pokok strategi konservasi Indonesia tersebut adalah : Perlindungan sistem penyangga kehidupan; Pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya; dan pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.
Berdasarkan Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, kawasan konservasi terdiri atas kawasan Suaka Alam yang terbagi menjadi Cagar Alam dan Suaka Margasatwa dan kawasan Pelestarian Alam yang terdiri dari Taman Nasional, Taman Hutan Raya dan Taman Wisata Alam.

Kegunaan Kawasan Konservasi
Kawasan Suaka Alam
Kawasan ini penting bagi bangsa Indonesia agar dapat menjamin :
- Terpeliharanya terus-menerus contoh hutan alami penting yang dapat dianggap mewakili
- Terjaganya keanekaragaman biologi dan fisik
- Tetap lestarinya keanekaragaman hayati
Kawasan Pelestarian Alam
Disadari atau tidak, kawasan pelestarian alam sangat besar sumbangannya bagi kelangsungan pembangunan dalam hal :
- Memelihara stabilitas lingkungan wilayah sekitarnya, sehingga mengurangi intensitas banjir dan kekeringan, melindungi tanah dari erosi serta mengurangi iklim ekstrim setempat
- Memelihara kapasitas produktif ekosistem, sehingga menjamin tersedianya air serta produksi tumbuhan dan hewan secara terus menerus
- Menyediakan kesempatan bagi kelangsungan penelitian dan pemantauan spesies maupun ekosistem alami serta kaitannya dengan pembangunan manusia
- Menyediakan kesempatan bagi terselenggaranya pendidikan pelestarian untuk masyarakat umum dan para pengambil keputusan
- Menyediakan kesempatan bagi terlaksananya pembangunan pedesaan yang saling mengisi serta pemanfaatan secara rasional tanah-tanah marjinal
- Menyediakan lokasi bagi pengembangan rekreasi dan wisata (BKSDA SU II, 2002)
Melihat sangat banyaknya kegunaan dari sedikit kawasan konservasi yang tersisa, maka tidak ada alasan yang mengharuskan kita sebagai mahluk yang memiliki derajat paling tinggi di mata Tuhan untuk mengabaikan dan bahkan mencoba menghancurkan sisa-sisa kawasan hutan Indonesia. Peran serta kita sebagai masyarakat harus kita pupuk untuk menjamin keutuhan ciptaan Tuhan yang akan berpangkal pada kelestarian alam dan lingkungan hidup di bumi yang kita cintai ini.

Peranan Aktif Masyarakat

Segala macam kegiatan yang dilakukan dalam hal pemanfaatan alam dan hasil-hasilnya selalu bertujuan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Untuk menciptakan kemakmuran tersebut, maka masyarakat sudah seharusnya dilibatkan agar memiliki senses of belonging terhadap lingkungan alamnya. Dalam Bab III dan IV Undang-Undang No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, posisi masyarakat sudah sangat jelas dengan pengaturan hak, kewajiban dan peran sertanya. Dalam Bab X UU No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan juga telah diatur bagaimana seharusnya peran serta masyarakat dalam bidang kehutanan.
Namun sayangnya sampai saat ini masyarakat belum bisa mengambil peranannya sesuai dengan kebijakan yang berlaku. Hal ini terjadi karena dalam prakteknya kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah tidak memfasilitasi masyarakat untuk dapat berperan serta dalam semua aspek pengelolaan SDA dan lingkungan hidup. Sudah menjadi kenyataan bahwa masyarakat cenderung sebagai penonton dan bisa juga sebagai korban dari eksploitasi SDA yang berlangsung di lingkungannya.
Jika hal ini tidak segera dibenahi oleh pemerintahan baru periode 2004-2009 yang akan datang, maka dikhawatirkan bangsa Indonesia akan sangat serius menghadapi masalah perpecahan bangsa akibat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah yang sudah berada pada level paling bawah sehingga mengakibatkan tidak adanya sense of belonging terhadap bangsa dan negara Indonesia.
Sudah sangat banyak konsep pengelolaan SDA yang berasaskan kelestarian ditawarkan oleh para ahli yang kompeten di bidang ini. Tinggal bagaimana pemerintah sebagai aparatur negara mau untuk merobah kesalahan kebudayaan pemerintah yang bercirikan top-bottom menjadi bottom-top dalam pembuatan dan pelaksanaan suatu kebijakan pengelolaan SDA dan Lingkungan Hidup.

Penutup

Manusia sudah mulai merubah kondisi lingkungan bumi sejak beratus-ratus tahun yang lalu. Pada permulaan zaman sejarah, manusia menggunakan alat-alat sederhana untuk berburu dan berkumpul, dan kemudian menggunakan alat yang lebih kompleks ketika sumber daya alam bisa dieksplotasi. Akhirnya terjadi kepunahan suatu tumbuhan, hewan dan bahan mineral yang terkandung di dalam bumi akibat tindakan eksploitasi yang berlebihan dan tidak memperhatikan kondisi perubahan alam yang akan terjadi setelah tindakan eksploitasi selesai dilakukan.
Satu petuah bijak dari para pendahulu kita mungkin bisa sedikit mengetuk hati nurani bangsa yang kondisi alamnya semakin hari semakin parah ini. "Manusia bisa menaklukkan kehendak siapa saja yang ada di bumi ini, namun manusia tidak bisa menaklukkan kehendak Tuhan dan menaklukkan kehendak alam". Demikianlah kira-kira kata-kata bijak para pendahulu kita yang telah terlebih dahulu mengenal alam ini. Sedikit kalimat tersebut adalah kepedulian dari generasi sebelum kita untuk dapat meyakinkan kita bahwa bersahabat dengan alam itu sangat indah dan sangat mulia. Itu merupakan warisan berharga yang merupakan anugerah jika kita dapat memaknainya lebih mendalam. Pertanyaannya sekarang adalah : "Apa yang akan kita wariskan kepada generasi setelah kita…?"







ACUAN PUSTAKA

Balai Konservasi Sumberdaya Alam Sumatera Utara II. 2002. Buku Informasi Kawasan Konservasi di Sumatera Utara. BKSDA SU II, Medan

Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya

Undang-Undang No. 23 Tahun 1997 Tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup

Undang-Undang No. 41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan

Zain, S.A. 1998. Aspek Pembinaan Kawasan Hutan dan Stratifikasi Hutan Rakyat. Rineka Cipta, Jakarta


PERWIRA RIMBA |9:54 PM
========================================================

Friday || PENGALAMAN PERTAMAKU KE TANAH RENCONG

Minggu subuh tepat pukul 03.45 WIB Aku berangkat dari sekretariat LSM tempat aku menjadi Volunteer bersama dengan rombongan relawan lainnya dari WALHI SU yang datang untuk menjemput kami. Kami menumpangi 2 buah truk tronton besar berukuran 10 roda yang juga membawa bantuan-bantaun sembako, pakaian bekas, peralatan sholat, dsb untuk para pengungsi di Banda Aceh.

Sebelum berangkat Aku sempat berdoa kepada Tuhan di dalam kamar kantor tempat aku menjadi relawan. Aku khawatir karena aku seorang Kristen. Aku bertanya didalam hati... Mampukah aku beradaptasi dengan orang2 disana yang katanya sangat fanatik dan mampukan mereka menerimaku sebagai seorang Kristen...???

Selain kekhawatiran tersebut, aku juga khawatir dengan apa yang sering orang bilang GAM. Bagaiman nanti diperjalanan ya...??? (batinku dalam hati).

Namun dengan pasti aku melangkah dan berangkat dengan satu tekad. Aku akan melakukan apa yang bisa aku lakukan untuk saudara2ku di Banda Aceh.

Perjalanan berlangsung dengan lancar. Sejak masuk perbatasan Aceh dan Sumut, belum tampak akibat dari bencana alam terdahsyat sepanjang abad ini. Setelah melewati Kabupaten Bireun, mulai tampak puing2 rumah yang hancur akibat gelombang tsunami. Jalan2 juga ada yang hancur karena gempa.

Setibanya di Ibukota Provinsi NAD, malam sudah menjelang. Aku langsung berkenalan dan bercengkrama dengan para relawan dan koordinator posko PASe yang menjadi teman dan tempat berlindungku selama menjadi relawan di Banda Aceh. Mereka kebanyakan berasal dari Medan dan ada beberapa yang merupakan relawan lokal. Mereka semua sangat bersahabat. Thanks God, kekhawatiranku mulai luntur.

Setelah lelah bercerita kami pun beristirahat menuju peraduan.


PERWIRA RIMBA |12:22 AM
========================================================

Wednesday || MANFAAT HUTAN KOTA

Hutan kota memberikan banyak sekali manfaat bagi kelestarian lingkungan kota. Hutan kota sangat diperlukan bagi semua penghuni kota. Setiap manusia yang habitatnya di perkotaan pasti akan mendapatkan banyak manfaat jika di kota tempat habitatnya tersebut memiliki hutan kota. Ada pun manfaat yang bisa dirasakan dalam kehidupan masyarakat perkotaan dari pembangunan hutan kota, antara lain :
1. Manfaat estetis. Warna hijau dan aneka bentuk dedaunan serta bentuk susunan tajuk berpadu menjadi suatu pemandangan yang indah dan menyejukkan.

2. Manfaat hidrologis. Struktur akar tanaman mampu menyerap kelebihan air apabila turun hujan sehingga tidak mengalir sia-sia melainkan dapat diserap tanah.

3. Manfaat klimatologis. Iklim yang sehat dan normal penting untuk keselarasan hidup manusia. Efek rumah kaca akan dikurangi dengan banyaknya tanaman dalam suatu daerah. Bahkan adanya tanaman akan menambah kesejukan dan kenyamanan lingkungan.

4. Manfaat ekologis. Keserasian lingkungan bukan hanya baik untuk satwa, tanaman, atau manusia saja. Kehidupan makhluk di alam ini saling ketergantungan. Apabila salah satunya musnah maka kehidupan makhluk lainnya akan terganggu.
5. Manfaat protektif. Pohon dapat menjadi pelindung dari teriknya matahari, terpaan angin kencang dan peredam dari suara bising.

6. Manfaat higienis. Dengan adanya tanaman, bahaya polusi mampu dikurangi karena dedaunan tanaman mampu menyaring debu dan mengisap kotoran di udara. Bahkan tanaman mampu menghasilkan oksigen yang sangat dibutuhkan manusia.

7. Manfaat edukatif. Semakin langkanya pepohonan yang hidup di perkotaan membuat sebagian warganya tidak mengenalnya lagi. Karena langkanya pepohonan tersebut maka generasi manusia yang akan datang yang hidup dan dibesarkan di perkotaan seolah tidak mengenal lagi sosok tanaman yang pernah ada. Sehingga penanaman kembali pepohonan di perkotaan dapat bermanfaat sebagai laboratorium alam.


PERWIRA RIMBA |11:34 PM
========================================================

KIRAB ALAM

Rumput yang kian menguning.
Di bawah langkah khalifah bumi.
Karena disirani panas oleh surya.
Dan karena sang awan.
Enggan menangis sedetik saja.


Manusiapun jadi herbivora besar.
Yang memakan tubuh hijau sang rumput.
Menggerogoti kaki tangan mereka.
Yang telah engan hidup.


Manusiapun kian jadi saingan hewan.
Yang menggerogoti rumput hijau.
Hingga hewanpun kian tak berdaya.
Karena mere kahalifah.


Manusia... Manusia.
Kadang mereka menghabiskan makanannya.
Dia khalifah tapi tak tau.
Menghargai seekor hewan
Dan serumpun rumput yang menangis karnanya.


Mereka menatapnya dengan mata mereka
Mengutuk dengan hati mereka.
Dan mencaci manusia.
Dengan lidah tak berbahasanya.


Tubuh dan nyawa mereka.
Jadi sasaran peluru senapan.
Yang kian menjadi pencabut nyewa lara mereka.


Rumput dan hewan
Maafkan aku yang tak manpu
Merubah takdir gelapmu.
Dan tak mampu menjadi khalifah bagi dirimu.


PERWIRA RIMBA |4:46 PM
========================================================

Sunday || PENGENALAN EKOSISTEM HUTAN

A. Latar Belakang
Makhluk hidup dalam perkembangan dan pertumbuhannya tidak dapat hidup sendiri, selalu memerlukan makhluk lainnya dalam menjalani hidup dan kehidupannya. Antara makhluk yang satu dengan makhluk yang lain selalu berhubungan dan mengadakan kontak yang saling menguntungkan. Tetapi ada juga sebagian kecil mahkluk hidup yang selalu merugikan makhluk lain, biasanya makhluk ini disebut dengan parasit.
Ekologi adalah kajian mengenai interaksi timbal-balik jasad individu, di antara dan di dalam populasi spesies yang sama, atau di antara komunitas populasi yag berbeda-beda dan berbagai faktor non hidup (abiotik) yang banyak jumlahnya yang merupakan lingkungan yang efektif tempat hidup jasad, populasi atau komunitas itu. Lingkungan efektif itu mencakup kesemberautan pada interaksi antara jasad hidup itu sendiri. Kaji ekologi itu memungkinkan kita memahami komunitas itu secara keseluruhan. Guna memastikan kenyataan ini, perlu kiranya diadakan berbagai percobaan di lapangan, di laboratorium atau di kedua lingkungan itu sekaligus (Ewusie, 1990).
Adapun ekologi sendiri mencakup suatu keterkaitan antara segenap unsur lingkungan hidup yang saling mempengaruhi, sepeti tumbuhan dan sinar matahari, tanah dengan air, yang pada umumnya dikatakan sebagai hukum alam yang berimbang dan biasa disebut ekosisitem. Komponen-komponen dalam ekosistem telah dikelolah oleh alam dan mereka saling berinteraksi. Ada komponen yang bersifat netral, bekerjasama, menyesuaikan diri, bertentangan bahkan saling menguasai. Akan tetapi pada akhirnya antara kekuatan-kekuatan tersebut terjadi keseimbangan (Arief, 1994).
Untuk mengetahui keterkaitan atau interaksi antara komponen abiotik dengan biotik serta hubungan antara kedua komponen tersebut maka percobaan ini layak dilakukan, karena untuk mengetahui hubungan antara kedua komponen tersebut butuh suatu pengamatan di lapangan. Dalam pengamatan yang dilakukan, ekosisitem yang diamati itu ada dua tempat yaitu padang rumput dan hutan. Dari kedua ekosistem ini akan dihasilkan data-data mengenai jenis-jenis spesies yang ada pada kedua ekosisitem dan dari data yang ada dapat diketahui perbedaan spesies, keanekaragaman spesies, jumlah spesies, peranan dari masing-masing spesies yang nantinya berkaitan dengan jaring-jaring makanan atau food web yang ada pada ekosistem itu serta dari data yang ada dapat dibuat piramida jumlah spesiesnya berdasarkan peranannya masing-masing. Jika semua komponen tersebut sudah di dapat atau diketahui maka dapat diketahui perbedaan dari kedua ekosistem tersebut, dan mengapa hal itu terjadi serta apa penyebabnya. Hal ini nantinya dikaitkan dengan keadaan dari masing-masing ekosistem yang diamati.
Satu ciri mendasar pada ekosistem adalah bahwa ekosistem itu bukahlah suatu sistem yang tertutup, tetapi terbuka dan daripadanya energi dan zat terus-menerus keluar dan digantikan agar sistem itu terus berjalan. Sejauh yang berkenaan dengan struktur, ekosistem secara khas mempunyai tiga komponen biologi, yaitu; produsen (jasad autotrof) atau tumbuhan hijau yang mampu menambat energi cahaya; hewan (jasad heterotrof) atau kosumen makro yang menggunakan bahan organik; dan pengurai, yang terdiri dari jasad renik yang menguraikan bahan organik dan membebaskan zat hara terlarut (Ewusie, 1990).
B. Pembahasan

Setelah diadakannya pengamatan pada kedua ekosistem yaitu padang rumput dan hutan ternyata organisme-organisme yang mendiami ekosistem, baik ekosistem padang rumput ataupun ekosistem hutan pada umumnya sama pada setiap sub petak yang diamati dan diukur, dimana tanaman antar sub plot pada padang rumput sama, jika pada sub plot satu terdapat rumput kawat maka pada pada sub plot lain juga terdapat spesies yang sama, begitu halnya dengan ekosistem hutan.
Komponen–komponen pembentuk ekosistem dari masing-masing ekosistem itu berbeda-beda, hal ini ditunjukkan dengan jenis-jenis organisme dan komponen abiotik dari kedua ekosistem tersebut yang juga berbeda, dimana suhu pada kedua tempat tersebut masing-masing untuk hutan sebesar 31 oC sedangkan pada padang rumput sebesar 34 oC. perbedaan iklim ini disebabkan karena hutan seperti yang diketahui dapat menciptakan iklim mikro sedangkan pada padang rumput cahaya matahari langsung menyinari areal sehingga suhunya lebih tinggi daripada hutan.
Padang Rumput
Padang rumput adalah salah satu jenis ekosistem yang memiliki stratifikasi yang sederhana yaitu hanya terdiri dari satu strata, tetapi walaupun demikian padang rumput ini memiliki keragaman spesies yang tinggi.
Pada padang rumput spesies yang paling banyak ditemui adalah jenis jotang (Spilanthes iabadicensis) dan rumput-rumputan yang salah satunya adalah famili Cyperaceae, sedangkan hewan yang paling banyak adalah semut dan pacat. Komponen-komponen yang terdapat pada ekosistem ini adalah produsen yang jenisnya dapat dilihat pada hasil, konsumen tingkat I yaitu kupu-kupu, capung, belalang ; konsumen tingkat II yaitu semut, pacat, keong ; konsumen tingkat tiga katak. Dari piramida jumlah dan food web, dapat dilihat secara langsung hubungan dari masing-masing individu dan bagaimana perpindahan energi yang terjadi.
Pada ekosistem ini jumlah yang paling banyak ditemui adalah jenis jotang (Spilanthes iabadicensis), hal ini karena karakteristik dari jotang itu sendiri memungkinkan untuk dapat bertahan hidup di daerah tersebut, seperti yang diungkapkan oleh Maradjo (1987) bahwa jotang tumbuhnya di daerah yang banyak mengandung air, tumbuh di daerah dataran rendah sampai pegunungan pada ketinggian 1000 mdpl. Tumbuhan jotang berkambangbiak dengan biji, biji tumbuhan ini ringan sehingga dapat di bawa terbang oleh angin kemana-mana. Bila biji tersebut jatuh ke tanah maka tumbuhnya biji menjadi tumbuhan baru tinggal menunggu waktu saja. Biasanya tumbuhan ini menyukai tempat yang lembab, seperti pematang sawah. Di tempat inilah jotang tumbuh serta berkembang dengan cepat.
Pada kawasan pengamatan yang dilaksanakan memang benar bahwa tempat itu mengandung banyak air sehingga hal itu mendukung hidupnya tanaman jotang ini disitu serta hal lain yang mendukungnya adalah kelembaban dari kawasan itu yang juga agak lembab karena kandungan air yang agak banyak.
Untuk hewan, pada ekosistem ini yang paling banyak adalah semut, sebagaimana yang telah diketahui bahwa semut itu dapat hidup dimana saja tanpa memandang tempat, seperti di hutan, rawa, pegunungan, hewan ini juga dapat ditemui, dengan kata lain dapat dikatakan bahwa semut juga merupakan hewan yang mempunyai toleransi tinggi terhadap lingkungan tempat tinggalnya.
Hutan
Komponen-komponen ekosistem yang ada pada hutan ini adalah mulai dari tingkat produsen yaitu semua jenis tanaman heterotrof yang ada, tingkat konsumen I yaitu belalang, kupu-kupu, ulat dan capung. Konsumen II terdiri dari semut, nyamuk dan pacat.
Dari tabel hasil yang sudah ada dapat dilihat jenis spesies yang ada pada ekosistem ini, dimana jenis tumbuhannya sangat beranekaragam dari tingkat stratum yaitu mulai dari strata A sampai dengan strata tumbuhan bawah tanah seperti perdu atau semak. Dari sini dapat dilihat bahwa persaingan yang terjadi pada ekosistem ini sangat tinggi terutama dalam memperoleh sinar matahari, karena jumlah produsen pada ekosistem ini sangat banyak dan masing-masing pasti membutuhkan intensitas cahaya yang berbeda sesuai dengan kebutuhan.
Menurut Michael (1995) bahwa bilamana sejumlah organisme bergantung pada sumber yang sama, persaingan akan terjadi. Persaingan demikian dapat terjadi antara anggota-anggota spesies yang berbeda (persaingan interspesifik) atau antara organisme yang sama (persaingan intraspesifik). Persaingan dapat terjadi dalam makanan atau ruang. Persaingan interspesifik yang dapat terjadi pada ekosistem ini dapat dilihat dari food web yang terjadi yaitu antara nyamuk dengan pacat, dimana mereka sama-sama bersaing dalam memakan dengan kata lain menghisap darah manusia. Sedangkan untuk yang intraspesifik yaitu antara produsen itu sendiri dalam memperoleh sinar matahari, antara hewan yang satu dengan hewan yang lain dalam satu jenis seperti belalang dengan belalang dalam memperoleh tanaman muda yang dapat untuk dimakan.
Hewan yang paling banyak ditemui pada tempat ini adalah semut, hal ini dikarenakan sifat dari semut itu sendiri yang dapat hidup dimana saja.
Perbandingan antara ekosistem hutan dan ekosistem padang rumput
Dari data yang telah diperoleh maka keanekaragaman jenis pada kedua ekosistem dapat dilihat perbedaannya dari jumlah spesies masing-masing, ekosistem hutan adalah yang paling beranekaragam jenisnya hutan, dimana pada ekosistem hutan jenis spesiesnya ada 20 jenis sedangkan pada padang rumput jenis spesiesnya ada 16 jenis. Hal ini berlawanan dengan pendapat Reso (1989) yang mengatakan bahwa meskipun padang rumput ini hanya ada satu stratum, tetapi keanekaragaman jenis mungkin tinggi jika dibandingkan dengan kebanyakan hutan. Perbedaan pendapat ini mungkin terjadi karena praktikum yang dilakukan itu menggunakan lahan yang kurang representatif atau kurang mewakili. Jika lahan yang diamati tersebut representatif maka benarlah apa yang dikatakan oleh Reso (1992) tersebut.
Keragaman jenis ini sangat mempengaruhi pertumbuhan dari komunitas atau individu yang ada di dalamnya serta dapat menjadi pembeda antara ekosistem yang satu dengan yang lainnya. Menurut Michael (1995) bahwa keragaman spesies dapat diambil untuk menandai jumlah spesies dalam suatu daerah tertentu atau sebagai jumlah spesies diantara jumlah total individu dari seluruh spesies yang ada. Hubugan ini dapat dinyatakan secara numerik sebagai indeks keragaman. Jumlah spesies di dalam suatu komunitas adalah penting dari segi ekologi karena keragaman spesies tampaknya bertambah bila komunitas menjadi makin stabil.
Jika dilihat dari jenis maka banyak terdapat perbedaan antara jenis spesies yang ada pada padang rumput dengan hutan, diantaranya pada pengamatan di hutan tidak terdapat satupun rumput teki sedangkan pada padang rumput spesies ini adalah salah satu jenis yang paling dominan ditemui, hal ini disebabkan karena karakteristik dari rumput teki itu sendiri adalah tidak tahan akan naungan atau termasuk jenis tanaman yang intoleran. Sehingga rumput ini tidak dapat hidup di hutan karena pada hutan penutupan kanopinya sangat rapat sehingga cahaya matahari tidak dapat langsung mengenai lapisan bawah. Sedangkan pada padang rumput matahari dapat secara langsung sampai pada lapisan yang paling bawah sehingga rumput teki dapat hidup dan berkembangbiak dengan cepat serta hal lain yang mendukung perkembang biakannya ini menurut Maradjo (1987) adalah karena sifatnya yang liar itu, tumbuhan teki dapat tumbuh serta teki dapat tumbuh baik disegala macam tanah, ia tidak memilih tanah baik di daerah dataran rendah maupun di daerah dataran tinggi atau pegunungan sampai ketinggian 1000 mdpl.
Pada hutan jenis spesies yang paling banyak tumbuh adalah tanaman suplir hal ini disebabkan karena menurut Maradjo (1987) bahwa daerah penyebaran meliputi daerah yang beriklim tropis dan mempunyai curah hujan yang cukup pada ketinggian 30 – 2800 mdpl. Merupakan jenis tanaman liar yang hidup menahun. Tempat tumbuhnya meliputi daerah-daerah di dalam hutan, di dalam jurang atau di tepi tebing, di pinggir-pinggir kali atau sungai, seringkali membentuk suatu hutan yang rapat, terutama pada daerah-daerah yang mempunyai curah hujan yang banyak. Dengan melihat ciri-ciri dari suplir ini dapat dikatakan bahwa suplir hidup pada daerah yang kelembabannya tinggi atau membutuhkan naungan seperti didalam hutan, sehingga hal ini menyebabkan tanaman ini tidak dapat hidup pada daerah padang rumput yang penuh dengan cahaya matahari.
Untuk hewan pada masing-masing tempat itu tidak jauh berbeda seperti semut adalah jenis spesies yang paling banyak ditemui pada kedua ekosistem hal ini disebabkan karena ciri-ciri dari hewan itu sendiri menurut Borror, et.al (1992) bahwa semut ini adalah suatu kelompok yang sangat umum dan menyebar luas, terkenal bagi semua orang. Semut-semut itu barang kali yang paling sukses dari semua kelompok-kelompok serangga. Mereka praktis terdapat dimana-mana di habitat darat dan juga jumlah individunya melebihi kebanyakan hewan darat lainnya.
Perbedaan diantara ekosistem ini juga dapat diakibatkan oleh pengaruh faktor abiotik dari daerah tersebut, dimana menurut Guslim (1996) bahwa perbedaan antara ekosistem itu terjadi karena adanya :
1. perbedaan kondisi iklim (hutan hujan tropis, hutan musim, hutan savana)
2. letak di atas permukaan laut, topografi dan formasi geologi (zonasi pada pegunungan, lereng pegunungan yang curam, lembah sungai, formasi lava dan sebagainya)
3. kondisi tanah dan air tanah (misalnya pasir, lempung, basah, kering)
Suhu juga merupakan faktor penyebab terjadinya perbedaan dari ekositem yang satu dengan yang lainnya, seperti yang diungkapkan oleh Ismail (2001) bahwa suhu merupakan ekologi yang sangat menetukan dam mempengaruhi kehidupan organisme, termasuk tumbuhan. Pertumbuhan dan penyebaran tumbuhan sering dibatasi oleh suhu. Umumnya tumbuhan akan dapat mempertahankan kehidupan dengan aktifitas pertumbuhan yang normal pada kisaran suhu antara 10 o C sampai 40 o C.
Dalam piramida jumlah dari kedua ekosistem ditemukan kerancuan dimana jumlah komponen konsumen I lebih sedikit daripada konsumen II, padahal kenyataan yang sering dijumpai dan yang telah dipelajari bahwa jumlah dari masing-masing komponen itu harus seimbang antara yang satu dengan yang lainnya agar kehidupan dari tiap organisme itu dapat stabil.
Menurut Reso (1989) bahwa piramida ekologi memberikan gambaran kasar tentang efek hubungan rantai pangan untuk kelompok ekologi secara menyeluruh. Populasi dan bobot organisme yang dapat ditunjang pada setiap tinggkat tropik dan setiap situasi tergantung pada banyaknya energi yang ditambah pada setiap waktu dalam tingkat trofik yang lebih banyak dan kecepatan produksi makanan.
Dalam setiap ekosistem pasti terdapat rantai makanan antara organisme yang satu dengan yang lainnya dalam perpindahan energi. Menurut Reso (1989) bahwa rantai pangan adalah pengalihan energi dari sumbernya dalam tumbuhan melalui sederetan organisme yang memakan dan yang dimakan. Semakin pendek rantai pangan ini semakin dekat jarak antara organisme pada permulaan dan organisme pada ujung rantai dan semakin besar pula energi yang disimpan. Rantai ini tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi saling berkaitan yang satu dengan yang lainnya sehingga membentuk jaring-jaring pangan/makanan.

Dari jaring makanan yang telah di dapat bahwa pada padang rumput itu perpindahan energi yang terjadi yaitu dari produsen -> konsumen I -> konsumen II -> konsumen III -> pengurai, pada hutan jaringan makanan yang terjadi adalah dari produsen -> konsumen I -> konsumen II -> pengurai. Menurut Guslim (1996) sebagian besar pengurai adalah mewakili bakeri dan jamur yang menguraikan ikatan kompleks protoplasma yang mati sambil menyerap beberapa pengurai dan melepaskan zat sederhana yang kembali ke ekosistem untuk selanjutnya dapat dipakai oleh produsen.
*Disarikan dari Laporan Praktikum Ekologi Hutan


PERWIRA RIMBA |4:23 PM
========================================================

Thursday || KASIH IBU

Pada suatu sore, seorang anak menghampiri ibunya di dapur yg sedang menyiapkan makan malam dan ia menyerahkan selembar kertas yg selesai ditulisinya.
Setelah ibunya mengeringkan tangannya dgn celemek, ia membacanya dan inilah tulisan si anak :
- Utk memotong rumput minggu ini Rp.7500
- Utk membersihkan kamar minggu ini Rp.5000
- Utk pergi ke toko menggantikan mama Rp.10000
- Utk menjaga adik waktu mama belanja Rp.15000
- Utk membuang sampah setiap hari Rp.5000
- Utk nilai rapor yg bagus Rp.25000
- Utk membersihkan & menyapu halaman Rp.12500
Jadi total jumlah utang ibu = Rp. 80.000,00
Si ibu memandang anaknya yg berdiri di situ dgn penuh harap dan berbagai kenangan terlintas dlm pikiran ibu itu.
Kemudian ia mengambil pulpen, membalikkan kertasnya dan menulis :
- Utk 9bln ketika mama mengandung kamu selama kamu tumbuh dalam perut mama = GRATIS
- Utk semua malam ketika mama menemani kamu, mengobati kamu dan mendoakan kamu = GRATIS
- Utk semua saat susah dan semua air mata yg kamu sebabkan selama ini = GRATIS
- Utk semua malam yg dipenuhi rasa takut dan utk rasa cemas di waktu yg akan datang = GRATIS
- Utk mainan, makanan, baju dan juga menyeka hidungmu = GRATIS... dan anakku, kalau kamu menjumlahkan semuanya, harga cinta sejati mama = GRATIS
Setelah selesai membaca apa yg ditulis ibunya, ia menatap wajah ibunya dan berkata :
"Ma, aku sayang sekali pada Mama"
Kemudian ia mengambil pulpen dan menulis dgn huruf besar-besar : "LUNAS"
Apakah menurutmu ini cerita yg indah ?
Jika ya sebarkan cerita ini pada semua teman2mu agar mereka juga membaca cerita ini dan dapat lebih menghargai orang2 yg telah berjasa pada mereka...


PERWIRA RIMBA |1:54 AM
========================================================

Wednesday || HUTAN ALAM MANGROVE BANDAR KALIPAH

Hutan mangrove Bandar Kalipah berada didesa kayu besar kecamatan bandar Khalipah, kabupaten Serdang Bedagai. Daerah dengan luas lebih kurang 1475 Ha dengan jumlah penduduk lebih kurang 3678 jiwa, dengan suku-suku yang mendominasi Batak, Jawa, Melayu dan status hutan adalah hutan negara.

Derah ini memiliki batas - batas wilayah tertentu yang telah ditetapkan oleh pemerintah yaitu:
Batas timur : Medang Deras dengan Kab. Asahan
Batas Barat : Kec. Tanjung Beringin dengan Kab. Deli Serdang
Batas Utara : Selat Malaka dengan Desa Pekan Bandar Khalipah
Batas selatan : Desa juhar
Kawasan hutan mangrove yang ada terbagi dalam dua bentuk yaitu hutan tanaman dan hutan alam dengan luas hutan alam lebih kukrang 438 Ha dan luas hutan tanaman lebih kurang 138 Ha. Kegiatan penanaman dilakukan oleh kelompok tani masyarakat setempat. Kelompok tani yang ada yaitu Bela Nusa, Bajayu-B, Selancar Satu dan Selancar Dua.
Lokasi hutan manggrove berada pada ketinggian 1-3 mdpl, untuk jenis-jenis yang dominan di hutan manggrove ini adalah Rhizopora apiculata untuk hutan alam dan jenis api-api (Avicennia sp) untuk hutan tanaman. Secara khusus sebagian besar hutan bakau atau hutan manggrove terdiri dari Rhizopora apiculata dan Rhizopora mucronata. Demikian halnya dengan hutan mangrove yang ada di desa kayu besar terdiri dari jenis-jenis yang tersebut di atas yang masih sangat muda dimana 70 % kawasan adalah areal permudaan antara 7-8 tahun dan 30 %-nya adalah hutan alami sehingga secara umum jika di lihat dari komposisi tegakan masih didominasi oleh jenis pioner yang ada juga terdiri dari Avicennia yang berasosiasi dengan Sonneratia spp dan Nypa fructicans. Untuk sistem pengelolaan hutan manggrove, rencana pengelolaan ke depan adalah dengan menggunakan sistem empang parit, dengan tujuan selain mendapatkan kayu juga mendapatkan hutan, dalam sistem ini juga diusahakan agar semua jenis tidak bersifat dominansi.
Hutan manggrove adalah daerah asuhan yang sangat penting dan habitat bagi berbagai organisme laut, termasuk jenis yang tinggi nilai ekonominya seperti ikan dan udang. Hutan manggrove di Desa Bandar Khalipah banyak yang digunakan sebagi daerah tambak oleh penduduk sekitar maupun oleh penduduk dari luar desa. Indonesia memiliki hutan menggrove yang terluas di dunia yang diperkirakan luas kawasannya 3.806.119 ha dengan sebaran terluas terdapat di propinsi Irian Jaya. Ada 5 faktor yang mempengaruhi zonansi manggrove di kawasan pantai tertentu antara lain :

1. gelombang; yang menentukan frekuansi tergenang
2. Salinitas; yang berkaitan dengan hubungan osmosis manggrove
3. Substrat; yang berkaitan dengan struktur tanah
4. Pengaruh darat seperti aliran air masuk dan rembesan air tawar
5. Keterbukaan terhadap gelombang yang menentukan jumlah substrat yang dapat dimanfaatkan.
Kawasan hutan manggrove Bandar Khalipah memiliki tipe air pasang semi diurnal atau air pasang dua kali sehari yaitu dua kali pasang naik dan dua kali pasang surut yang terjadi pada pagi dan sore hari.


PERWIRA RIMBA |4:20 PM
========================================================

Tuesday || MEMAHAMI BERATNYA TANTANGAN TUGAS RIMBAWAN

Indonesia dikenal sebagai salah satu negara yang mempunyai hutan tropika terbesar didunia yang diakui sebagai komunitas yang paling kaya akan keanekaragaman (mega biodiversity) species flora dan fauna di dunia. Hutan bukan hanya sekedar sumber daya yang menabung dan mengembangkan informasi genetik yang tak ternilai. Kehadirannya saja sudah memberikan fungsi yang sangat penting, yang menjadi penentu bagi perlindungan ruang hidup manusia dan bagi perekonomian.
Perusakan alam, erosi tanah dan berkurangnya air merupakan tiga akibat yang saling berkaitan erat yang ditimbulkan oleh campur tangan manusia terhadap alam. Masalah ini disebabkan oleh penebangan hutan dan bentuk-bentuk pengrusakan hutan lainnya.
Bertambahnya penduduk dunia dan semakin meningkatnya standar kehidupan manusia menyebabkan semakin meningkat pula kebutuhan akan air dan keperluan untuk rumah tangga dan industri. Akibatnya sumber daya alam akan semakin terkuras oleh tindakan –tindakan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Masalah ini adalah masalah global yang hanya akan terpecahkan dengan jalan mempertahankan keseimbangan alam bila keadaannya masih utuh, atau memulihkan keadaannya apabila sudah rusak.
Saat ini, masalah hutan makin lama makin berkembang sebagai objek yang kontroversial. Di satu sisi, hutan harus dimanfaatkan untuk menunjang pembangunan, dan disisi yang lain harus diselamatkan demi kelestariannya. Ini merupakan dilema yang cukup berat bagi para rimbawan. Rimbawan harus bisa memilih, antara menitik beratkan pengelolaan hutan pada hasil/bidang usaha yang dapat menciptakan lapangan kerja dengan konsekuensi hutan akan rusak dan akan semakin banyak timbul bencana alam, atau pengelolaan hutan yang menitikberatkan pada kelestarian dan penyelamatan serta perlindungan kawasan yang meliputi flora dan fauna, ekosistem dan perlindungan terhadap plasma nutfah serta pengembang-biakan berbagai jenis flora dan fauna langka, dengan konsekuensi lapangan pekerjaan akan semakin sempit karena sedikitnya usaha yang bergerak di bidang kehutanan. Jadi, rimbawan dituntut untuk dapat memanfaatkan hasil hutan sebanyak-banyaknya tetapi tetap menjaga hutan dengan sebaik-baiknya agar tercipta konsep/prinsip kelestarian (Sustainable Yield Principle) sehingga dapat diperoleh atau dicapai Multiple Use Concept, yaitu manfaat ganda hutan yang dapat diperoleh secara langsung, yaitu secara ekonomi berupa hasil hutan baik kayu ataupun hasil hutan non kayu, dan secara tidak langsung, yaitu berupa pengaturan tata air, ekowisata, penghasil keanekaragaman flora dan fauna yang sangat tinggi, dan lain-lain.
Manusia sebagai faktor penyebab perubahan harus mendapat perhatian yang khusus, karena berhasil tidaknya kelestarian hutan ditentukan sejauh mana keadaan masyarakat dapat diperbaiki. Untuk prioritas pembangunan seyogianya tidak semata-mata didasarkan pada kemampuan dan kemungkinan untuk memberikan hasil dalam waktu yang singkat. Namun, posisi dan perannya dalam hubungan timbal balik dengan bidang lain harus diperhatikan, terutama dari segi ekologis
Sekarang ini lebih dari setengah hutan tropis di dunia telah dihancurkan dan diubah untuk memenuhi kebutuhan manusia. Kerusakan itu disebabkan oleh praktek illegal logging dan illegal trade, perambahanan hutan, kebakaran hutan yang selalu berulang, penegakan hukum yang belum optimal, serta pengelolaan hutan yang belum menerapkan prinsip kelestarian (Sustainable Yield Principle).
Fenomena kerusakan lingkungan hidup itu tentu membuat kita prihatin. Apalagi belakangan ini tampak ada paradoks dalam masalah lingkungan kita, dimana banyak tersebarnya informasi, wacana dan kajian tentang penyelamatan lingkungan, tetapi ternyata semakin parah pula kerusakan lingkungan yang kian terjadi. Akhirnya, tidak dapat dielakkan lagi, kita dikepung oleh situasi yang penuh ironi. Lingkungan kian mengalami degradasi ditengah-tengah kian ramainya orang berbicara tentang penyelamatan lingkungan.
Semua kondisi diatas menjadi tantangan dan tugas yang berat bagi rimbawan. Sekali lagi, posisi rimbawan sangat dilematis. Rimbawan harus siap untuk dicaci maki ketika bencana alam terjadi meskipun itu bukan hasil pekerjaannya. Sebaliknya, rimbawan siap pula ditentang atau berhadapan dengan berbagai pihak/komponen masyarakat termasuk kalangan pejabat baik sipil maupun militer manakala melarang upaya pengrusakan kawasan hutan. Semua tantangan itu tidak menyurutkan semangat juang rimbawan untuk menyelamatkam dan melestarikan alam demi kehidupan umat manusia.

Referensi
Arief, A,.2001.Hutan dan Kehutanan. Penerbit Kanisius. Yogyakarta
Arifin. 1999. Hakikat Kehutanan.


PERWIRA RIMBA |4:35 PM
========================================================


:jeritan rimba raya:

Teringat puluhan tahun silam, Negeriku penuh dengan hutan rimba. Setiap jengkalnya ada rahmat Tuhan, ada kedamaian, ada kebahagiaan, untuk manusia dan untuk semua mahluk hidup yang ada di dalamnya.

Rimbaku adalah paru-paru dunia, berikan udara segar tanpa pernah minta dibayar. Berikan ribuan liter air bersih dengan rasa kasih. Berikan tanah subur, agar hidup kita jadi makmur. Berikan semua yang dia punya kepada kita manusia, tanpa pernah mengharap bintang balas jasa.

Namun beberapa waktu kemudian keadaan telah berubah. Disana-sini terjadi keserakahan. Ada orang-orang tidak bertanggung jawab ingin kuasai dunia dan menghalalkan segala macam cara. Hutan-hutan dibabat dan dibumihanguskan, hewan-hewan dibinasakan, diburu dan dipenjarakan.

Setiap detik, setiap menit, setiap detak jantung dan denyut nadiku, kudengar ribuan pohon dalam hutanku bertumbangan, menggelegar bagaikan suara petir, pecahkan gendang telingaku. Suara gergaji mesin nyanyikan nada-nada kepunahan, untuk bangsa-bangsa satwaku. Mereka berlari, mereka menjerit, mereka ketakutan. Namun kemana mereka akan pergi...?. Mungkinkah mereka bersembunyi dalam jurang kepunahan di sana...?

Lihat...! Coba kita lihat... Saksikan tanah-tanah tandus dan gersang itu. Itu dahulu adalah surga satwaku. Namun kini, surga itu terganti oleh kebun-kebun sawit yang kering kerontang. Tak ada sungai mengalir di sana. Pohon-pohon rindang di sana, telah lama jadi tunggul-tunggul arang yang hitam. Diam, dan tak akan pernah berbisik lagi.

:about me:


  • Name: Mulyadi Pasaribu
  • A.K.A.: Adi, Moel, MP3
  • Birth: Jakarta, Dec 3rd 1982
  • Religion: Christian
  • Hobbies: Attempting New Things
  • Personality: Friendly & Active
  • Affiliation: Youth Movement & Conservation
  • :contact:

  • Address 1: Jl. Karya Wisata Medan 20143, Sumatera Utara
  • Address 2: Jl. Medan Km. 6 No. 68 Pematang Siantar 21143, Sumatera Utara
  • Mobile: +62 81 533 737 533
  • Campus: Forestry Department - University of North Sumatra
  • e-mail: co_rimba@yahoo.com
  • mIRC: co-rimba
  • Friendster: Rimbawan Kecil
  • Milis: sylva_indonesia & id-inform
  • :latest activity:

    Volunteer for Sumatran Orangutan Society-Orangutan Information Centre (SOS-OIC) Medan, North Sumatra

    Ketua GMKI Komisariat Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara

    Koordinator Kelompok Kerja Informasi dan Komunikasi Tim Riset Partisipatif GMKI Cabang Medan

    Koordinator Sylva Indonesia Forum Regional I Aceh-Sumut

    :blooming:

    :past:

    :links 2 me:

    [X] Friendster Profile
    [X] Friendster Blogs
    [X] GuestBook
    [X] Forums

    :links:

    [X] Youth Christian
    [X] Environment
    [X] Orangutan
    [X] Sylva Indonesia

    Youth in Action

    Solidaritas untuk anak Indonesia

    Support Green Peace





    :tagboard:

    :credits:

    Powered by Blogger

    [X] Blogger
    [X] BlogSkins
    [X] Clone

    Listed on BlogShares

    :others:

     

    ASAH OTAK

     

    Topik :

     

    Nama

    Taman Nasional

    di Indonesia